1 Mei, Juz 1

Bismillah.

Tanggal merah hari ini, May Day.Ratusan ribu buruh datang dari berbagai daerah, presiden naik ke panggung dan mendengarkan langsung. Yang disampaikan pimpinan serikat bukan hal baru: pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, daycare di kawasan industri, pesangon dan THR yang tidak dipajaki, sampai potongan aplikasi ojol yang diminta turun jadi sepuluh persen. Salah satu pimpinan serikat berharap tahun depan undang-undangnya sudah disahkan. Bahasanya sopan, isinya tagihan.

Hari ini aku mulai kembali Juz 1. Setelah bulan lalu full membahas Bani Israel, bulan ini aku mau menggeser lensa tadabburku ke arah Sirah Nabawiyah.

Aku banyak menemukan ayat Al-Qur’an yang asbabun nuzul-nya ternyata potongan sirah, peristiwa yang betul-betul terjadi. Artinya Al-Qur’an itu merespons kejadian. Ia tidak turun sekaligus sebagai buku yang sudah dijilid rapi, tapi bertahap mengikuti apa yang sedang dialami Nabi dan para sahabat.

Contohnya:

  • Ketika Nabi berada di titik terendah pada Tahun Kesedihan, Allah menghibur beliau dengan menurunkan Ahsanul Qashash tentang Nabi Yusuf.
  • Ketika umat Islam diejek kaum musyrik Quraisy karena Kekaisaran Romawi kalah oleh Persia, turun ayat yang menubuatkan kemenangan balasan Romawi.
  • Urusan mendobrak tradisi jahiliah pun ditempuh lewat perintah yang sangat personal, yaitu pernikahan Nabi dengan Zainab binti Jahsy, mantan istri anak angkat beliau.

Kepingan seperti ini sayang kalau tidak dikumpulkan. Jadi bulan ini aku buat serinya. Satu catatan: karena aku mengikuti urutan juz dari 1 sampai 30, catatan sejarahnya tidak akan berurutan secara kronologis. Pasti meloncat antara periode Makkah dan Madinah.

Di Juz 1 ada tiga peristiwa yang terekam.

Munculnya Kemunafikan di Madinah (2 H)

Setelah kemenangan gemilang di Perang Badar, peta kekuatan berubah drastis. Tokoh lokal seperti Abdullah bin Ubay kehilangan panggung, dan dari situ muncul kelompok duri dalam daging. Taktik mereka direkam dalam QS. Al-Baqarah ayat 14:

Wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa, wa idzaa khalau ilaa syayaathiinihim qaaluu innaa ma’akum innamaa nahnu mustahzi’uun.

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.'”

Mereka mengklaim iman palsu demi keamanan politik, tapi di belakang layar sibuk menyebarkan propaganda kerusakan dan memelihara loyalitas ganda dengan Yahudi.

Friksi Awal dengan Yahudi Madinah (1-2 H)

Di saat yang sama, gesekan sosial-politik dengan kaum Yahudi memanas. Tabiat mereka direkam dalam QS. Al-Baqarah ayat 100:

Awa kullamaa ‘aahaduu ‘ahdan nabadzahu fariiqum minhum, bal aktsaruhum laa yu’minuun.

“Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman.”

Mereka mengingkari kebenaran Islam karena kedengkian, dan punya hobi merusak perjanjian damai yang sudah disepakati bersama Rasulullah SAW.

Hudaibiyyah, Fathu Makkah, dan Perintah yang Sudah Ditulis Lebih Dulu

Tahun 6 H, Nabi SAW berangkat dari Madinah bersama sekitar seribu empat ratus sahabat untuk umrah. Mereka tidak membawa perlengkapan perang. Rombongan dihadang Quraisy di Hudaibiyyah, di pinggiran Makkah. Nabi memilih jalur perundingan, dan lahirlah perjanjian yang isinya terasa berat sebelah: umrah tahun itu dibatalkan dan baru boleh dilakukan tahun berikutnya, gencatan senjata sepuluh tahun, dan orang Makkah yang lari ke Madinah harus dipulangkan sementara sebaliknya tidak berlaku. Umar bin Khattab sampai protes langsung ke Nabi karena merasa umat Islam sedang direndahkan.

Tapi gencatan senjata itu membuka ruang dakwah damai ke seluruh semenanjung Arab. Dua tahun kemudian Quraisy melanggar isi perjanjian. Nabi masuk Makkah membawa sepuluh ribu pasukan, hampir tanpa perlawanan, dan 360 berhala dibersihkan dari Ka’bah.

Ternyata perintah membersihkan Ka’bah itu sudah tercatat jauh sebelumnya, di Juz 1, QS. Al-Baqarah ayat 125:

…wa ‘ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa’iila an thahhiraa baitiya lith thaa’ifiina wal ‘aakifiina war rukka’is sujuud.

“…dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!'”

Ayat itu bicara tentang Ibrahim dan Ismail, tapi turun di Madinah, saat umat Islam masih sibuk mengurus gesekan di dalam rumah sendiri dan belum punya kuasa apa pun atas Makkah. Perintahnya sudah ada, pelaksanaannya baru enam tahun kemudian.

Dari Juz 1 paling tidak ada 3 hikmah. Kemenangan besar tidak otomatis membuat urusan di dalam rumah selesai. Janji yang sudah diikat memang untuk ditepati, bukan untuk ditagih. Dan sebuah perintah bisa turun jauh sebelum kita punya kemampuan menjalankannya.

Terakhir, tentang janji, aku mungkin punya beberapa yang menggantung. Aku harus punya waktu untuk mengingat apa yang aku janjikan ke tim, ke anak-anakku, ke istriku, ke orang lain, yang belum aku tepati. Semoga bisa menunaikan, insyaAllah.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News