22 April, Juz 22
Bismillah.
Sudah tiga minggu tulisanku isinya dakwaan terus. Hari ini agak berbeda, karena ada satu kabar yang bentuknya seperti retakan kecil di dinding yang selama ini terlihat tanpa celah.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, berkunjung ke Ankara pada 21 sampai 22 April 2026. Dua hal terjadi sekaligus di kunjungan itu. NATO memperkuat pertahanan Turki dengan rudal Patriot, sementara Turki memakai hak konstitusionalnya di dalam aliansi itu untuk memveto dan memblokir seluruh kerja sama formal NATO dengan Israel, sebagai protes atas genosida di Gaza.
Jadi di dalam satu aliansi yang sama, ada anggota yang menutup pintu untuk penjajah. Dan Juz 22 yang membentang dari Al-Ahzab ayat 31 sampai Yasin ayat 27 kebetulan berbicara persis tentang urusan koalisi dan persekongkolan.
Nama suratnya sendiri sudah menjelaskan, Al-Ahzab, yang artinya golongan-golongan yang bersekutu.
Wa lammā ra’al-mu’minūnal-aḥzāba qālū hādzā mā wa’adanallāhu wa rasūluhū wa ṣadaqallāhu wa rasūluhū wa mā zādahum illā īmānaw wa taslīmā.
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (Al-Ahzab), mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS 33:22)
Di Perang Khandaq, umat Islam dikepung gabungan kekuatan Quraisy, Yahudi Bani Nadhir, dan berbagai kabilah Arab. Kepungan itu tidak membuat mereka ciut, malah menambah keyakinan, karena kepungan semacam itu memang sudah dijanjikan sebelumnya.
Mesin perang Zionis hari ini juga selalu berlindung di balik Al-Ahzab versi modern, yaitu aliansi negara-negara Barat. Yang sering dilupakan, koalisi itu tidak pernah benar-benar satu hati. Yang menyatukannya bukan keyakinan, melainkan kepentingan. Dan yang direkatkan kepentingan selalu punya sambungan yang bisa dilepas. Langkah Turki memblokir akses Israel ke NATO adalah bukti bahwa mesin itu tidak sesolid penampilannya.
Yang menarik, Juz 22 juga memuat Surat Saba yang bicara soal kekuatan militer, dan syaratnya disebut dengan tegas.
…wa alannā lahul-ḥadīd. Ani’mal sābighātiw wa qaddir fis-sardi wa’malū ṣāliḥā…
“…dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud), (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amal yang saleh…” (QS 34:10-11)
Nabi Daud diberi anugerah yang di zaman itu setara revolusi industri pertahanan, yaitu kemampuan mengolah besi menjadi baju zirah. Tapi perintahnya tidak berhenti pada teknis pembuatannya. Ada tambahan di ujung, wa’malū ṣāliḥā, dan kerjakanlah amal saleh.
Kemampuan industri pertahanan Turki yang disorot dalam kunjungan itu sering disebut sebagai revolusi pertahanan tersendiri. Tapi ayat ini mengingatkan bahwa kekuatan militer sehebat apa pun tidak akan membawa keberkahan kalau tidak dipakai menegakkan keadilan. Kesadaran seperti itulah yang terlihat ketika sebuah kekuatan militer menolak dipinjamkan untuk menopang kezaliman.
Dan bagi pihak yang sedang panik karena barisannya retak, ada peringatan tersendiri.
Istikbāran fil-arḍi wa makras-sayyi’, wa lā yaḥīqul-makrus-sayyi’u illā bi’ahlih…
“Karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa siapa pun kecuali orang yang merencanakannya sendiri…” (QS 35:43)
Ada indikasi mereka berusaha memperluas konflik dan menciptakan musuh baru, tujuannya mengalihkan perhatian dari krisis di dalam negeri sendiri. Cara lama yang selalu dipakai penguasa yang sedang goyah. Masalahnya, hukum yang disebut ayat ini tidak bisa ditawar. Makar yang buruk tidak pernah menimpa siapa pun kecuali orang yang menyusunnya. Setiap upaya memperlebar konflik justru mempercepat isolasi mereka sendiri.
Jadi kesimpulanku hari ini agak lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Koalisi sebesar apa pun tidak sanggup mengubah ketetapan Allah, dan yang paling penting, dukungan terhadap kezaliman itu ternyata sudah tidak solid lagi.
Ketika sikap tegas justru muncul dari dalam sistem yang sama, itu tanda bahwa struktur yang terlihat kokoh sedang retak. Kebenaran memang selalu menemukan jalannya, dan kezaliman pada akhirnya roboh oleh beban yang ditumpuknya sendiri.
Wallahu a’lam.
