11 Januari, Juz 11
Surat At-Taubah, yang menutup Juz 10 dan mendominasi awal Juz 11, adalah surat yang “galak”. Galak dan tegas, karena memisahkan siapa yang beriman dan siapa yang munafik dalam suasana terjadinya ekspedisi perang besar ke Tabuk. Surat ini juga satu-satunya surat yang tidak diawali Bismillah.
Tapi, justru di tengah ketegasan suasana perang yang digambarkan, di ayat 122, ada pesan yang sangat visioner dan menyentuh.
“Tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (liyatafaqqahu fid-din) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya…”
Bayangkan situasinya saat itu Perang Tabuk sudah di depan mata. Semangat jihad sedang tinggi-tingginya. Semua orang ingin berangkat, termasuk para anak muda yang sebenarnya sedang asyik belajar ilmu agama dari Nabi. Tapi apa respons Rasulullah? Beliau menahan sebagian dari mereka.
“Jangan semua berangkat,” kira-kira begitu.
Kenapa? Padahal perang butuh pasukan?
Nabi tidak hanya memikirkan kemenangan perang hari itu, tapi beliau memikirkan “perang” jangka panjang: perang menjaga ilmu dan peradaban. Kalau semua ahli ilmu mati syahid di medan perang, siapa yang akan mengajar generasi berikutnya? Siapa yang akan jadi rujukan umat saat pasukan pulang nanti?
Ayat ini (liyatafaqqahu fid-din) memberi pesan bahwa menuntut ilmu itu bobotnya setara dengan mengangkat senjata.
Nah, konteks di atas “ngena” banget dengan zaman kita sekarang.
Hari ini kita hidup di era di mana “panglima perang” adalah mereka yang jago koding, ahli bisnis, dokter spesialis, atau pakar marketing. Itu semua mulia, dan kita memang butuh itu untuk survive sebagai bangsa.
Tapi pertanyaannya, apakah kita juga menyiapkan para ahli ilmu agama?
Kekhawatiranku, kalau semua anak-anak terbaik kita, yang IQ-nya paling tinggi, energinya paling besar, cuma kita dorong habis-habisan untuk mengejar ilmu dunia, lalu siapa yang akan menjaga ilmu agama? Siapa yang akan menjawab kegelisahan zaman dengan hikmah Al-Qur’an?
Jangan sampai kita sukses mencetak profesional hebat, tapi “buta” peta kehidupan yang sesungguhnya.
Jadi, PR kita sebagai orang tua sebenarnya adalah integrasi.
Bukan berarti anak harus memilih antara jadi dokter atau jadi ulama. Tapi bagaimana kita menanamkan mindset tafaquh itu ke apapun profesi mereka. Kalau anak kita belajar bisnis, pastikan dia paham fiqih muamalah biar nggak terjebak riba. Kalau anak kita suka sains, ajak dia melihat itu sebagai cara mengagumi ciptaan Allah.
Investasi waktu dan uangnya juga harus adil. Kalau kita rela bayar mahal dan luangkan waktu berjam-jam untuk les matematika atau bahasa Inggris, semestinya kita punya porsi keseriusan yang sama untuk pemahaman Al-Qur’an mereka.
Pada akhirnya, peradaban yang kuat itu butuh dua sayap. Kita butuh pahlawan yang membangun gedung dan teknologi, tapi kita juga butuh penjaga ilmu yang membangun jiwa dan akhlak.
“Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, untuk Indonesia Raya”
Semoga anak-anak kita bisa menjadi generasi hibrida itu, yaitu kakinya kokoh di bumi dengan kompetensi duniawi, tapi hatinya terpaut ke langit dengan pemahaman agama yang dalam.
Itulah salah satu hikmah dari Juz 11 hari ini.
Wallahu a’lam.

