Qawiy dan Amin, Dua Hal yang Jarang Datang Bersamaan
Bismillah.
Surat Al-Qashash turun di salah satu titik paling berat dalam perjalanan Rasulullah SAW di Makkah. Khadijah sudah wafat. Abu Thalib sudah tiada. Pintu Tha’if sudah ditutup dengan lemparan batu. Hijrah mulai terlihat bukan lagi sebuah pilihan, melainkan satu-satunya jalan.
Di tengah tekanan itu, Allah menurunkan kisah Nabi Musa. Bukan kisah Musa yang membelah laut. Bukan Musa yang menghadapi Firaun. Tapi Musa yang sedang lari, sendirian, tangan kosong, tidak tahu apa yang ada di depan.
Musa meninggalkan Mesir sebagai buronan. Ia berjalan jauh menuju Madyan tanpa bekal, tanpa kenalan, tanpa rencana yang jelas. Persis seperti kondisi yang akan segera dihadapi Rasulullah SAW saat meninggalkan Makkah.
Seolah Allah sedang berbisik kepada Nabi-Nya: “Lihatlah Musa. Ia juga pernah di titik yang sama seperti kamu sekarang. Tangan kosong, dikejar musuh, tidak tahu apa yang menanti. Tapi lihatlah apa yang Aku siapkan untuknya di sana.”
Dan apa yang Allah siapkan untuk Musa di Madyan?
Ketika tiba, Musa melihat dua perempuan yang kesulitan memberi minum ternak mereka di tengah keramaian. Dalam kondisi lapar dan kelelahan, ia tidak berpikir panjang. Ia turun tangan membantu, lalu menepi. Tidak minta imbalan. Tidak memperkenalkan diri. Tidak mencari perhatian.
Dari satu tindakan kecil itulah semuanya bermula. Sang ayah dari dua perempuan itu, Nabi Syuaib, mengundangnya. Dan salah satu putrinya memberikan rekomendasi yang sangat sederhana tapi sangat dalam:
Yaa abatis tajirhu, inna khaira manis tajartal qawiyyul amiin.
“Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja pada kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
(QS. Al-Qashash: 26)
Hanya dua kata. Qawiy dan Amin.
Qawiy berarti kuat, kompeten, punya kemampuan yang bisa diandalkan. Amin berarti jujur, amanah, bisa dipercaya.
Musa yang datang dari titik nol, tanpa CV, tanpa koneksi, tanpa modal, mendapatkan pekerjaan, istri, dan fondasi kehidupan baru. Bukan karena keberuntungan. Tapi karena dua hal itu ada dalam dirinya dan terpancar bahkan dalam tindakan kecilnya.
Pesan ini tidak hanya untuk Rasulullah SAW yang akan segera berhijrah. Ia juga berbicara langsung kepadaku.
Sebagai seorang leader, aku pernah punya anak buah yang luar biasa. Skillnya tajam, kontribusinya nyata, hasilnya bisa diandalkan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Aku sering menangkap kesan bahwa ia menyembunyikan sesuatu. Entah apa. Tapi rasanya ada yang tidak transparan. Dan dari situ, muncul ragu.
Di sisi lain, aku juga punya anak buah yang berbeda karakter. Jujur, terbuka, niatnya baik. Tapi aku sering kelelahan mengarahkan. Hal-hal yang menurutku sudah jelas, harus dijelaskan berulang kali. Progresnya lambat.
Dua orang, dua masalah yang berbeda.
Dan di sinilah aku sering terjebak, sibuk menilai mereka, padahal pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah: aku sendiri sudah cukup baik sebagai pemimpin mereka?
Kalau anak buahku yang skillful itu menyembunyikan sesuatu, mungkin ada yang kurang dalam cara aku membangun kepercayaan dengannya. Kalau yang jujur itu lambat berkembang, mungkin ada yang kurang dalam cara aku membimbingnya.
Ini bukan tentang mereka. Ini tentang bagaimana aku sebagai leader bertanggung jawab membawa mereka ke garis finish.
Juz 20 mengingatkanku bahwa Qawiy dan Amin bukan hanya standar yang aku tuntut dari tim. Pertama-tama, ini adalah standar yang harus aku pegang untuk diriku sendiri. Karena seperti Musa, yang akan menyelamatkan kita saat terpaksa memulai dari titik nol bukan jabatan atau koneksi, melainkan kompetensi dan integritas yang sudah kita bangun jauh sebelum krisis itu datang.
Wallahu a’lam.