Tanggal 18 Januari, Juz 18
Juz ini diawali dengan Surat Al-Mu’minun.
Kalau boleh dibilang, juz ini lagi ngomongin kita-kita, insyaAllah.
Karena kita kan mengaku orang beriman.
Ayat pertama dibuka dengan pernyataan yang seolah-olah sudah terjadi.
Qad aflaha al-mu’minun.
Sudah beruntung orang-orang beriman.
Sudah berhasil. Sudah bahagia.
Kata aflaha ini bukan kata asing. Kita dengar setiap hari di adzan.
Hayya ‘alal falah.
Mari menuju keberuntungan. Mari menuju kemenangan. Kalau Ustadz Adi Hidayat menterjemahkan falah sebagai sukses dan bahagia.
Coba perhatikan, di sini Allah tidak bilang “akan beruntung”, tapi “sudah beruntung”. Seolah Allah sedang bilang, status itu sudah diberikan. Label “sukses dan bahagia” sudah disematkan buat kita.
Tapi kemudian ayat kedua seperti mengajak kita bercermin.
Seakan Allah berkata,
“Baik. Kamu merasa orang beriman. Kamu sudah disebut sukses dan bahagia. Sekarang kita cek yuk.”
Lalu Allah mulai menyebutkan ciri-cirinya. Ciri-ciri mencapai falah apa siii?.
Yang pertama,
alladzîna hum fî shalâtihim khâsyi‘ûn.
Orang beriman itu bukan yang shalatnya paling terlihat, tapi yang shalatnya membuat hatinya hadir terhubung dengan Allah. Lah, saya kok ya sering lagi shalat koneksi terputus, mikir makan siang apa, dan lain-lain. Harusnya, shalat itu ada rasa diawasi. Ada rasa sedang benar-benar menghadap dan memohon.
Ayat berikutnya,
walladzîna hum ‘anil laghwi mu‘ridhûn.
Mereka menjauh dari hal-hal sia-sia.
Bukan karena sok suci, sok sibuk, tapi karena sadar hidup ini terlalu pendek untuk dihabiskan pada hal yang tidak perlu. Duh suliiiit, sering tenggelam di medsos, update status, nongkrong tanpa tujuan… Semoga bisa semakin pilah-pilih
Lalu Allah lanjutkan,
walladzîna hum liz-zakâti fâ‘ilûn.
Iman di dalam dada membuat kita mudah keluar dalam bentuk kepedulian. Ada tanggung jawab sosial. Ada harta yang disadari bukan sepenuhnya milik sendiri.
Ayat berikutnya bicara soal menjaga kehormatan diri.
Bukan soal tidak ada godaan, tapi soal memilih batas. Kita tidak boleh mendekati yang berbau zina.
Lalu Allah menyebutkan,
walladzîna hum li-amânâtihim wa ‘ahdihim râ‘ûn.
Orang beriman itu bisa dipercaya. Janjinya dijaga. Amanahnya dipelihara. Bukan hanya saat diawasi, tapi juga saat sendirian ketika kita tidak ada yang mengawasi atau kita merasa punya kuasa untuk memberi alasan.
Dan Allah tutup rangkaian itu dengan kembali ke shalat.
Di awal sudah disebutkan, ciri atau syarat pertama adalah shalat yang khusyu, lalu ditutup kembali dengan shalat yang dijaga, dipelihara, konsisten.
Karena khusyu tidak cukup sekali tapi seterusnya.
Dan akhirnya, hadiah orang mukmin yang falah itu adalah akan mewarisi surga Firdaus. Surga level paling tinggi!, insyaAllah.
Nah, pertanyaannya,
kenapa dari awal sudah disebut “berhasil”, tapi setelah itu masih dicek satu per satu?
Allah sedang menjelaskan, keberuntungan iman itu bukan hadiah instan, tapi kondisi yang harus dikomitmeni dan jaga/istiqomah.
Status “beriman” itu bisa diucapkan. Tapi “aflaha” itu dijaga lewat sikap hidup sehari-hari termasuk dalam mendirikan shalat, meninggalkan yang sia-sia, infak dan zakat, menjauhi zina, dan menjaga amanat.
Wallahu a’lam.
