14 Februari, Juz 14.
Tadi pagi di kajian ba’da Subuh, penjelasan Ustadz masjid kami terasa seperti memukul gong kesadaran terkait perjalananku selama 14 hari di bulan Februari ini. Beliau membahas tentang Tarhib Ramadhan; persiapan menyambut Ramadhan yang mencakup lima dimensi: ruhiyyah (hati), ilmiyyah (ilmu), jasadiyah (fisik), amaliyah (amal), dan ijtima’iyyah (sosial).
Aku langsung merasa perlu stop dulu dan melihat ke belakang. Sudah dua minggu aku menjalani One Day One Juz, mencoba menggali bekal untuk Ramadhan. Aku pengin memastikan kalau hikmah itu bukan untuk dikoleksi, tapi untuk diamalkan.
Kalau dirangkum, 13 juz pertama terasa seperti fase pembersihan; kira-kira highlight-nya:
Meluruskan niat dan membuang sifat munafik
Menetapkan target takwa
Memperbaiki keluarga sebagai benteng
Menguatkan komitmen
Mengurangi distraksi dunia
Mengendalikan ego dan syahwat
Melatih istiqamah dan husnudzon
Semua itu seperti proses detox sebelum masuk medan Ramadhan.
Di Juz 14, Allah menghadirkan contoh yang sangat konkret dan praktis: lebah.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah… kemudian dari perutnya keluar madu yang di dalamnya terdapat obat bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 68–69)
Lebah bekerja sesuai petunjuk wahyu Allah, tidak banyak tanya, mengambil yang baik, menempuh jalan yang dimudahkan, lalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Ini pelajaran dari lebah.
Selama ini aku banyak menulis, merenung, memahami. Tapi praktiknya tidak selalu sejalan. Menahan amarah, menjaga pandangan, bangun malam, menjaga fokus dari distraksi, semuanya jauh lebih berat daripada hanya menuliskannya.
Ramadhan yang tinggal hitungan hari bukan bulan teori. Ini bulan praktik. Arena “walk the talk” yang sesungguhnya.
Karena itu aku mencoba menyederhanakan persiapan praktisku. Mengacu kepada apa yang sering diajarkan Ustadz Adi Hidayat (UAH), kurikulum aksi Ramadhan itu sebenarnya bertumpu pada tiga fokus utama: Shalat, Al-Qur’an, dan Infak.
Ini bukan berarti menyusutkan 5 dimensi Tarhib (dari kajian Subuh tadi) menjadi 3. Justru sebaliknya: di dalam 3 amalan inilah kelima dimensi itu melebur dan dipraktikkan secara nyata.
Ketiganya sangat sejalan dengan filosofi lebah:
Shalat (Mencakup dimensi Ruhiyyah & Jasadiyah) Aku ingin melatih shalat yang lebih khusyuk, memperhatikan bacaan demi bacaan, bukan sekadar senam fisik menggugurkan kewajiban. Menjaga wudhu, merutinkan ke masjid, dan bangun malam adalah latihan fisik (jasadiyah), sementara fokus/khusyuk adalah latihan hati (ruhiyyah). Ini ibarat lebah yang sangat disiplin membangun struktur sarangnya. Fondasinya harus kuat dan rapi.
Al-Qur’an (Mencakup dimensi Ilmiyyah & Amaliyah) Aku tetap menargetkan satu hari satu juz (amaliyah/amal rutin). Tahap tertentu menggantinya dengan tilawah yang lebih fokus ke pemahaman (ilmiyyah). Ini seperti lebah yang menempuh jalan Tuhannya untuk mencari dan menyerap sari bunga. Memastikan akal dan hati hanya mendapat asupan nutrisi yang terbaik.
Infak (Mencakup dimensi Ijtima’iyyah) Aku ingin memperbanyak infak, dimulai dari orang-orang terdekat. Karena ibadah vertikal yang tidak berdampak pada sekitar terasa belum lengkap (ijtima’iyyah/sosial). Inilah puncak karya sang lebah. Mengeluarkan madu dari dalam dirinya yang terbukti menjadi obat dan manfaat bagi manusia lain. Sangat tidak egois.
Tiga hal ini terasa sederhana dan praktis, tapi sebenarnya sudah mencakup seluruh dimensi persiapan secara paripurna.
Aku ingin masuk Ramadhan bukan sebagai orang yang baru mau mulai meraba-raba rute, tapi seperti lebah yang sudah tahu jalannya; tidak banyak keluh kesah, tinggal bekerja, dan menghasilkan madu.
Semoga Ramadhan kali ini tidak berhenti pada lapar dan haus, tapi benar-benar melahirkan amal yang menyembuhkan diri dan bermanfaat bagi orang lain.
Wallahu a’lam.
