3 Maret, Juz 3
Bismillah.
Membuka Juz 3 hari ini, ingatanku langsung melayang ke tadi malam. Di masjid dekat rumah, Masjid Baitul Hakim, aku yang sebenarnya tidak tahu jadwal khatib tarawih, tiba-tiba gembira bisa satu shaf lagi dengan Ustadz Dr. KH. Ali Sibro Malisi. Beliau tetangga depan rumah semasa aku masih tinggal di pondok mertua indah, jadi banyak kenangan dari masa bertetangga dan berjamaah di mushola seberang rumah itu.
Tadi malam beliau membawakan tema yang kaya kisah hikmah dan rasa syukur, soal infak dan prioritas amal. Paginya, saat membaca Juz 3, benang merahnya persis ada di sini, terhubung dengan dua figur besar yang cara berimannya jauh berbeda tapi sama-sama menakjubkan.
Juz 3 memang masif bicara infak. Dimulai dari janji 700 kali lipat di Al-Baqarah: 261, lalu adab agar tidak menyakiti penerima di ayat 262-264, sampai puncaknya di Ali Imran: 92: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna, sebelum menginfakkan harta yang kamu cintai.”
Ayat ini turun saat Abu Thalhah mewakafkan kebun kurma kesayangannya, Bairuha’, yang letaknya persis di depan Masjid Nabawi. Ia paham, surga tak bisa dibeli dengan yang biasa-biasa saja, hanya dengan yang paling ia cintai.
Tokoh pertama, Raja Najasyi. Ashama ibn Abjar, penguasa Habasyah. Ketika kaum beriman awal di Makkah tumbuh dan banyak yang tidak kuat menahan persekusi Quraish, sebagian dari mereka hijrah ke Habasyah dipimpin Ja’far bin Abi Thalib, sepupu Nabi sekaligus kakak dari Ali bin Abi Thalib. Mereka diterima dan dilindungi oleh Raja Najasyi. Beliau wafat di negeri yang jauh, tidak pernah hijrah ke Madinah, tidak pernah ikut perang Badar, tidak pernah duduk bersimpuh di majelis Nabi. Tapi ketika ia wafat, Rasulullah menshalatkannya dari jauh, shalat gaib.
Apa yang membuatnya istimewa? Di Surat Ali Imran ayat 91, Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, tidak akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, sekalipun ia menebus diri dengan itu.”
Emas sebanyak bumi tak bisa menebus dosa kekafiran. Raja Najasyi bahkan tidak punya emas sebanyak itu. Yang ia punya cuma satu: iman yang bersembunyi di dada seorang raja, dan keberanian menyembunyikan kaum muslimin yang dikejar-kejar Quraisy.
Ia selamat karena di saat kebanyakan penguasa memilih menindas kaum lemah, ia justru membuka pintu istananya untuk mereka. Wujud nyata keadilan sosial yang disebut dalam Surat At-Tawbah ayat 60, bahwa zakat dan infak diperuntukkan bagi mereka yang tertindas. Aku jadi teringat Bangsa Yaman dan Iran, Lebanon, dan semua bangsa pembela orang lemah, semoga Allah memberikan pahala dan rahmat karena pemimpin dan rakyat mereka telah rela berkorban.
Tokoh kedua, Uwais Al-Qarni, imannya lahir dari ruang paling sederhana: rumah.
Uwais tidak pernah ke Madinah. Ia tinggal di Yaman, sibuk merawat ibunya yang sudah renta. Tidak punya pasukan, tidak punya pengaruh. Di mata manusia mungkin ia tak lebih dari penggembala biasa. Tapi di langit, namanya harum melebihi banyak orang.
Rahasianya ada di Surat Al-Baqarah ayat 215. Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasul, kepada siapa kami harus berinfak?” turunlah ayat:
“Katakanlah: Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.”
Orang tua ada di urutan pertama. Uwais tidak menginfakkan harta, ia menginfakkan seluruh hidupnya, waktu, tenaga, masa mudanya, ia gadaikan untuk senyum ibunya. Bukti bahwa bakti kepada orang tua adalah infak yang paling utama, dan dari rumah yang penuh bakti, keberkahan mengalir turun-temurun.
Allah berfirman dalam Surat At-Tur ayat 21:
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka.”
Keberkahan yang tak terputus, warisan iman yang terus mengalir, itulah janjinya.
Raja Najasyi dan Uwais sama-sama tidak pernah bertemu Nabi secara langsung. Yang satu hanya sempat berkirim surat, yang satu lagi bahkan tidak pernah menginjak Madinah. Tapi keduanya mendapat tempat tertinggi di sisi Allah, satu lewat keberanian memihak yang lemah, satu lagi lewat kesetiaan diam-diam merawat ibunya.
Ustadz Ali Sibro tadi malam tidak sedang berceramah tentang teori infak yang rumit. Beliau hanya bercerita, dengan caranya yang sederhana, tentang bagaimana iman bisa bersemayam di hati siapa saja, raja atau rakyat biasa, asalkan tahu prioritasnya.
Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, sudah di tempat yang benarkah prioritas infakku selama ini? Rumahku sendiri, sudah jadi sumber keberkahan atau baru sekadar tempat singgah?
Ramadhan ini kesempatan untuk menjawabnya. Bukan dengan emas, bukan dengan status, tapi langkah kecil yang konsisten: bakti pada orang tua, perhatian pada yang lemah, keberanian berpihak pada kebenaran meski sendirian. Qodarullah, orang tuaku telah berpulang, namun aku masih punya kerabat dekat, saudara yang menjadi pihak terdekat menggantikan orang tua.
Infak kan salah satu pilar ibadah Ramadhan ini, selain Quran dan shalat, jadi..
Bismillah, infak gas terus.
Wallahu a’lam.



