16 April, Juz 16
Bismillah.
Ada kebingungan yang sudah lama mengendap di kepalaku. Kenapa umat Islam mundur, sementara umat lain yang budayanya terlihat makin bobrok justru maju dan menguasai dunia? Selama ini aku menghibur diri dengan jawaban sederhana, bahwa mereka menang karena kekuatan militer dan kita kalah karena membiarkan kerusakan di dalam.
Ternyata hiburan itu ada dasarnya. Syekh Syakib Arslan dalam karya besarnya yang membahas kenapa umat Islam tertinggal sementara umat lain maju sampai pada satu paradoks yang tajam sekali. Barat maju karena meninggalkan agamanya, agama yang di Abad Pertengahan justru mengekang kebebasan berpikir dan sains. Sedangkan umat Islam mundur juga karena meninggalkan agamanya, padahal agama ini sejak ayat pertamanya menuntut manusia berpikir dan menegakkan keadilan. Kalimat yang sama, akibat yang berlawanan.
Juz 16 mengambil Al-Kahfi ayat 75 sampai Ta Ha ayat 135, dan ternyata membedah proses “meninggalkan agama” itu dengan presisi yang bikin merinding.
Fa khalafa mim ba’dihim khalfun aḍā’uṣ-ṣalāta wattaba’usy-syahawāti fa saufa yalqauna ghayyā.
“Maka datanglah sesudah mereka, generasi (yang jahat) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka itu akan menemui kesesatan.” (QS 19:59)
Ayat ini letaknya menarik sekali. Bagian awal Surat Maryam berisi deretan nabi-nabi mulia, semacam daftar generasi emas. Lalu tiba-tiba ayat 59 memotret titik patahnya, ketika lahir generasi penerus yang mencampakkan ikatan spiritualnya dengan Tuhan dan menyerahkan hidupnya pada keinginan sesaat. Jarak antara generasi terbaik dan generasi yang tersesat ternyata cuma satu pergantian.
Akar kemunduran memang bukan pada kekuatan musuh, tapi pada pembusukan di dalam yang dibiarkan tumbuh. Kebodohan, kezaliman, dan hilangnya arah ibadah. Sebaliknya, kemajuan Barat juga bukan buah dari kebobrokan moral mereka hari ini, melainkan hasil dari disiplin, ilmu, dan keadilan. Nilai-nilai yang sebetulnya paling ditekankan Islam, tapi justru ditinggalkan oleh umatnya sendiri.
Kalimat yang dinukil dari Ibnu Taimiyah itu jadi terasa masuk akal, bahwa Allah menolong negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menolong negara yang zalim meskipun beriman.
Penyakit berikutnya lebih halus, dan sudah punya prototipenya sejak zaman Musa.
Fa akhraja lahum ‘ijlan jasadal lahū khuwārun fa qālū hādzā ilāhukum wa ilāhu mūsā fa nasiya.
“Kemudian dia (Samiri) mengeluarkan untuk mereka anak sapi yang bertubuh dan bersuara, lalu mereka berkata, ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.'” (QS 20:88)
Masalah mereka bukan tidak percaya Tuhan. Masalahnya mereka tidak sabar dengan Tuhan yang tidak kelihatan, jadi dicarilah wujud yang bisa dipegang, dilihat, dan didengar suaranya. Anak sapi emas itu simbol penuhanan terhadap materi, dan bentuk modernnya tidak jauh berbeda. Kapitalisme yang rakus, hegemoni ekonomi, dan dominasi global.
Kemajuan yang mereka nikmati hari ini sebenarnya sisa momentum dari kerja keras generasi sebelumnya. Sementara hedonisme, individualisme yang berlebihan, dan kekerasan yang sudah melembaga itu bukan tanda kekuatan, melainkan gejala akhir dari peradaban yang mulai membusuk dari dalam.
Yang paling berbahaya justru cara Samiri membela dirinya.
Qāla baṣurtu bimā lam yabṣurū bihī faqabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasūli fanabadztuhā wa kadzālika sawwalat lī nafsī.
“Dia (Samiri) berkata, ‘Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, maka aku mengambil segenggam dari jejak rasul lalu melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.'” (QS 20:96)
Samiri tidak sekadar menyesatkan orang. Ia membungkus kesesatan itu dengan simbol kesucian, memakai jejak rasul sebagai bahan bakunya. Polanya berulang terus sepanjang sejarah. Ambisi kekuasaan dibungkus narasi agama supaya terlihat sah dan suci, dan agama berubah fungsi dari petunjuk menjadi stempel legitimasi. Kerusakan yang dibungkus simbol suci jauh lebih sulit dikenali daripada kerusakan yang terang-terangan.
Jadi kebingunganku selama ini terjawab. Kemunduran tidak datang mendadak, tapi dimulai dari satu generasi yang melepaskan nilai dasarnya. Dan kemajuan yang terlihat pada peradaban lain belum tentu tanda mereka sehat, bisa jadi cuma fase terakhir sebelum runtuh.
Yang jelas, peradaban yang membusuk dari dalam tetap akan roboh oleh kontradiksinya sendiri, sekokoh apa pun tampak luarnya.
Dan yang paling perlu aku waspadai bukan pembusukan di seberang sana, melainkan yang mungkin sedang berjalan pelan-pelan di dalam diriku tanpa aku sadari.
Wallahu a’lam.
