8 Juli · Juz 8

Ada kebiasaan curang yang begitu lama dibiarkan, sampai dianggap sebagai bagian normal dari cara berdagang, bukan lagi dosa yang harus diakui. Itulah yang terjadi pada kaum Madyan, sampai Allah mengutus Nabi Syu’aib untuk menegur mereka.

Ayat 85 membuka dengan penegasan Syu’aib, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya.” Perhatikan urutannya, tauhid disebut lebih dulu, baru soal timbangan. Seolah menegaskan, kecurangan dagang itu bukan cuma soal etika bisnis, tapi soal keimanan yang bocor.

Ayat 86 melanjutkan dengan larangan duduk di setiap jalan untuk menakut-nakuti dan menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah, serta mengingatkan mereka pernah sedikit jumlahnya, lalu Allah memperbanyak mereka. Ayat 87 ditutup dengan ajakan bersabar sampai Allah memberi keputusan, karena Dia sebaik-baik pemberi keputusan.

The Swiss Cheese Model menjelaskan bahwa kesalahan besar biasanya lolos bukan karena satu penyebab tunggal, tetapi karena beberapa lapisan pertahanan sama-sama memiliki celah, lalu celah-celah itu kebetulan berbaris lurus. Tiga situasi berbeda berikut menunjukkan tiga cara berbeda pula lapisan pertahanan itu bisa bocor.

Lawan arus berjamaah menunjukkan lubang yang membesar karena dibiarkan tanpa penegakan. Awalnya cuma motor, dianggap kesalahan kecil, tidak ditindak. Begitu dibiarkan cukup lama, keberanian melanggar ikut membesar, sampai truk trailer pun berani mengambil jalur yang sama. Yang lebih memprihatinkan, ketika ditegur, respons yang muncul justru sikap seolah menjadi jagoan, bukan malu atau introspeksi. Ini persis seperti kecurangan kaum Madyan yang sudah dianggap wajar, bahkan siap melawan siapa pun yang mengingatkan.

Compliance training dan Speak Up menunjukkan sistem yang justru berhasil menutup lubangnya. Ada mekanisme rutin untuk mengingatkan batas, dan ada saluran pelaporan yang benar-benar berfungsi, sampai seorang pemimpin puncak bisa mundur karena pelanggaran serius. Ini contoh lapisan pertahanan yang bekerja sebagaimana mestinya. Lubang di satu titik berhasil ditutup lapisan lain sebelum sempat berbaris menjadi kerusakan yang lebih luas.

Pengawasan melekat (waskat) di pemerintahan menunjukkan lubang yang bocor bukan karena sistemnya salah sejak awal, tetapi karena tidak dirawat. Konsepnya baik, tetapi kalau dibiarkan tidak diperbarui, dan pelaksanaannya cenderung tajam ke bawah, tumpul ke atas, maka lapisan pertahanan itu sebenarnya sudah berlubang besar sejak awal. Hanya saja, kerusakannya belum terlihat sampai suatu saat semua celah itu kebetulan sejajar.

Tiga contoh ini menunjukkan bahwa yang membedakan sistem yang bertahan dan sistem yang bobol bukan soal ada atau tidaknya aturan. Ketiganya sama-sama memiliki aturan. Yang membedakan adalah apakah setiap lapisan benar-benar dijaga tetap rapat, dirawat, dan ditegakkan tanpa pandang bulu, atau justru dibiarkan berlubang karena merasa celah-celah itu tidak akan pernah bertemu.

Pola yang sama juga ditegur Nabi Syu’aib kepada kaumnya. Kecurangan timbangan itu bertahan lama bukan karena tidak ada yang tahu bahwa itu salah, melainkan karena tidak ada yang menutup celahnya. Bahkan ada yang aktif menjaga celah itu tetap terbuka, seperti disebut pada ayat 86, duduk di jalan-jalan untuk menghalangi orang yang ingin berbuat jujur.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News