|

Jutaan Dolar untuk Sebuah Kebohongan

Bismillah.

Ada sebuah kata dalam bahasa Ibrani yang perlu kita kenal: Hasbara.

Secara harfiah artinya “penjelasan”. Tapi dalam praktiknya, Hasbara adalah mesin propaganda negara Israel yang sangat canggih dan didanai sangat besar. Ribuan relawan terlatih beroperasi di media sosial selama 24 jam. Jaringan influencer, akademisi, dan jurnalis dibayar atau dipengaruhi. Narasi kebenaran dibanjiri dengan counter-narrative yang terstruktur dan masif. Anggarannya jutaan dolar, mengalir deras dari pemerintah Israel dan donatur swasta di seluruh dunia.

Tujuannya satu: memastikan dunia tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika rumah sakit dibom, Hasbara bergerak cepat menyebarkan narasi bahwa itu adalah kesalahan pihak lain. Ketika jurnalis ditembak, Hasbara langsung mempertanyakan kredibilitas sang jurnalis. Ketika korban sipil berjatuhan, Hasbara sibuk mendiskreditkan angka-angkanya.

Ini bukan propaganda amatiran. Ini operasi disinformasi tingkat tinggi yang sudah berlangsung puluhan tahun.


Al-Qur’an ternyata sudah membedah anatomi operasi seperti ini dengan sangat presisi, empat belas abad yang lalu.

Di Juz 18, Allah merekam salah satu krisis disinformasi paling traumatis dalam sejarah Islam awal: Haditsul Ifki, Fitnah yang Besar.

Konteksnya terjadi pada tahun 5 Hijriah. Sepulang dari ekspedisi militer, Aisyah r.a. tidak sengaja tertinggal dari rombongan. Melihat celah ini, Abdullah bin Ubay, tokoh munafik Madinah, langsung bergerak. Ia mengorkestrasi operasi disinformasi yang sangat terstruktur: menyebarkan gosip bahwa Aisyah telah berselingkuh, lalu membiarkannya mengalir dari mulut ke mulut dengan sangat cepat.

Target sesungguhnya bukan Aisyah. Target sesungguhnya adalah delegitimasi total terhadap kepemimpinan Rasulullah SAW dan keluarganya.

Madinah terbelah selama satu bulan penuh. Bahkan sebagian sahabat yang dekat dengan Nabi ikut terbawa arus gosip itu.

Allah merekam mekanisme penyebaran hoax ini dengan sangat tajam dalam Surat An-Nur ayat 15:

Idz talaqqaunahuu bi alsinatikum wa taquuluuna bi afwaahikum maa laisa lakum bihii ilmuw wa tahsabuunahuu hayyinaw wa huwa indallaahi azhiim.

“Ingatlah ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal yang besar.”

Tiga mekanisme yang Allah bongkar dalam satu ayat:

Pertama, talaqqaunahuu bi alsinatikum, menerima dan meneruskan tanpa verifikasi. Kedua, maa laisa lakum bihii ilm, berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya. Ketiga, tahsabuunahuu hayyinan, menganggapnya remeh padahal dampaknya sangat besar.

Empat belas abad berlalu. Mekanismenya persis sama. Yang berubah hanya skalanya. Abdullah bin Ubay tidak punya jutaan dolar. Hasbara punya. Abdullah bin Ubay mengandalkan mulut ke mulut. Hasbara mengandalkan algoritma media sosial dan jaringan influencer global.


Dan versi lokalnya?

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat ke Israel. Di negeri sendiri, mesin buzzer untuk penguasa bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda. Narasi dibentuk, kritik dibungkam, dan kebenaran ditenggelamkan di bawah banjir konten yang terkoordinasi. Wajahnya berbeda, polanya sama.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing.

Sudahkah kita cukup berhati-hati sebelum meneruskan sebuah berita? Sudahkah kita verifikasi sebelum berkomentar? Atau kita juga, tanpa sadar, sudah menjadi bagian dari mesin itu, meneruskan narasi yang belum tentu benar hanya karena datang dari sumber yang kita percaya?

Allah menutup ayat-ayat tentang Haditsul Ifki dengan peringatan yang sangat keras bagi para penyebar hoax. Tapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: peringatan itu tidak hanya ditujukan kepada Abdullah bin Ubay yang mengorkestrasi fitnah. Ia juga ditujukan kepada orang-orang biasa yang hanya ikut meneruskan tanpa berpikir panjang.

Kita semua bertanggung jawab atas apa yang kita sebarkan.

Wallahu a’lam.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *