Tanggal 19 Januari, Juz 19

Setelah di Juz 18 Allah menjelaskan siapa itu mukmin yang beruntung, di Juz 19, Surat Al-Furqan kita diberi gambaran tentang karakter yang levelnya lebih dalam lagi, disebut sebagai ibadurrahman, artinya hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih.

Siapa mereka sebenarnya?

Ciri-ciri ibadurrahman dijelaskan panjang lebar dalam QS Al-Furqan ayat 63 sampai 77.

Ayat-ayat ini turun sebagai jawaban langsung atas kesombongan orang-orang Quraisy di Makkah (sesuai tafsir Ibnu Katsir, Ath-Thabari).

Saat itu, kaum Quraisy mencibir Nabi dan para pengikutnya.
Mereka berkata kurang lebih begini,
“Kalau benar Muhammad membawa risalah besar, kenapa yang mengikutinya orang-orang miskin, lemah, lusuh, bukan orang kaya, terpandang, wangi, dan berderajat seperti kami?”

Maka Allah menurunkan Al-Furqan, yang artinya pembeda.
Seolah Allah berkata,
“Baik. Aku bedakan sekarang. Mana hambaKu yang mulia, dan mana yang hanya merasa mulia.”

Lalu Allah mulai menyebutkan satu per satu ciri ibadurrahman.

Ayat 63
Mereka berjalan di bumi dengan rendah hati.
Bukan rendah diri, tapi tidak sombong. Tidak merasa lebih tinggi hanya karena jabatan, ilmu, atau status.

Dan ketika disapa orang jahil, mereka menjawab dengan kata yang selamat. Bukan reaktif, egois, atau cari menang. Pokoknya memilih damai.

Ayat 64
Mereka menghidupkan malam dengan sujud dan berdiri.
Artinya, relasi mereka dengan Allah tidak ramai di siang hari saja, tapi juga sunyi di malam hari.

Ayat 65–66
Mereka takut pada neraka, dan memohon sungguh-sungguh agar dijauhkan darinya karena sadar betapa berat konsekuensi dosa.

Ayat 67
Mereka seimbang dalam membelanjakan harta.
Tidak boros, tidak pelit, juga tidak pamer.


Ayat 68–69
Mereka menjaga tauhid dan menjauhi dosa besar.
Tidak menyekutukan Allah, tidak membunuh, tidak berzina.
Dan jika pernah salah, selalu mencari pintu taubat.

Ayat 70–71
Allah bahkan mengganti dosa mereka dengan kebaikan ketika mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Ini bukan sekadar pengampunan, tapi transformasi hidup.

Ayat 72
Mereka tidak tenggelam dalam kebohongan dan hal sia-sia.
Dan ketika melewati keramaian yang kosong makna, mereka menjaga kehormatan diri.

Ayat 73
Ketika diingatkan dengan ayat Allah, mereka tidak tuli dan buta.
Mereka mau mendengar dan tidak banyak alasan.

Ayat 74
Mereka berdoa untuk keluarganya.
Bukan hanya minta sukses pribadi, tapi ingin rumah tangganya menjadi penyejuk hati dan teladan bagi orang bertakwa.

Ayat 75–76
Dan puncaknya,
Mereka dibalas dengan surga ‘Adn, karena kesabaran mereka.
Disambut dengan penghormatan, salam dan kekal di dalamnya.

Sudah berakhlak luar biasa, dapat surga pula. MasyaAllah.

Maka jelas, ibadurrahman bukan orang yang paling kaya di dunia, tapi orang yang paling utuh sebagai manusia.
Imannya hidup, akhlaknya dipraktekan. Hubungannya dengan Allah kuat, dan hubungannya dengan manusia menenangkan.

Dan lewat Al-Furqan, Allah menegaskan,
kemuliaan tidak diukur dari tampilan luar,
tapi dari bagaimana seseorang berjalan di bumi sebagai hamba.

Ya Allah, jadikan aku mukmin yang falah, dan ibadurrahman sesuai petunjukMu.

Bismillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News