Resep Penenang Kegelisahan dan 5 “Menu Target” Takwa

3 Februari, Secuil Juz 3

Juz 3 diawali dengan bagian akhir Surat Al-Baqarah dan masuk ke Surat Ali ‘Imran. Dua surat ini disebut oleh Rasulullah sebagai Az-Zahrawan (Dua Cahaya), karena selain dua surat paling panjang, keduanya kelak akan datang menaungi pembacanya di hari kiamat.

Pernah nggak, ketika sedang gelisah, bingung, atau khawatir, lalu berkesempatan membuka Al-Qur’an (atau mendengar lantunan ayat secara acak), ternyata isinya pas sekali dengan jawaban kegelisahan kita?

Aku pernah dengar pengalaman seorang kawan yang mendapat jawaban instan seperti itu.

Pagi ini, giliran aku mengalaminya sendiri.

Baru saja semalam aku curahkan kegelisahanku tentang pengalaman lebih dari 35 kali melewati Ramadhan di masa baligh yang rasanya belum maksimal. Dengan izin Allah, pagi ini di Juz 3, aku seperti menemukan jawabannya.

Allah seolah langsung memberikan resep penenang kegelisahanku dengan dua pesan besar yang saling sambung-menyambung.

Yang pertama, terletak di penghujung surat Al-Baqarah, ada ayat doa yang sangat dahsyat. Doa yang sering kita temukan di dzikir Al-Ma’tsurat dan sering dilantunkan imam shalat.

Melalui ayat tersebut, Allah menenangkan dengan memberikan pesan bahwa beban itu ada takarannya:

“Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha…” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya).

Lalu ditutup dengan contoh langsung dari Allah, bagaimana hamba yang lemah sepertiku harus meminta:

“Rabbana laa tuakhidzna in nasiina au akhtha’na…” (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah).

Perasaan bersalah karena merasa “belum cukup bertaqwa” setelah sejauh ini, seakan ditenangkan.

Kemudian lewat ayat berikutnya, aku diajari untuk bangkit, paling tidak dengan membangun harapan baru lewat doa ini:

“Wa’fu ‘annaa waghfir lanaa warhamnaa…” (Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami…)

Semoga doa di atas menjadi pondasi sebelum masuk Ramadhan.

Setelah hati ditenangkan di akhir Al-Baqarah, Allah mengajak kita move on ke Surat Ali ‘Imran. Di surat ini Allah menyodorkan semacam “Menu Target”.

Kalau kemarin aku bingung, “Apa sih konkretnya sifat orang bertakwa yang harus aku kejar?”, ternyata jawabannya ada di QS. Ali ‘Imran ayat 17:

Ash-shabirina wash-shadiqina wal-qanitina wal-munfiqina wal-mustaghfirina bil-ashar.

Di ayat ini, Allah merinci 5 sifat orang yang akan meraih keridhaan-Nya (surga):

Ash-Shabirin (Orang yang Sabar): Bersikap sabar mudah diucapkan tapi tricky dipraktekkan. Seringkali sangat kondisional. Tapi justru disitulah tantangannya.

Contoh paling mudah buat orang perkotaan adalah sabar berperilaku di jalan.

Ash-Shadiqin (Orang yang Benar/Jujur): Ini nyambung dengan evaluasiku soal integritas dan “white lies”. Jujur seringkali terabaikan karena kita pandai membuat alasan. Contoh ringan, kenapa shalat di akhir waktu? “Iya nih lagi nanggung ketemu klien.” Bukan karena bohong, tapi mengabaikan prioritas iman dalam tindakan.

Al-Qanitin (Orang yang Taat): Konsisten. Nggak moody-an dalam ibadah. Kalau di rumah sempat jamaah ke masjid, pas nge-mall juga tidak lupa jamaah tepat waktu di mushala mall.

Al-Munfiqin (Orang yang Berinfak): Kesalehan sosial. Ringan tangan membantu orang lain. Tidak lupa kalau yang prioritas mendapatkan infak adalah keluarga besar kita, orang tua, kakak adik, keponakan, om tante yang sudah sepuh yang membutuhkan.

Wal Mustaghfirina bil Ashar (Orang yang memohon ampun di waktu sahur).

Nah, poin kelima ini yang paling menohok.

Kenapa ya istighfar di waktu sahur?

Biasanya orang sahur itu sibuk makan. Tapi orang sholeh di ayat ini, di waktu sahur justru sibuk minta ampun.

Ini mengingatkan, nanti pas Ramadhan, jangan sampai sahur cuma jadi ajang “isi perut”, tapi lupa “cuci hati”. Harus atur waktu agar sempat shalat dan istighfar sebelum Subuh.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News