Tanggal 30 Januari, Juz 30, insyaAllah khatam Al-Quran.
Banyak banget yang ingin diceritakan di juz ini. Sebagai juz dengan jumlah surat terbanyak di Al-Qur’an, ada 37 surat di dalamnya. Secara umum, surat-surat di Al-Qur’an oleh ulama diklasifikasikan sebagai surat Ath-Thiwal (panjang), Al-Maun (menengah), dan Al-Mufashshal (surat-surat pendek, yang dibagi lagi jadi thiwal, awsath, dan qishar). Nah, kebanyakan surat di Juz ‘Amma adalah surat-surat pendek dari golongan Al-Mufashshal.
Dinamakan Juz ‘Amma karena dibuka dengan surat An-Naba yang diawali kata ‘Amma yatasaa-aluun. Surat ini bercerita tentang “kegaduhan” kaum musyrik saat Nabi mulai berdakwah. Mereka berisik karena bingung sekaligus penasaran, tapi di sisi lain ada penolakan keras terhadap hari pembalasan. Kenapa mereka menolak? Karena mereka tidak mau dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan di dunia.
Imam shalat Shubuh di masjid komplekku punya kebiasaan khas saat membaca Surat An-Naba. Beliau biasanya membagi surat ini menjadi dua bagian:
Rakaat Pertama (Ayat 1-30): Fokus pada kegaduhan manusia dan gambaran kengerian hari kiamat sebagai “peringatan keras” bagi mereka yang ingkar.
Rakaat Kedua (Ayat 31-40): Dimulai dari ayat Inna lil muttaqiina mafaaza. Di sinilah suasana berubah total. Allah menggambarkan kenikmatan surga untuk orang-orang bertaqwa: ada hadaiqa wa a’naba (kebun-kebun dan buah anggur), kawa’iba atraba (gadis-gadis sebaya), hingga ka’san dihaqa (gelas-gelas yang penuh berisi minuman).
Bagian kedua ini selalu jadi favorit saya. Membayangkan kenikmatan surga yang begitu didambakan rasanya seperti kenikmatan tersendiri. Anggaplah lagi melafadzkan impian, impian pengin banget diizinkan mendapat surga (Ya Allah kabulkanlah)
Selain di An-Naba, gambaran serupa juga saya temukan di surat lain. Favorit saya ada di Surat Al-Baqarah ayat ke-25:
“Wa basyirilladzina amanu wa ‘amilus shalihati anna lahum jannatin tajri min tahtihal anhar…” (Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai).
Menariknya, di ayat itu disebutkan bahwa setiap mereka diberi rezeki buah-buahan, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Artinya, sebagian kecil kenikmatan surga alhamdulillah sudah bisa kita cicipi atau rasakan bayangannya di dunia sekarang.
Tidak terbayang sungguh nikmat yang luar biasa kalau kita bisa memahami ayat Al-Qur’an dan membacanya (atau menyimak dari imam) sesuai dengan mood dan kebutuhan batin kita. Al-Qur’an benar-benar menjadi seperti dialog, atau curahan hati saya sebagai seorang hamba kepada Engkau, Ya Rahman Ya Rahim.
Tadi pagi saya mendengar di youtube Ustadz Firanda yang lagi membahas Juz Amma, beliau mengatakan dengan panjang lebar, tapi saya kutip sedikit, alangkah jauh lebih baiknya memahami sedikit ayat Al-Quran dan mengamalkannya, dan juz Amma haruslah jadi starting poinnya.
Allahumma faqqihna fiddin (Ya Allah, pahamkanlah kami dalam urusan agama).
