Cermin Al-Qur’an: Bahaya “Gaslighting” dan Penyakit Merasa Paling Benar

1 Februari – Juz 1

Di salah satu ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat pernah menyampaikan poin yang sangat menarik: apa yang kita dengar hari ini dari orang-orang yang menentang kebenaran, hakikatnya adalah “siaran ulang” dari masa lalu.

Bedanya, dulu di zaman Rasulullah, ucapan mereka langsung dijawab oleh wahyu. Namun, Al-Qur’an mengindikasikan bahwa narasi-narasi penyangkalan tersebut akan terus diucapkan kembali oleh orang-orang di masa lain, termasuk masa kini. Kita yang memegang Al-Qur’an, seharusnya sudah tahu kuncinya.

Saat membaca ulang Al-Baqarah di bagian awal, rasanya seperti sedang membaca headline berita hari ini. Allah menyinggung perilaku sekelompok manusia yang “skrip” bicaranya ternyata tidak pernah berubah sejak ribuan tahun lalu.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al-Baqarah: 11).

Coba lihat Trump dan Netanyahu, mereka selalu memvalidasi tindakan genosida sebagai aksi memperbaiki keadaan.

Atau pejabat lokal, lihat siapa yang merasa paling benar sedang memperbaiki gizi masyarakat dengan cara konyol dan penuh bocor.

Skrip dan narasinya sama kan. Menghancurkan tapi bilangnya menstabilkan. Mengacak-acak anggaran tapi bilangnya demi kebaikan bangsa. Melakukan kerusakan tapi merasa sedang jadi pahlawan (Muslihun).

Istilah psikologi modernnya “Gaslighting”. Memutarbalikkan fakta sampai kita bingung mana yang benar dan mana yang salah.

Tapi, Al-Qur’an kita jadikan cermin buat kita sendiri. Kalau cuma dipakai buat menunjuk hidung pejabat/penguasa, rasanya kurang adil buat diri sendiri.

Jangan-jangan, aku juga sering jadi “mirip-mirip pejabat lalim”, baik di kantor atau di rumah?

Saat ditegur istri atau anak, apa iya aku legowo. Atau malah alasan defensif: “Ayah begini kan demi kebaikan kalian!” padahal sebenarnya cuma demi ego dan kenyamanan sendiri.

Saat di kantor ada komplain atau masukan, apakah aku jujur mengakui kalau ada salah perhitungan? Atau aku sibuk bersilat lidah biar tetap kelihatan “paling pintar” dan menganggap orang lain yang protes itu tidak mengerti strategi.

Hikmah ayat di atas adalah menunjukan beda antara “tegas” dan “bebal” itu tipis sekali.

Jadi, buatku penting untuk mengurangi merasa paling benar.

Lanjutan ayat 14 di atas masih bercerita tentang orang yang tidak mau diingatkan. Difirmankan bahwa orang-orang itu memiliki sifat nifaq yang bermuka dua. “Wa idza laqulladzina amanu qalu amanna…” (Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’).

Tapi begitu balik ke circle-nya, ke shayatinihim (setan-setan/geng jahat mereka), mereka bilang: “Tenang bro, kami cuma nge-prank, kami cuma olok-olok mereka.”

Manis di depan rakyat atau orang lain, tapi menusuk dan menertawakan di belakang. Mereka merasa “pintar” bersandiwara, padahal di ayat 17-20, Allah menggambarkan balasan mental yang mengerikan buat mereka.

Mereka dibiarkan merasa “terang” sejenak, padahal aslinya sedang digelapkan. Hati dan panca indera mereka dijadikan tuli, bisu, dan buta (summun bukmun ‘umyun), sehingga mereka kehilangan arah dan tidak bisa balik ke kebenaran.

Jiwa mereka digambarkan seperti orang yang ketakutan di tengah badai gelap gulita, disambar petir dan guntur, sampai-sampai mereka menyumbat telinga dengan jari karena takut mati. Mereka merasa berkuasa dengan segala tipu dayanya, padahal hakikatnya mereka sedang dikepung oleh Kuasa Allah (Innallaha ‘ala kulli syaiin qodiir).

Ngeri sekali. Ternyata merasa paling pintar dan jago bersilat lidah itu ujungnya adalah kegelapan dan kebingungan.

Semoga kita dijauhkan dari sifat merasa benar sendiri dan nifak.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News