10 Juli · Juz 10

Setiap kali mendengar Surat Al-Anfal dibacakan, ada rasa yang selalu terenyuh, terutama di ayat-ayat pembukanya. Ayat 2 menggambarkan, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” Lalu ayat 3 melanjutkan, mereka yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezekinya. Ayat 4 menutup dengan penegasan, itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.

Ada rindu yang muncul setiap kali menyimak ayat ini, ingin punya hati yang wajilat qulubuhum, hati yang benar-benar gemetar mendengar nama Allah disebut, bukan sekadar telinga yang mendengar rutinitas bacaan. Ingin hati yang bertambah imannya setiap kali ayat dibacakan, bukan hati yang datar-datar saja meski sudah ribuan kali mendengar ayat yang sama. Kadang terasa jauh, tahu ayatnya, hafal artinya, tapi belum tentu hatinya benar-benar bergetar seperti yang digambarkan.

Subuh tadi pagi, imam masjid membaca Surat Al-Anfal dari awal, meski sebagian ayatnya sebenarnya masuk Juz 9. Setelah pembukaan yang menggetarkan itu, surat ini kemudian bergerak ke bagian yang justru menjadi bahasan hari ini, ayat 62–63, tentang persatuan hati yang tidak bisa direkayasa manusia sebesar apa pun sumber dayanya.


Ayat 62 dibuka dengan ketenangan, “Dan jika mereka menghendaki untuk menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” Lalu ayat 63 melanjutkan, “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ada benang merah yang menghubungkan pembuka surat ini dengan ayat 62–63. Hati yang wajilat, yang gemetar ketika disebut nama Allah, adalah jenis hati yang sama yang dipersatukan Allah tanpa perantara harta atau rekayasa manusia. Persatuan sejati itu lahir dari hati yang sudah lebih dulu tunduk kepada Allah, bukan dari kalkulasi untung-rugi antar sesama manusia.

The Prisoner’s Dilemma dalam The Decision Book menjelaskan situasi klasik dalam teori permainan: dua pihak yang sebenarnya akan lebih untung kalau saling percaya dan bekerja sama, tetapi karena tidak ada jaminan pihak lain juga akan kooperatif, keduanya justru cenderung memilih mengkhianati demi mengamankan diri sendiri. Solusi yang biasa ditawarkan untuk keluar dari dilema ini adalah merekayasa insentif, membangun aturan main yang jelas, atau mengulang interaksi berkali-kali supaya kepercayaan terbentuk perlahan.

Ayat 63 menunjukkan jalan yang sama sekali berbeda dari solusi itu. Kalau logika Prisoner’s Dilemma mengasumsikan kepercayaan kolektif harus dibangun lewat mekanisme yang dirancang manusia—insentif, sanksi, atau sistem yang membuat kerja sama menjadi pilihan rasional—ayat ini justru menegaskan batas dari logika tersebut. Bahkan seandainya seluruh kekayaan bumi dibelanjakan untuk merekayasa persatuan hati kaum beriman, itu tetap tidak akan berhasil. Persatuan yang terjadi di antara para sahabat, yang sebelumnya terpecah oleh suku dan permusuhan turun-temurun, murni anugerah Allah, bukan hasil insentif duniawi secanggih apa pun.

Ini kontras yang cukup dalam untuk direnungkan. Selama ini kita cenderung percaya bahwa kerja sama dan kepercayaan kolektif bisa “dibeli” atau direkayasa, asal sistemnya cukup canggih, insentifnya cukup besar, atau aturannya cukup ketat. Ayat ini menunjukkan ada sesuatu yang melampaui itu semua: persatuan hati yang tulus, yang tidak bisa ditembus sekalipun dengan sumber daya tak terbatas, karena ini bukan soal kalkulasi untung-rugi, melainkan soal hati yang digerakkan oleh iman.

Rabbana, jadikan hati kami hati yang wajilat, gemetar mendengar nama-Mu, dan satukan hati kami sebagaimana Engkau menyatukan hati para sahabat. Kami tahu, tidak ada harta atau strategi yang bisa menggantikan anugerah itu.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News