27 Maret, Juz 27
Bismillah.
Alhamdulillah, di tengah penat dan ngantuk di dalam pesawat, Allah masih beri kesempatan mentadaburi lembaran Juz 27. Juz ini rasanya begitu pas dengan momen kepulangan, berisi rangkaian surah yang sangat indah untuk merangkum sebuah akhir perjalanan, dan bisa kuambil hikmahnya sesuai momen hari ini.
Surah Ar Rahman untuk memaknai rasa syukur atas nikmat kembali ke rumah. Surah Al Hadid untuk merenungkan hakikat perhiasan dunia sekaligus memetik pelajaran tentang etos kerja dan mental pantang menyerah. Surah Al Waqi’ah untuk menyadarkan kita tentang kepastian safar akhirat. Surah Az Zariyat dan Surah At Tur untuk merumuskan bekal takwa dan harapan berkumpul kembali bersama keluarga di surga.
Pesan-pesan dari Al-Quran inilah yang jadi bingkai saat kembali pulang ke rumah.
Sampai di bandara, anak-anak melepas kangen dengan minuman favorit mereka. Aku pikir minuman di negara orang lebih memberi kesan, ternyata yang lokal lebih ngangeni.
Sampai di rumah, bertemu Kiko si kucing, dan serah terima oleh-oleh serta cucian ke Si Mba. Maaf ya mba tidak sempat memanfaatkan coin laundry di hotel. Akhirnya merebahkan badan membawa rasa syukur yang mendalam. Benarlah teguran lembut dalam Surah Ar Rahman, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Bisa kembali dalam keadaan sehat dan selamat bersama keluarga adalah nikmat yang luar biasa besar.
Saat membereskan koper berisi barang dan pernak-pernik dari perjalanan ini, aku teringat Surah Al Hadid ayat 20. Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan perhiasan fana yang perlahan akan usang. Karena itu, perjalanan ini tidak boleh sekadar menyisakan tumpukan barang bawaan, tapi harus membawa pulang pembelajaran nyata untuk meningkatkan kualitas akhlak dan kompetensi diri. Anak-anakku, buku bacaan dan barang koleksi boleh bertambah, tapi rasa syukur dan hikmah safar juga harus disimpan dan dipraktikkan ya.
Aku mengamati etos kerja sebuah bangsa yang luar biasa dan menemukan benang merahnya dengan pesan-pesan Al Quran.
Pertama, mereka punya budaya kerja yang serba cepat dan efisien. Di Surah Al Hadid ayat 21, Allah juga memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dan bersegera menuju ampunan dan surga-Nya. Kalau mereka bisa bergerak sangat cepat untuk urusan dunia, kita harus bisa lebih lagi, karena urusan dunia kita pun sebenarnya kita niatkan untuk ibadah. Kita bukan hanya mengejar hasil, tapi juga mengejar berkah.
Kedua, mereka punya totalitas dan perhatian pada detail, mulai dari keahlian membuat sistem pengelola bakat, meracik formula obat perawatan, sampai menanam sesuatu yang butuh waktu panjang. Selain itu mereka terkenal dengan kehebatan dalam industri manufaktur, teknologi informasi, dan masih banyak lagi. Islam menyebut prinsip ini dengan itqan, melakukan suatu pekerjaan dengan totalitas dan keahlian tingkat tinggi. Ini jadi target perbaikan diri agar kita tidak setengah-setengah dalam bekerja dan berkarya.
Ketiga, bangsa ini punya daya juang dan ketangguhan yang tinggi. Mereka bangkit dari kehancuran dan punya daya tahan hidup menghadapi berbagai tantangan. Di Surah Al Hadid ayat 22 dan 23, Allah mengajarkan konsep mental baja. Setiap musibah sudah tertulis, agar manusia tidak terlalu bersedih saat kehilangan dan tidak sombong saat mendapat nikmat. Inilah bekal mental pantang menyerah yang harus kita bangun.
Tapi di balik kehebatan itu, ada sisi kelam yang justru jadi ruang perbaikan bagi kita dengan bekal Al Quran. Banyak dari mereka yang hidup dalam kekosongan iman atau ateis, terlalu mengagungkan kulit dan tampang fisik, serta bersembunyi di balik budaya peminum alkohol untuk melepas stres. Karakter yang keras, perilaku netizen yang kasar, sampai sikap rasis juga sering membayangi kemajuan mereka. Di sinilah Al Quran hadir jadi penyempurna. Kita diajarkan untuk menghias hati dengan takwa ketimbang sekadar memoles rupa, menjaga lisan dari perkataan yang menyakitkan, memuliakan manusia tanpa membedakan ras, dan mencari ketenangan sejati hanya dengan mengingat Allah.
Berakhirnya perjalanan ini menyadarkanku tentang sebuah hakikat. Perjalanan kemarin hanyalah safar kecil. Kita pergi mengembara, lelah, lalu akhirnya pulang kembali ke rumah di dunia. Kelak akan tiba masanya kita melakukan safar yang lebih besar, sebuah perjalanan abadi yang kepastiannya digambarkan dengan sangat dahsyat dalam Surah Al Waqi’ah, safar menuju akhirat, di mana kita tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini.
Kalau untuk safar kecil kemarin saja kita menyiapkan perbekalan dunia yang begitu detail, lalu perbekalan apa yang sudah kita siapkan untuk safar yang lebih besar nanti?
Sebaik-baiknya bekal untuk perjalanan panjang itu adalah ketakwaan. Di Surah Az Zariyat ayat 15 sampai 19, Allah merinci sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Mereka orang-orang yang sedikit sekali tidur di waktu malam karena beribadah, lalu di akhir malam menjelang subuh memohon ampunan, dan pada harta mereka selalu ada hak untuk orang yang membutuhkan. Inilah wujud kompetensi spiritual yang sesungguhnya.
Selain takwa pribadi, bekal yang tidak kalah penting adalah hadirnya keturunan yang saleh. Di Surah At Tur ayat 21, Allah memberikan janji yang sangat indah, bahwa orang-orang yang beriman, lalu anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan mempertemukan dan mengumpulkan mereka kembali di dalam surga tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Semoga perjalanan bersama keluarga bukan sekadar jalan-jalan mengumpulkan kenangan. Semoga ia benar-benar jadi madrasah kehidupan yang memperkuat iman, mematangkan akhlak, dan mempererat ikatan kami. Sebuah ikhtiar untuk mendidik keturunan yang saleh, agar kelak kami bisa kembali melakukan safar abadi bersama, dan dikumpulkan utuh sebagai satu keluarga di surga-Nya kelak.
“Ayah minggu depan sekolah lagi, hu hu hu,” kata anakku sambil berdrama menangisi masa liburan yang akan berakhir. Aku sampaikan, “Nak, kalau safar kemarin tidak membuat kamu tambah semangat belajar, no more ngajakin kamu safar ya.” Seketika dia berteriak, “Ayah aku tambah semangat belajar!!!” Memang nih anak-anak zaman now.
Wallahu a’lam.
