7 Juli · Juz 7
Ibrahim muda hidup di tengah kaum yang menyembah berhala, termasuk ayahnya sendiri, Azar. Ia menegur ayahnya secara terang-terangan, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Dari titik itu, Al-Qur’an membawa kita masuk ke proses pencariannya sendiri, bukan lewat wahyu langsung di awal, tetapi lewat observasi.
Ketika malam mulai gelap, Ibrahim melihat sebuah bintang, lalu berkata, “Inilah Tuhanku.” Tapi begitu bintang itu tenggelam, ia berkata, “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.” Ia mencoba lagi ketika melihat bulan terbit dengan cahayanya yang lebih besar, “Inilah Tuhanku.” Tapi bulan itu juga tenggelam, dan ia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Ketika matahari terbit, tampak lebih besar dan lebih terang dari keduanya, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Tapi begitu matahari itu juga terbenam, ia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Ia lalu menyatakan telah menghadapkan wajahnya kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan ia bukan termasuk orang-orang yang musyrik.
The Black Swan Model dalam The Decision Book menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa di luar dugaan bisa mematahkan asumsi yang selama ini dianggap kokoh, lalu memaksa seseorang merevisi total cara berpikirnya. Model ini populer dipakai untuk menjelaskan krisis finansial atau penemuan yang mengubah paradigma, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil, sampai akhirnya benar-benar terjadi.
Tiga kali dalam kisah ini, Ibrahim mengalami semacam Black Swan versinya sendiri. Setiap kali ia menetapkan hipotesis—bintang, lalu bulan, lalu matahari—masing-masing runtuh oleh kejadian yang sebenarnya sudah pasti terjadi setiap hari: terbenam. Bedanya dengan Black Swan dalam pengertian modern yang biasanya berkaitan dengan peristiwa langka dan tidak terduga, kejutan yang dialami Ibrahim justru datang dari sesuatu yang sangat biasa dan berulang. Ia tidak membutuhkan kejadian aneh untuk menyadari kekeliruannya; ia cukup jujur memperhatikan pola yang selalu ada di depan matanya setiap malam.
Yang membuat pencarian ini berbeda dari sekadar proses trial and error biasa, setiap hipotesis yang gugur tidak membuat Ibrahim berhenti mencari atau menyerah pada keraguan. Ia justru menaikkan standar pembuktiannya sendiri, dari benda yang kecil ke yang lebih besar, sampai akhirnya menyadari bahwa ukuran dan terang sebuah benda tidak ada hubungannya dengan kelayakannya untuk disembah, karena semuanya sama-sama tunduk pada hukum yang sama: terbit dan tenggelam. Kesimpulannya bukan datang dari benda yang paling meyakinkan, melainkan dari pola yang paling konsisten. Segala sesuatu yang bisa hilang tidak pantas dijadikan sandaran yang kekal.
Wallahu a’lam.
