2 Januari 2026, Juz 2
Selama di Surabaya dan dalam perjalanan ke daerah Pandaan, aku sering mendengar bacaan Al-Qur’an dari masjid-masjid sebelum waktu shalat. Bukan hanya Subuh, tapi hampir setiap waktu shalat. Sebagai orang yang tinggal di kampung di Jatinegara, Jakarta Timur, hal itu terasa tidak biasa. Aku hanya bisa menyimpulkan: begitu besar ghirah umat di sini.
Ghirah, singkatnya, adalah semangat. Tapi lebih dari itu, ia adalah semangat yang lahir dari rasa peduli dan kehormatan terhadap kebenaran.
Surabaya memang kota dengan ghirah sejarah. 10 November bukan sekadar peristiwa, tapi ledakan keberanian. “Allahu Akbar!, Merdeka!” teriak Bung Tomo. Bukan slogan, tapi pernyataan iman: bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari rasa takut.
Di Juz 2, Al-Qur’an mengajarkan bahwa iman tidak cukup diyakini. Ia perlu energi agar bertahan. Dan energi itu bernama ghirah.
Namun ghirah juga perlu dijaga. Karena semangat, sekuat apa pun, akan diuji oleh lelah dan rutinitas. Maka di Juz 2 pula Allah menurunkan perintah puasa Ramadhan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS Al-Baqarah: 183)
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menjaga ghirah. Menahan diri dari yang halal, agar lebih kuat menahan diri dari yang haram. Menjaga lisan, emosi, dan perbuatan, terutama ketika tidak ada yang melihat.
Itu sebabnya di bulan Ramadhan, ghirah umat terasa hidup. Masjid ramai, ibadah bergerak, bacaan Al-Qur’an terdengar di mana-mana. Bukan karena manusia tiba-tiba sempurna, tapi karena semangat dijaga bersama.
Di Juz 1 aku belajar mencari arah dan petunjuk.
Di Juz 2 aku belajar menjaga tenaga, agar bertahan seperti lari marathon.
Agar perjalanan iman tidak berhenti di awal.

