Diam, Taat, dan Biarkan Allah yang Membuktikan
Bismillah.
Hari ini aku bertolak ke Malaysia.
Misi yang menungguku di sana adalah membantu tim Singapura dan Malaysia dalam transformasi layanan After Sales Service. Sebuah peran yang, kalau aku jujur, tidak pernah aku bayangkan akan sampai sejauh ini.
Empat atau lima tahun lalu, aku diarahkan oleh leaderku untuk berpindah peran. Ke sebuah posisi yang, di mata banyak orang, mungkin terlihat seperti penurunan. Bukan promosi. Bukan sorotan. Justru sebaliknya.
Saat itu ada suara-suara di sekitarku. Tidak selalu keras, tapi cukup terdengar. Ada yang meremehkan. Ada yang mempertanyakan. Ada yang mungkin menunggu aku gagal.
Aku memilih diam. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena aku percaya bahwa membuktikan sesuatu kepada manusia adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Selalu ada standar baru yang mereka pasang, selalu ada celah baru yang mereka cari.
Maka aku fokus pada satu hal: menjalankan amanah yang ada di depanku sebaik mungkin.
Di Juz 19, ada dua hal yang saling melengkapi.
Yang pertama, Allah menceritakan tentang para penyair yang dikerahkan kaum Quraisy untuk menjatuhkan Rasulullah SAW. Mereka adalah buzzer zaman itu, merangkai narasi palsu, memancing emosi publik, dan melabeli Nabi dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan. Terekam dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 224-226:
Wasy-syu’araa-u yattabi’uhumul ghaawuun. Alam tara annahum fii kulli waadin yaahimuun. Wa annahum yaquuluuna maa laa yaf’aluun.
“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah. Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak kerjakan.”
Rasulullah SAW tidak menghabiskan energi untuk menepis setiap tuduhan mereka satu per satu. Beliau terus berjalan. Terus berdakwah. Terus bekerja. Dan membiarkan hasil yang menjawab semuanya.
Yang kedua, Allah memberikan panduan karakter bagi mereka yang hidup di tengah kebisingan seperti itu. Di Surat Al-Furqan ayat 63, Allah memperkenalkan sosok yang disebut Ibadurrahman, hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih:
Wa ibaadur rahmaanil ladziina yamsyuuna alal ardhi haunaw wa idzaa khaathabahumul jaahiluuna qaaluu salaamaa.
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan salam keselamatan.”
Dua kata yang sangat dalam: yamsyuuna haunan. Berjalan dengan ringan, tenang, tidak perlu membuktikan diri kepada siapa pun.
Dan ketika orang-orang jahil menyapa dengan hinaan, mereka tidak membalas. Mereka cukup berkata salam, lalu melanjutkan langkah.
Empat atau lima tahun berlalu.
Hari ini aku di Malaysia, berkontribusi lebih dari yang pernah aku bayangkan saat pertama kali menerima peran yang diremehkan itu.
Bukan karena aku hebat. Tapi karena aku memilih taat, memilih diam dari kebisingan yang tidak perlu, dan membiarkan Allah yang membuktikan.
Juz 19 mengingatkanku bahwa meladeni provokasi hanya menguras energi yang seharusnya dipakai untuk hal yang lebih besar. Ibadurrahman tidak sibuk membela diri. Mereka sibuk berjalan.
Dan perjalanan itu, pelan tapi pasti, selalu membawa mereka lebih jauh dari yang pernah mereka bayangkan.
Wallahu a’lam.