Perjalanan yang Dijaga dan Dimudahkan, Alhamdulillah

3 Januari, Juz 3

Pergi untuk kembali.
Perjalanan darat hampir 12 jam akhirnya selesai, dalam lindungan dan kemudahan Allah SWT. Alhamdulillah.

Safar, atau bepergian, membuat kita sadar bahwa kita bisa merencanakan banyak hal, tapi tidak pernah memegang kendali penuh.
Macet, cuaca hujan deras, lelah, was-was, semuanya di luar kuasa kita.
Di situ ego diturunkan pelan-pelan, dan kebersamaan dengan keluarga justru terus dijalin.

Tepat di awal Juz 3, Allah menghadirkan Ayat Kursi.

Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur.
Allah yang menjaga langit dan bumi tanpa lelah.
Allah yang tidak terbebani oleh apa pun yang Dia jaga.

Kontrasnya terasa sekali dengan safar.
Kita lelah hanya dengan duduk berjam-jam.
Kita gelisah, hanya karena tidak semua harapan ada.
Kita mengeluh hanya karena kenyamanan sedikit terganggu.

Sementara Allah menjaga seluruh semesta tanpa pernah lengah.

Mungkin itu sebabnya Ayat Kursi sering dibaca saat safar.
Sebagai pengakuan tauhid:
bahwa perjalanan ini tidak sepenuhnya di tanganku.

Safar mengajarkan keterbatasan.
Ayat Kursi menegaskan siapa Yang Maha Menjaga dan Tidak Terbatas.

Di jalan, apa saja bisa terjadi, dari microsleeping sampai barang tertinggal.
Dan di situ aku apa adanya mengakui:

Aku lelah.
Aku terbatas.
Aku rentan.
Aku lemah.
Dan aku butuh Dijaga.

Terima kasih, ya Allah.
Engkau menjagaku dan keluargaku.
Jarak 767 km serasa dipendekkan, kesadaran dan keahlian serasa sat set dioptimalkan, dan kebersamaan sungguh-sungguh kurasakan bersama orang-orang terkasih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News