Gelisah Itu Tanda Bertanggung Jawab (Ivan Choo : 2026)
Bismillah.
Aku orang yang mudah gelisah.
Kalau ada jadwal presentasi, gelisah. Kalau ada meeting penting, gelisah. Kalau ada keputusan besar yang harus diambil, gelisah. Sudah tahu materinya, sudah siap, tapi tetap saja ada rasa tidak nyaman yang menempel dari malam sebelumnya sampai momen itu benar-benar berlalu.
Suatu kali aku ceritakan ini kepada kawanku, Ivan Choo. Jawabannya singkat tapi langsung menghiburku:
“Gelisah itu tandanya kamu bertanggung jawab.”
MasyaAllah. Kalimat itu menetap lama di kepalaku.
Tapi ada satu tempat di mana aku bisa membawa gelisah itu lebih jauh dari sekadar curhat kepada kawan. Bukan kepada atasan. Bukan kepada tim. Kepada Allah.
Dan setiap kali aku melakukannya, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia selalu menjawab. Ia selalu menguatkan. Tidak selalu dengan cara yang aku minta, tapi selalu dengan cara yang aku butuhkan.
Di Juz 16, ada sebuah kisah yang sangat menggetarkan tentang jeda yang mengubah segalanya.
Umar bin Khattab adalah salah satu musuh Islam yang paling keras dan paling ditakuti di Makkah. Tubuhnya besar, wataknya garang, dan tekadnya untuk menghancurkan dakwah Rasulullah SAW sudah bulat. Pada suatu hari, ia keluar rumah dengan pedang terhunus, berniat membunuh Nabi.
Di tengah jalan, ia mendapat kabar bahwa adik perempuannya, Fathimah, telah memeluk Islam. Kemarahannya semakin membara. Ia membelokkan langkah menuju rumah adiknya.
Sampai di sana, ia mendengar sesuatu. Suara bacaan yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia masuk, merebut lembaran yang sedang dibaca, dan mulai membacanya sendiri.
Itu adalah awal Surat Thaha. Dan Allah menurunkan firman-Nya tepat di juz ini:
Thaahaa. Maa anzalnaa ‘alaikal qur’aana litasyqaa.
“Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah.”
Sesuatu runtuh di dalam dada Umar saat itu.
Bukan karena ada yang mendebatnya. Bukan karena ada yang meyakinkannya dengan argumen panjang. Tapi karena ia mengambil jeda. Berhenti sejenak dari kebisingan amarahnya sendiri. Dan di dalam keheningan itu, firman Allah masuk dan meruntuhkan seluruh benteng kesombongannya.
Umar yang keluar dari rumah adiknya hari itu adalah Umar yang berbeda. Ia langsung menuju Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya. Salah satu musuh terbesar Islam berubah menjadi salah satu pembela terkuatnya, hanya karena satu momen jeda yang ia pilih.
Aku merenung lama dengan kisah ini.
Gelisahku sebelum presentasi, sebelum meeting penting, sebelum keputusan besar, mungkin bukan kelemahan yang harus aku sembunyikan. Mungkin itu adalah undangan. Undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk persiapan, dan membawa semua itu kepada Yang Maha Mendengar.
Umar tidak mencari ketenangan dengan cara manusia. Ia tidak perlu seminar motivasi atau sesi konseling. Ia hanya berhenti, membaca, dan membiarkan firman Allah bekerja.
Dan aku, setiap kali membawa gelisahku kepada Allah, selalu merasakan hal yang sama. Ia menjawab. Ia menguatkan. Dengan cara-Nya sendiri.
Mungkin itulah makna terdalam dari ayat pembuka Surat Thaha. Al-Qur’an tidak diturunkan untuk membuatmu sengsara dalam menanggung beban. Ia diturunkan agar kamu tahu ke mana membawa beban itu.
Wallahu a’lam.