Hari keempat, 18 September, Juz 18
Bismillah
Ya Allah, semoga dari umrah ke umrah menjadi penghapus dosa. Semoga memberi kesadaran akan kewajiban meningkatkan takwa, sehingga siap menghadapi segala ujian — ujian di hari-hari biasa, maupun ujian ketika menjalankan umrah berikutnya. Supaya bisa lebih baik lagi.
Kemarin aku menulis tentang ujian di perjalanan haji. Tapi ujian yang aku ceritakan kemarin datangnya dari luar. Hotel, bus, janji yang tidak terpenuhi.
Hari ini aku mau menulis ujian yang jauh lebih sulit, karena datangnya dari dalam.
Sai, dan sebuah teguran
Aku ingat waktu umrah pertama, umrah hadiah lewat wasilah adikku Dini.
Saat sai, aku ditegur oleh pemimpin rombongan. Beliau menyampaikan bahwa aku memisahkan diri dari rombongan.
Waktu itu maksudku aku pikir baik. Ada jamaah sepuh yang tertinggal, tidak dapat mengikuti bimbingan doa dan tahapan sai. Aku bermaksud membantunya.
Tapi begitu ditegur, aku melawan.
Dan justru dari perlawananku itu aku sadar mungkin saja di dalam niat membantu, ada yang tidak bersih. Ada riya di sana. Kalau memang murni ingin membantu, kenapa aku tidak terima saja waktu ditegur? Yang terluka waktu itu bukan niat baikku, tapi harga diriku.
Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan buruk. Dan aku bersyukur, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Memberi Pelajaran.
Umrah berikutnya, dan gesekan yang sepele
Di umrah berikutnya, terulang lagi dalam bentuk lain.
Ada gesekan soal hal sepele. Aku sudah lupa persisnya, entah soal rute menuju masjid, entah soal pilihan tempat shalat. Intinya satu: aku terlalu memaksakan caraku kepada istriku.
Astaghfirullah.
Sepele sekali kalau dilihat dari luar. Tapi di tanah suci, hal sepele itu terasa berbeda. Kita sedang berada di tempat yang seharusnya paling tenang, tapi yang bergerak justru ego.
Dan ternyata itu bukan ujian yang mengganggu ibadah, itu memang ujiannya
Juz 18 dibuka dengan daftar ciri orang beriman yang beruntung.
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun: 1–2)
Yang disebut pertama bukan tempat shalatnya. Bukan berapa kali. Tapi keadaan hatinya.
Artinya orang bisa berdiri di Masjidil Haram tanpa membawa apa-apa di dada, dan orang lain bisa khusyuk di mushola pom bensin.
Kalau ciri pertama orang beruntung adalah keadaan hati, maka yang perlu disiapkan sebelum berangkat juga keadaan hati. Bukan koper.
Amal yang dikerjakan dengan hati gemetar
Ada ayat di juz ini yang membuat aku terdiam lama.
وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ
“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut, karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al-Mu’minun: 60)
Aisyah pernah mengira ayat ini tentang orang yang berbuat dosa lalu takut. Beliau dikoreksi: bukan. Ini justru tentang orang yang beramal — shalat, berpuasa, bersedekah — tapi hatinya gemetar karena khawatir amalnya tidak diterima.
Ini kebalikan dari yang sering kita rasakan. Kita biasanya selesai beribadah lalu merasa lega, merasa sudah menunaikan sesuatu, merasa sudah cukup untuk hari itu.
Orang-orang dalam ayat ini justru sebaliknya. Sudah beramal, tetap gemetar.
Dan itu persis obat untuk penyakit yang aku alami saat sai dulu. Kalau hatiku gemetar soal apakah pertolonganku diterima atau tidak, aku tidak akan punya sisa tenaga untuk merasa tersinggung ketika ditegur.
Fatamorgana
Di surat berikutnya di juz yang sama, ada perumpamaan yang lebih keras lagi.
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءً ۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا
“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang kehausan, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun.” (An-Nur: 39)
Fatamorgana itu tidak terlihat palsu dari jauh. Justru sebaliknya, dari jauh dia tampak persis seperti air. Yang mengejarnya bukan orang bodoh, tapi orang yang benar-benar kehausan.
Amal yang bercampur riya bekerja persis seperti itu. Dari luar kelihatan seperti kebaikan. Bahkan pelakunya sendiri yakin sedang berbuat baik.
Aku yakin sedang membantu orang sepuh di tengah sai. Dari luar memang begitu kelihatannya. Tapi begitu didatangi dan diperiksa, begitu ditegur dan aku melawan, ternyata tidak seperti yang aku kira.
Dan satu lagi: teguran itu memang ujiannya
An-Nur menyimpan ayat yang turun di tengah peristiwa berita bohong tentang Aisyah.
لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًا
“Mengapa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri ketika kamu mendengar berita bohong itu?” (An-Nur: 12)
Perintahnya berprasangka baik kepada sesama mukmin.
Dan ini yang tidak aku lakukan waktu ditegur. Aku tidak berprasangka baik kepada pemimpin rombongan. Aku langsung menganggap beliau tidak paham maksudku, padahal beliau sedang menjalankan tanggung jawabnya menjaga rombongan tetap utuh.
Dua orang dengan niat baik bisa berbenturan. Yang menentukan siapa yang selamat bukan siapa yang niatnya lebih baik, tapi siapa yang lebih dulu bersedia mengalah.
Menyiapkan diri, bukan menyiapkan koper
Dari pengalaman-pengalaman itu, dan mungkin masih banyak lagi yang tidak aku sadari, ada satu hal yang jadi perhatianku sekarang.
Nanti akan ada lagi ini itu. Ujian-ujian yang tidak disangka. Selalu ada.
Dan menyiapkan diri untuk itu bukan seperti menyiapkan koper. Koper bisa dibereskan semalam sebelum berangkat. Ketegaran menghadapi ujian tidak bisa.
Ego tidak bisa dipacking. Emosi tidak bisa dimasukkan ke bagasi. Sifat memaksakan kehendak tidak akan hilang begitu kita memakai kain ihram.
Yang bisa dilakukan cuma satu: melatihnya dari hari ke hari. Di rumah, di kantor, di jalan, saat menghadapi orang yang menyebalkan, saat ditegur oleh orang yang kita rasa tidak berhak menegur, saat keinginan kita tidak dituruti.
Kalau itu dilatih terus sampai jadi kebiasaan, maka nanti di sana dia sudah jadi tameng, bukan pekerjaan rumah yang baru mau dimulai.
Yang aku bawa hari ini
Ujian di perjalanan ibadah ternyata dua macam. Yang datang dari luar, dan itu di luar kendali kita. Dan yang datang dari dalam, dan itu sepenuhnya urusan kita.
Yang kedua justru lebih berbahaya, karena tidak kelihatan seperti ujian. Dia datang menyamar sebagai niat baik, sebagai merasa benar, sebagai membela diri.
Seratus hari ini bukan untuk menghafal urutan gerakan. Seratus hari ini untuk melatih hal yang tidak bisa dikejar semalam sebelum berangkat.
Semoga dari umrah ke umrah kita jadi lebih baik. Bukan karena semakin hafal caranya, tapi karena semakin sedikit yang perlu dibela dari diri sendiri.
Apakah pembaca juga mempunyai pengalaman serupa?, yuk ceritakan di bagian komen.










