A collection of tech gadgets including a game controller, camera, smartphone, watch, and earphones on a fabric surface.
|

Berhala yang Tidak Kelihatan

Tanggal publish: 15 Mei 2025

Kategori: Tambah Dekat > Tadabbur Harian

Tag: Sirah Nabawiyah, Renungan Diriismillah.

Ada sebuah pola dalam sejarah para nabi yang sangat menarik perhatianku.

Ketika Nabi Isa a.s. berada di titik paling berbahaya, dikhianati, diburu, dan hendak dibunuh oleh orang-orang yang seharusnya menerima ajarannya, Allah mengangkatnya:

Bal rafa’ahullaahu ilaihi, wa kaanallaahu ‘aziizaan hakiimaa.

“Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(QS. An-Nisa: 158)

Bumi menolak. Langit menerima.

Pola yang sama terulang pada Rasulullah SAW. Di titik paling gelap dalam perjalanan dakwahnya, Khadijah baru wafat, Abu Thalib baru tiada, Tha’if baru menolak dengan lemparan batu, Allah mengangkat beliau dalam peristiwa Isra Mi’raj. Bukan ke langit pertama. Tapi ke Sidratul Muntaha, tempat yang tidak pernah dijangkau oleh makhluk mana pun sebelumnya.

Di saat bumi terasa paling sempit, Allah membukakan ruang yang paling luas.

Seolah ada sunnatullah yang sangat konsisten: ketika manusia menolak hamba-Nya yang berpegang pada kebenaran, langit justru memuliakannya. Validasi tertinggi tidak pernah datang dari manusia.


Dan kemudian datanglah Fathu Makkah.

Rasulullah SAW yang pernah diusir dari kampung halamannya, kembali sebagai pemenang. Tapi hal pertama yang beliau lakukan bukan duduk di singgasana kekuasaan. Bukan menghitung hasil kemenangan. Beliau langsung menuju Ka’bah, dan satu per satu, 360 berhala yang selama ini bercokol di sekelilingnya dihancurkan sambil membaca:

Wa qul jaa-al haqqu wa zahaqal baathil, innal baathila kaana zahuuqaa.

“Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”

(QS. Al-Isra: 81)

Ini mengajariku sesuatu yang sangat dalam. Kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya soal menaklukkan musuh di luar. Ada musuh yang jauh lebih dekat dan jauh lebih berbahaya, yaitu berhala-berhala yang diam-diam tumbuh di dalam diri kita sendiri.


Di zaman ini, berhala tidak lagi terbuat dari batu dan kayu. Ia tidak berdiri di sudut ruangan dan tidak kelihatan oleh mata. Ia hidup di dalam keinginan-keinginan yang perlahan menguasai hati. Kesenangan duniawi yang awalnya hanya singgah, lama-lama menjadi tuan. Kenyamanan yang awalnya hanya pelengkap, perlahan menjadi tujuan.

Dan yang paling berbahaya, berhala-berhala ini tidak datang dengan wajah yang menakutkan. Ia datang dengan wajah yang sangat menyenangkan.

Rasulullah SAW tidak membiarkan satu pun berhala tersisa di sekitar Ka’bah. Ia dihancurkan semuanya, tuntas, tanpa kompromi.

Pertanyaannya kemudian kembali kepadaku: sudahkah aku serius menghancurkan berhala-berhala dalam diriku? Atau aku masih membiarkan sebagian dari mereka tetap berdiri karena terlalu nyaman untuk diruntuhkan?

Kisah Nabi Isa, Isra Mi’raj, dan Fathu Makkah menyimpan satu pesan yang sama. Pengangkatan selalu mendahului kemenangan. Dan kemenangan yang paling bermakna selalu dimulai dari dalam.

Wallahu a’lam.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *