9 Maret, Juz 9
Bismillah.
Hari ini puasa memasuki hari ke-19. Sebentar lagi memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, fase yang paling dinanti karena di dalamnya ada malam Lailatul Qadar. Semoga Allah memudahkan memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan ini.
Beberapa puluh tahun lalu, mungkin sekitar tahun 2000-an, istilah multitasking jadi populer waktu komputer Windows, seingatku Windows 3.1, mulai bisa menjalankan banyak aplikasi sekaligus. Rasanya luar biasa melihat satu mesin bisa membuka beberapa aplikasi di waktu yang sama.
Tapi psikologi modern bilang, bagi manusia, multitasking itu sebenarnya cuma ilusi. Otak kita tidak benar-benar mengerjakan banyak hal sekaligus, tapi terus berpindah fokus dengan sangat cepat, sampai perhatian jadi dangkal dan energi mental cepat terkuras. Yang sebenarnya terjadi bukan multitasking, tapi task switching, fokus yang terus meloncat dari satu hal ke hal lain.
Tanpa sadar, kebiasaan ini juga terbawa ke dalam ibadah.
Di bagian akhir Surah Al-A’raf, Allah memberi semacam “SOP” sederhana ketika Al-Qur’an dibacakan:
“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dengan sungguh-sungguh dan diamlah agar kalian mendapatkan rahmat.”
(Al-A’raf 204)
Ayat ini memberi dua perintah. Pertama fastami’u, dengarkan dengan penuh perhatian. Kedua anshitu, diam dengan tenang, bukan cuma diamnya lisan, tapi juga diamnya pikiran dari berbagai distraksi. Artinya Al-Qur’an menuntut kehadiran diriku sepenuhnya.
Seingatku, aku sering kena penyakit multitasking dalam ibadah. Saat imam membaca ayat dalam tarawih, tubuh memang berdiri rapi di shaf, tapi pikiran sering melompat ke mana-mana: memikirkan pekerjaan, menghitung rakaat, menunggu kapan shalat selesai, atau nebak-nebak tukang wedang ronde masih jualan atau tidak selepas tarawih.
Padahal shalat itu kan private call kepada Allah. Kenapa juga malah mikirin wedang ronde. Mungkin karena akhir-akhir ini udara dingin ditambah AC masjid yang makin menusuk. Sulit membayangkan panggilan langsung dengan Allah tersambung kalau pikiran kita sedang membuka banyak “aplikasi” urusan dunia.
Hal yang sama juga terjadi saat membaca Al-Qur’an. Di bulan Ramadhan banyak orang berlomba mengkhatamkan mushaf, padahal Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk mengejar jumlah halaman. Ia rahmat dan penyembuh hati, asy-syifa.
Makanya ayat di atas tidak bilang “agar kalian memahami”, tapi “agar kalian mendapat rahmat”. Rahmat Allah turun ketika hati benar-benar hadir menerima firman-Nya.
Al-Qur’an ibarat hujan yang menyuburkan tanah. Tapi hujan cuma memberi kehidupan pada tanah yang terbuka. Kalau tanahnya tertutup, air cuma mengalir lewat tanpa meninggalkan bekas. Begitu juga hati manusia, kalau sibuk dan tidak hadir saat ayat dibacakan, rahmat itu cuma lewat begitu saja.
Untuk bisa benar-benar “anshitu” di tengah dunia yang penuh distraksi ini, mungkin perlu yang bisa disebut infak ego (masih ingat pembahasan sebelumnya).
Infak ego berarti merelakan keakuanku demi memberi perhatian penuh pada sesuatu yang lebih penting. Contoh, ketika anak ingin bercerita, aku menutup ponsel dan mendengarkan. Ketika orang lain bersalah, aku menahan amarah. Dalam konteks ibadah, infak ego artinya menenangkan pikiran agar benar-benar hadir di hadapan Allah.
Menariknya, hati yang hadir dalam shalat dan Al-Qur’an biasanya jadi lebih lembut, dan hati yang lembut lebih mudah tergerak untuk berbagi kepada sesama.
Sebentar lagi kita memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Mungkin salah satu cara terbaik menyambutnya adalah belajar benar-benar mendengarkan Al-Qur’an, mematikan multitasking di kepala, biar raga, telinga, pikiran, dan hati berada di tempat yang sama ketika ayat-ayat Allah dibacakan.
Semoga Allah melembutkan hati kita dan menurunkan rahmat-Nya ketika kita mendengarkan firman-Nya.
Wallahu a’lam.
