27 April, Juz 27
Bismillah.
Juz 27 membentang dari Az-Zariyat ayat 31 sampai Al-Hadid ayat 29, dan berisi deretan surat yang megah, mulai dari Al-Qamar, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, sampai Al-Hadid. Kalau seluruh juz ini diringkas dalam satu kata, kata itu mizan, yang artinya timbangan atau keseimbangan.
Perjalanan kata itu bermula dari saat ia dipasang.
Was-samā’a rafa’ahā wa waḍa’al-mīzān. Allā taṭghau fil-mīzān.
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan mizan (keseimbangan). Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.” (QS 55:7-8)
Urutannya menarik. Langit ditinggikan, lalu timbangan diletakkan, lalu langsung disusul larangan supaya jangan dirusak. Seolah sejak awal sudah diketahui bahwa yang paling mungkin merusak keseimbangan itu adalah manusia sendiri.
Bentuk keseimbangan itu bahkan dicontohkan pada laut.
Marajal-baḥraini yaltaqiyān. Bainahumā barzakhul lā yabghiyān.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS 55:19-20)
Dua lautan bertemu tanpa saling menelan, karena ada barzakh, batas yang tidak dilanggar oleh keduanya. Tidak ada yang mendominasi, dan justru karena itu keduanya tetap ada.
Selama puluhan tahun tatanan dunia kehilangan bentuk itu. Hegemoni tunggal merasa berhak mendikte hukum internasional dan mengatur jalur perdagangan dunia sesuai kepentingan militernya sendiri. Persis yang dilarang di ayat tadi, taṭghau fil-mīzān, menekan salah satu sisi timbangan supaya hasilnya sesuai keinginan.
Dan setiap kali timbangan ditekan terlalu lama, selalu ada gaya yang mendorong balik. Kegagalan Amerika Serikat memaksakan kendalinya atas Selat Hormuz justru melahirkan poros maritim baru lewat koalisi Sabuk Keamanan Maritim antara Iran, Rusia, Oman, dan Pakistan. Lewat latihan gabungan dan koordinasi keamanan, negara-negara kawasan sedang membangun barzakh mereka sendiri, batas yang membuat kedaulatan laut mereka tidak lagi bisa dilanggar seenaknya oleh armada asing.
Yang menghalangi keseimbangan itu selama ini cuma satu, yaitu keyakinan bahwa mereka mustahil dikalahkan.
Am yaqūlūna naḥnu jamī’um muntaṣir. Sayuhzamul-jam’u wa yuwallūnad-dubur.
“Atau apakah mereka mengatakan, ‘Kami adalah golongan yang bersatu yang pasti menang?’ Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS 54:44-45)
Jamī’um muntaṣir, golongan yang pasti menang. Kalimat itu diucapkan dengan penuh percaya diri, dan jawabannya datang di ayat berikutnya tanpa jeda. Sanksi ekonomi dan gertakan armada kapal induk selama ini efektif karena semua orang percaya gertakan itu tidak mungkin ditolak. Begitu satu pihak berani menolak dan ternyata tidak hancur, mantranya kehilangan daya.
Perpindahan posisi seperti ini punya namanya sendiri.
Idzā waqa’atil-wāqi’ah… Khāfiḍatur rāfi’ah.
“Apabila terjadi Peristiwa Besar… (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).” (QS 56:1-3)
Khāfiḍatur rāfi’ah, yang merendahkan sekaligus yang meninggikan. Dua pekerjaan itu terjadi dalam satu gerakan. Tekanan yang tadinya dirancang untuk menundukkan pihak lain justru berbalik, dan negara-negara kawasan yang dulu cuma jadi objek sekarang ikut menentukan stabilitas global.
Juz ini ditutup dengan Al-Hadid, dan penutupnya pas sekali.
…wa anzalnal-ḥadīda fīhi ba’sun syadīduw wa manāfi’u lin-nās…
“…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” (QS 57:25)
Besi mewakili teknologi dan kekuatan militer, dan Allah menyebut dua sisinya sekaligus, kekuatan yang hebat sekaligus manfaat bagi manusia. Beberapa hari lalu di Juz 22 aku membaca perintah kepada Nabi Daud yang juga soal besi, lengkap dengan syaratnya, yaitu kerjakanlah amal saleh. Dua-duanya menunjuk ke arah yang sama. Besi bukan masalah, yang jadi masalah adalah ketika besi cuma dipegang satu tangan dan tidak ada yang menahannya.
Karena itu kekuatan penyeimbang bukan sekadar urusan politik. Ia bagian dari cara menahan arogansi supaya tidak berkembang tanpa rem.
Dan seluruh perhitungan ini tetap punya batas atasnya. Kullu man ‘alaihā fān, semua yang ada di bumi ini pasti berakhir. Termasuk poros baru yang hari ini sedang naik.
Dominasi yang berlebihan justru sering mempercepat keruntuhannya sendiri. Ketika kesombongan menolak tunduk pada keadilan, hukumnya sudah berjalan tanpa perlu diumumkan, yaitu yang tinggi direndahkan dan yang lemah diangkat.
Wallahu a’lam.
