Punya Koneksi “Orang Pusat”: Dahsyatnya Jalur Lobi Langit Lewat Shalat

9 Februari, Juz 9

Minggu lalu, aku sedih mendengar curhat ananda. Wajahnya murung karena tidak mendapatkan peran yang diharapkan untuk pentas sekolah.

Di perjalanan mengantar ke sekolah, sebagai seorang ayah, aku berbagi pengalaman kegagalan dan caraku bangkit.

“Nak, banyak harapan Ayah tidak terwujud. Tapi jauh lebih banyak harapan besar Ayah yang terwujud dengan cara ajaib. Kamu tahu kenapa?”

“Karena Ayah menjalin koneksi dengan Yang Maha Hebat. Ayah tidak mau hanya berusaha sendirian. Ayah sertakan koneksi dengan “Orang Pusat” untuk ikutan bantu. Dan akhirnya banyak happy ending.”

Hari ini, di Juz 9 (Surat Al-Anfal), Allah menceritakan dahsyatnya punya “jalur koneksi” tersebut.

Surat ini merekam momen Perang Badar. Situasinya mirip: umat Islam “kalah pamor”. Jumlah cuma 313, senjata minim. Musuh 1.000 orang, full armor. Secara logika, pasukan muslimin pasti kalah.

Tapi Nabi Muhammad SAW tahu caranya menang. Beliau tidak cuma sibuk mengasah pedang, tapi sibuk menghubungi koneksinya: “Orang Pusat”.

Sepanjang malam, Nabi berdoa sangat intens (Istighatsah), memanfaatkan privilese kedekatan-Nya. Beliau mengangkat tangan hingga sorbannya jatuh.

Hasilnya? “Orang Pusat” turun tangan.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ… “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu…” (QS. Al-Anfal: 9)

Kaum muslimin menang. Bukan karena jago perang, tapi karena jago melobi Langit.

Tapi ingat, lobi itu hanya berhasil kalau sinyal koneksinya kuat.

Secara bahasa, Shalat (الصلاة) satu akar kata dengan Shilah (koneksi).

Dan salah satu cara menguatkan sinyal koneksi adalah dengan shalat yang minimal 5 waktu.

Lalu, apa indikator sinyal kita kuat?

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…” (QS. Al-Anfal: 2)

Ini indikatornya: Getaran. Artinya segera merespon untuk menunaikan panggilan.

Kalau azan berkumandang hati masih datar-datar saja, lanjut di kesibukan dunia, itu tanda bahaya. Sinyal sedang lemah, sehingga lobi dan doa kita mungkin gagal terkirim.

Kenapa ini penting buat Ramadhan?

Ramadhan nanti adalah bulan “Grand Open House” terbesar dari Allah. Doa-doa dikabulkan, ampunan diobral.

Sayang sekali kalau kita masuk ke bulan itu dengan sinyal yang putus-nyambung. Proposal doa kita bisa pending hanya karena kita tidak punya koneksi yang bagus.

Maka di sisa hari menuju Ramadhan ini, mari kita perbaiki sinyal. Perbaiki getaran hati saat shalat.

Nak, mungkin kamu gagal di pentas sekolah. Tapi kalau koneksimu kuat dengan Allah, kamu akan jadi pemeran utama dalam skenario-Nya nanti.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News