21 April, Juz 21

Bismillah.

Hari ini daftarnya panjang lagi. Ratusan pemukim ilegal Zionis menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa. Lima warga gugur di Gaza. Seorang remaja tewas ditabrak iring-iringan menteri di Hebron. Dua nyawa melayang karena serangan pemukim di Tepi Barat. Sebuah sekolah diledakkan di Lebanon Selatan.

Membaca daftar seperti ini, reaksi pertama biasanya sama, yaitu merasa musuh ini terlalu kuat dan terlalu leluasa. Tapi Juz 21, yang membentang dari Al-Ankabut ayat 46 sampai Al-Ahzab ayat 30, justru mengajak membaca gejala yang sama dengan kesimpulan yang berlawanan.

Maṡalulladzīnat-takhadzū min dūnillāhi auliyā’a kamaṡalil-‘ankabūt, ittakhadzat baitā, wa inna auhanal-buyūti labaitul-‘ankabūt, lau kānū ya’lamūn.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat sarang. Dan sesungguhnya sarang yang paling lemah adalah sarang laba-laba, seandainya mereka mengetahui.” (QS 29:41)

Perumpamaannya cerdas sekali kalau direnungkan. Jaring laba-laba itu memang mematikan, tapi hanya untuk serangga yang lebih lemah darinya. Sebagai bangunan, ia rumah paling rapuh yang ada. Tidak menahan angin, tidak menahan hujan, dan robek cuma dengan sapuan tangan.

Iron Dome, perlindungan Amerika, tembok beton pembatas, dan seluruh jaringan lobi mereka masuk kategori itu. Mematikan untuk yang tidak punya alat melawan, rapuh begitu berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar. Dan jaring itu sudah mulai robek di beberapa sisi. Seruan dari pakar PBB supaya hubungan dagang dengan mereka ditinjau ulang itu tanda kecil bahwa anginnya sudah mulai bertiup.

Yang lebih menarik justru pertanyaan berikutnya. Kalau mereka memang sekuat itu, kenapa cara membunuhnya seperti orang ketakutan?

Wa anzalalladzīna ẓāharūhum min ahlil-kitābi min ṣayāṣīhim wa qadzafa fī qulūbihimur-ru’ba…

“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab yang membantu mereka (golongan sekutu musuh) dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka…” (QS 33:26)

Dua kata kuncinya ṣayāṣīhim dan ar-ru’b. Benteng-benteng mereka, dan rasa takut yang dijatuhkan ke dalam dada.

Perhatikan pola serangannya. Dari udara, dari balik kendaraan lapis baja, dari jarak yang aman. Seorang remaja ditabrak iring-iringan kendaraan, sekolah diledakkan, permukiman dibom. Yang dipilih hampir selalu sasaran yang tidak mungkin membalas. Tentara yang mengaku terkuat sedunia tidak berperilaku seperti itu kalau hatinya tenang. Badannya memang terlindung baja, tapi isi dadanya diguncang ketakutan yang tidak bisa mereka akui.

Kekerasan yang menyebar ke mana-mana, dari Gaza, Tepi Barat, Lebanon, sampai penyerbuan Al-Aqsa, bukan tanda keberanian. Itu gejala paranoia yang sudah berjamaah.

Akar semua ini pun sudah disebut.

Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyudzīqahum ba’ḍalladzī ‘amilū la’allahum yarji’ūn.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka…” (QS 30:41)

Pemukim ekstremis tidak berhenti pada kekerasan fisik. Mereka membangun sistem yang menutup akses hidup orang lain, dengan memblokir jalan, membatasi pendidikan, dan memperluas wilayah sepihak. Itulah bentuk fasad yang sesungguhnya, kerusakan yang sudah jadi sistem.

Dan ujung ayatnya berisi hukum yang menenangkan. Liyudzīqahum, supaya mereka merasakan sebagian dari perbuatannya sendiri. Ketegangan di dalam negeri mereka, ketakutan yang menular ke seluruh masyarakatnya, dan perpecahan sosial yang makin lebar itu baru cicilannya.

Jadi yang selama ini terlihat sebagai dominasi sebenarnya reaksi panik dari sistem yang sudah retak dari dalam. Serangan yang makin sering dan makin brutal bukan tanda mereka menang, melainkan tanda mereka tidak lagi merasa aman.

Setinggi apa pun tembok yang dibangun dan secanggih apa pun teknologi yang dipakai berlindung, hukumnya tetap satu. Kezaliman yang sudah melewati batas justru menjadi awal dari kejatuhan.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News