Kesetiaan yang Tidak Bisa Dituntut
Bismillah.
Jangan pernah berharap kesetiaan dari orang lain. Terutama dari anak buahmu.
Kalimat itu mungkin terdengar sinis. Tapi bagiku, ini bukan pesimisme. Ini kejujuran yang datang dari pengalaman.
Suatu saat mereka bukan lagi anak buahmu. Mereka akan pindah divisi, resign, atau mungkin justru naik lebih tinggi darimu. Dan di titik itu, ikatan formal yang selama ini menjadi fondasi hubungan kalian akan berakhir.
Aku pernah mendatangi beberapa mantan anak buahku dan meminta maaf. Kalau-kalau dalam kepemimpinanku ada yang salah, ada yang membuat mereka kurang ikhlas menjalankan tugasnya. Bukan karena aku tahu persis di mana salahku. Tapi karena aku sadar bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, dan meminta maaf adalah cara paling jujur untuk menutup sebuah babak dengan bermartabat.
Lalu pertanyaan yang lebih berat muncul: bagaimana dengan anak buahku yang sekarang? Apa yang harus aku jaga?
Di Juz 17, Allah menceritakan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Dari luar, para penyair Quraisy terus merangkai narasi untuk menjatuhkan beliau. Dari dalam, tidak semua orang yang mengaku mengikuti beliau benar-benar ikhlas dan setia.
Tapi yang membuat Rasulullah SAW berbeda bukan caranya menuntut kesetiaan. Justru sebaliknya.
Allah berfirman dalam Surat Al-Anbiya ayat 107:
Wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin.
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
Rahmat. Bukan otoritas. Bukan kendali. Bukan tuntutan kesetiaan.
Rasulullah SAW tahu nama setiap sahabatnya, kondisi keluarganya, kegelisahan dan kelebihannya. Anas bin Malik melayani beliau selama sepuluh tahun dan berkata, “Beliau tidak pernah sekalipun berkata ‘uff’ kepadaku. Tidak pernah mempertanyakan apa yang aku lakukan atau tidak lakukan.”
Sepuluh tahun. Tidak pernah sekalipun.
Bukan karena Anas selalu sempurna. Tapi karena Rasulullah SAW tidak membangun hubungan di atas tuntutan. Beliau membangunnya di atas rahmat.
Dan ketika ada yang salah, beliau tidak mempermalukan di depan umum. Teguran dilakukan empat mata. Pujian dilakukan di depan banyak orang.
Beliau juga tidak memonopoli peran. Beliau mendelegasikan, mempercayai, dan membiarkan orang-orang di sekitarnya tumbuh bahkan melampaui dirinya. Abu Bakar, Umar, Ali, mereka semua tumbuh menjadi pemimpin besar bukan karena Nabi menahan mereka, tapi karena beliau memberi mereka ruang.
Maka jawaban atas pertanyaanku sendiri mulai terbentuk.
Yang harus aku jaga dengan anak buahku sekarang bukan kesetiaan mereka. Kesetiaan tidak bisa dituntut, ia hanya bisa tumbuh dari pengalaman diperlakukan dengan baik.
Yang harus aku jaga adalah:
Caraku menegur mereka, pastikan tidak ada yang pulang ke rumah dengan membawa luka karena dipermalukan di depan orang lain.
Caraku mengenal mereka, bukan hanya sebagai fungsi dalam tim, tapi sebagai manusia dengan kehidupan di luar kantor.
Caraku mendoakan mereka, secara spesifik, menyebut nama mereka satu per satu, memohon kemudahan dan keberkahan untuk perjalanan mereka.
Dan caraku melepaskan mereka ketika waktunya tiba, dengan bermartabat, tanpa rasa sakit hati, karena dari awal aku sudah tahu bahwa mereka bukan milikku.
Kesetiaan yang paling tulus bukan yang lahir dari ketergantungan. Ia lahir dari kenangan bahwa pernah ada pemimpin yang memperlakukan mereka dengan rahmat.
Wallahu a’lam.