Penggunaan dan Troubleshooting Manusia

1 Januari 2026 — Juz 1

Al-Fatihah dan Al-Baqarah berada di Juz 1. Bahkan akhir surat Al-Baqarah baru selesai di Juz 3. QS Al-Baqarah adalah surat paling panjang dalam Al-Qur’an. Seolah Allah sudah memberi isyarat sejak awal: hidup ini kompleks, maka petunjuknya pun tidak singkat. Tidak cukup satu dua ayat saja. Ia butuh kesabaran, pengulangan, dan perjalanan yang panjang.

Al-Qur’an disebut sebagai petunjuk, hudan, sejak ayat ke-2 Al-Baqarah.

Sebagai petunjuk, atau manual, atau guidance, artinya ia bukan sekadar bacaan. Bukan sekadar hafalan. Bukan sekadar simbol keimanan.

Karena jujur saja, banyak orang beriman, banyak orang ber-Islam, termasuk diriku, tapi belum menjadikan Al-Qur’an sebagai hudan. Padahal sejak awal Al-Baqarah Allah sudah menegaskan:

“Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS Al-Baqarah: 2)

Lalu pertanyaannya sederhana tapi berat:
kalau mau mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, mulainya dari mana?

Aku memilih mulai dari Juz pertama ini. Dari surat Al-Fatihah.

Al-Fatihah aku baca minimal 17 kali sehari dalam shalatku. Dan jujur saja, banyak dari Al-Fatihahku selama ini berlalu begitu saja. Duh.

Padahal aku sadar, kalau Al-Fatihahku dihayati dengan benar, dengan izin Allah SWT, shalatku pun akan lebih benar.

Aku mulai belajar memahami artinya, bukan sekadar terjemahannya.
Sungguh dahsyat. Tapi juga tidak mudah.

Saat membaca Al-Fatihah dalam shalat, kadang baru satu ayat, pikiran sudah ke mana-mana. Kadang juga buru-buru, tidak sempat memaknai.

Rakaat ini tidak sempurna.
Ya sudah, rakaat berikutnya aku coba lagi.

Shalat ini belum terasa utuh.
Shalat berikutnya aku ulangi lagi.

Pelan-pelan.

Kadang aku hanya berhenti di satu potong kalimat:

Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.

Ya Allah, aku hanya berharap kepada-Mu.
Bukan kepada bosku.
Bukan kepada proyekku.
Bukan kepada manusia-manusia yang bisa berubah kapan saja.

Atau di ayat ini:

Ihdinaṣ ṣirāṭal mustaqīm.

Ya Allah, kalau tadi pagi aku salah mengambil keputusan,
tolong beri aku petunjuk untuk sore ini.

Tidak panjang.
Tidak sempurna.
Tapi jujur.

Aku mulai percaya, mungkin begini caranya Al-Qur’an benar-benar menjadi guidance. Bukan dengan langsung paham semuanya. Tapi satu kata dihayati, lalu besok ditambah satu lagi.

Dari Al-Fatihah, lalu aku fokuskan ke ruku yang lebih tuma’ninah.
Ke sujud yang lebih senyap dan haru.
Ke duduk yang lebih penuh doa dan pengakuan.
Dan seterusnya.

Tidak instan.
Tidak selalu berhasil.
Tapi berproses saja terus.

Dan mungkin, itu sudah cukup untuk sebuah permulaan.

Di permulaan tahun ini, aku ikhtiar lagi, lagi, dan lagi.

Karena aku percaya, kalau Al-Fatihah dan shalatku aku jaga dengan sungguh-sungguh, Allah SWT akan menyempurnakan rahmat dan rahim-Nya kepadaku, insyaAllah.

Bismillah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News