6 Juli · Juz 6
Hasad itu sifatnya sering datang tanpa permisi, lewat jalur yang paling tidak disangka. Bukan cuma soal harta atau jabatan, kadang muncul dari hal sekecil melihat orang lain diakui atau diterima duluan, sementara diri sendiri merasa sudah berusaha lebih. Kisah Habil dan Qabil di Al-Ma’idah 27–31 mengingatkan, betapa cepatnya perasaan itu bisa berubah jadi niat paling gelap, kalau tidak segera disadari sejak awal.
Kisah ini dibuka dengan dua bersaudara yang mempersembahkan kurban, dan Allah hanya menerima dari Habil. Bukan karena kualitas persembahannya, tapi karena ketakwaan yang menyertainya, seperti dijelaskan sendiri oleh Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” Qabil, yang persembahannya ditolak, langsung berkata, “Aku pasti membunuhmu.”
Yang menarik, Habil tidak membalas ancaman itu dengan ancaman serupa. Ia justru menjawab, kalau saudaranya sampai menggerakkan tangan untuk membunuh, ia sendiri tidak akan membalas dengan cara yang sama, karena takut kepada Allah. Bahkan Habil menyatakan lebih baik menanggung dosa untuk dirinya sekaligus dosa Qabil, daripada ikut membalas dan sama-sama tercemar.
Tapi hawa nafsu Qabil sudah terlanjur menganggap ringan perbuatan membunuh saudaranya sendiri. Ia melakukannya, dan jadilah ia seorang yang merugi. Bagian paling menyentuh justru datang setelahnya, ketika Qabil kebingungan sendiri harus berbuat apa dengan jasad Habil. Allah mengirim seekor burung gagak yang menggali tanah, memperlihatkan cara menguburkan mayat. Qabil berkata, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini.” Ia menyesal, tapi penyesalan itu datang setelah kejahatan sudah tidak bisa ditarik kembali.
The Cognitive Dissonance Model di The Decision Book menjelaskan kenapa orang tetap melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah mereka tahu salah, seperti perokok yang terus merokok meski paham risikonya. Penjelasannya, ada dorongan emosional yang lebih kuat dari kesadaran rasional, dan begitu tindakan itu terlanjur dilakukan, orang biasanya mencari pembenaran supaya tidak terus-menerus merasa bersalah.
Yang membuat kisah Qabil berbeda dari model ini, ia tidak sempat mencari pembenaran. Rasionalisasi yang biasanya jadi jalan keluar bagi cognitive dissonance, entah menyalahkan keadaan atau meremehkan risikonya, ternyata tidak datang. Yang datang justru kebingungan telanjang, sampai ia perlu belajar dari seekor burung gagak. Disonansi dalam dirinya tidak diselesaikan dengan pembenaran, tapi dibiarkan pecah jadi penyesalan murni. Ini yang membedakan kisah ini dari sekadar kasus psikologis biasa. Al-Qur’an tidak memberi Qabil ruang untuk merasa nyaman dengan pilihannya.
Yang membedakan Habil dan Qabil bukan siapa yang pertama kali merasakan dengki, karena dengki bisa datang menyapa siapa saja, kapan saja, lewat jalur sekecil apa pun. Yang membedakan adalah apa yang dilakukan begitu perasaan itu muncul: dibiarkan menganggapnya ringan seperti Qabil, atau segera disadari dan ditahan sebelum sempat menjelma menjadi tindakan yang tidak bisa ditarik kembali.
Wallahu a’lam.
