25 April, Juz 25
Bismillah.
Juz 25 mencakup ujung Surat Fussilat, lalu Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, sampai Al-Jatsiyah. Kalau dibaca berurutan, ada satu hal yang berubah dari awal ke akhir, dan perubahannya berupa postur tubuh.
Juz ini dibuka dengan seseorang yang berdiri di depan rakyatnya sambil mendongakkan dagu, dan ditutup dengan pemandangan seluruh umat manusia yang berlutut.
Postur pertamanya begini.
Wa nādā fir’aunu fī qaumihī qāla yā qaumi a laisa lī mulku miṣra wa hādzihil-anhāru tajrī min taḥtī… Am anā khairum min hādzal-ladzī huwa mahīnuw wa lā yakādu yubīn.
“Dan Firaun berseru kepada kaumnya berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir ini milikku dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku? … Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini (Musa) dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?'” (QS 43:51-52)
Perhatikan cara Firaun membandingkan dirinya dengan Musa. Ukurannya kerajaan, sungai, dan kelancaran berbicara. Sementara Musa dilabeli mahīn, orang hina yang bahkan bicaranya tidak jelas.
Itulah taktik tertua para tiran, yaitu merendahkan martabat lawan sampai ke titik lawan itu berhenti dipandang sebagai manusia. Begitu satu bangsa berhasil dilabeli bukan manusia, perampasan, pengusiran, dan pembantaian terhadap mereka terasa wajar di kepala pelakunya. Tidak perlu lagi pembenaran hukum, karena korbannya sudah dikeluarkan lebih dulu dari kategori yang perlu dilindungi.
Dan penjajah selalu meremehkan lawannya, karena kemuliaan di mata mereka cuma diukur dengan senjata, harta, dan dukungan kekuasaan.
Tapi menghina lawan saja tidak cukup. Rakyat sendiri harus dibuat percaya.
Fastakhaffa qaumahū fa aṭā’ūh, innahum kānū qauman fāsiqīn.
“Maka Firaun memengaruhi (membodohi) kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.” (QS 43:54)
Kata fastakhaffa itu inti seluruh mesin propaganda. Rakyatnya dibuat ringan akalnya, lalu kepatuhan datang dengan sendirinya. Ini menjawab pertanyaan yang sering muncul, bagaimana mungkin sebuah masyarakat mendukung kezaliman tanpa merasa bersalah sedikit pun. Jawabannya, karena mereka lebih dulu dibodohi secara sistematis.
Kebohongan diulang sampai terdengar seperti kebenaran, sementara fakta ditutup atau dibengkokkan. Cuma kenyataan punya caranya sendiri untuk membuka diri. Begitu dokumentasi lapangan dan laporan independen bermunculan, bangunan narasi itu runtuh tanpa perlu dirobohkan siapa pun.
Yang paling sering terjadi, tuduhan yang dilemparkan kepada pihak lain justru berbalik menjadi cermin yang memantulkan wajah penuduhnya. Kebatilan memang punya kebiasaan menelanjangi dirinya sendiri.
Lalu juz ini ditutup dengan pemandangan yang sama sekali berbeda.
Wa tarā kulla ummatin jāṡiyah, kullu ummatin tud’ā ilā kitābihā, al-yauma tujzauna mā kuntum ta’malūn.
“Dan engkau akan melihat setiap umat berlutut. Setiap umat dipanggil kepada catatan amalnya. Pada hari ini kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 45:28)
Jāṡiyah, berlutut. Nama surat ini diambil dari kata itu, dan menurutku bukan kebetulan kalau ia diletakkan sebagai penutup rangkaian tadi. Semua yang tadinya berdiri sambil menghitung kekayaan dan menghina orang lain berakhir dalam satu posisi yang sama.
Tidak ada lagi propaganda yang bisa dipakai. Tidak ada kekuasaan yang bisa menaungi. Tidak ada sekutu yang bisa dimintai perlindungan. Yang tersisa cuma catatan amal, dan setiap umat dipanggil menghadapi catatannya masing-masing.
Kekuasaan yang berdiri di atas ilusi materi, rasisme, dan pembodohan massal memang tidak pernah dirancang untuk bertahan lama. Keadilan itu bukan harapan yang kita hibur-hiburkan sendiri, melainkan kepastian yang jadwalnya sudah ditetapkan.
Dan yang membuatku diam agak lama, dalam ayat itu yang berlutut bukan cuma mereka. Setiap umat, termasuk aku.
Wallahu a’lam.
