Hari ketiga, 17 September, Juz 17
Bismillah
Juz 17 ini melimpah bahannya. Al-Anbiya penuh kisah para nabi, satu demi satu. Lalu Al-Hajj, surat yang namanya saja sudah menunjuk ke arah madrasah ini.
Hari ini ada ayat yang istimewa tentang asal panggilan haji.
Seruan dari lembah kosong
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segala penjuru yang jauh.” (Al-Hajj: 27)
Perintah ini turun kepada Ibrahim, di lembah yang tidak ada apa-apanya. Tidak ada kota, tidak ada penduduk, tidak ada tanaman. Cuma bangunan yang baru saja selesai dia dirikan bersama anaknya.
Bayangkan diperintahkan menyeru manusia di tempat yang manusianya saja tidak ada.
Tapi diserukan juga. Dan sampai hari ini, ribuan tahun kemudian, orang masih berdatangan. Dari segala penjuru yang jauh. Termasuk dari kampung-kampung di Indonesia yang jaraknya delapan ribu kilometer dari lembah itu.
Kita-kita ini, yang menabung bertahun-tahun, yang mendaftar lalu menunggu antrian sekian tahun, sebenarnya sedang menjawab panggilan yang dikumandangkan seorang laki-laki di padang kosong pada zaman yang tidak bisa kita bayangkan.
Dan begitu panggilan itu dijawab, ternyata ceritanya belum selesai.
Yang menyembah di tepi
Beberapa ayat sebelumnya, di surat yang sama, ada ayat yang menarik diperhatikan.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍ ۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ِۨاطْمَاَنَّ بِهٖ ۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ِۨانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖ ۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَ
“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika dia memperoleh kebaikan, dia merasa tenang. Tetapi jika ditimpa ujian, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat.” (Al-Hajj: 11)
“Di tepi.” Bahasa aslinya ‘ala harfin — di pinggir, di bibir jurang, tidak di tengah. Posisi orang yang siap kabur kapan saja.
Cirinya jelas sekali: ibadahnya bergantung pada keadaan. Kalau lancar, tenang. Kalau diuji, berbalik.
Ayat ini letaknya di Surat Al-Hajj. Di surat yang bicara tentang perjalanan ke Baitullah, tentang haji.
Seolah kita diberi tahu sejak awal: perjalanan ke tanah suci itu selalu ada ujiannya.
Tahun itu
Tahun 2022. Haji pertama setelah dua tahun ditutup karena covid. Jumlah jamaah masih dibatasi, jauh lebih sedikit dari biasanya.
Tapi di tanah air, euforianya memuncak. Ada jalur yang ditawarkan tanpa perlu antri bertahun-tahun, lewat visa undangan. Travel menawarkannya secara masif. Calon jamaah terkumpul dalam jumlah besar. Banyak yang sudah menyetor, sudah pamitan, sudah diantar keluarga.
Qadarullah, visa yang keluar hanya sedikit sekali dari yang diharapkan.
Akibatnya berantai. Kamar hotel yang sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya jadi kosong. Fasilitas yang sudah direncanakan banyak yang batal. Bus antar-jemput dari hotel ke masjid tidak ada, padahal jaraknya jauh sekali untuk ditempuh jalan kaki oleh orang tua.
Dan jamaah yang sudah sampai di sana merasa tidak mendapatkan apa yang dijanjikan.
Aku tidak mau menuding siapa-siapa. Sebagian besar keadaan itu memang di luar kendali siapa pun di lapangan. Tapi yang aku lihat dengan mata sendiri, dan yang mau aku tulis, adalah apa yang terjadi pada manusianya, terjadi pada kami, para jamaah haji.
Di sana ada orang yang marah. Wajar, sangat wajar. Sudah mengeluarkan biaya besar, sudah menunggu lama, sudah membayangkan segalanya, lalu yang didapat tidak seperti yang dijanjikan.
Tapi ada juga yang jalan kaki jauh ke masjid, pagi dan sore, tanpa banyak bicara. Bukan karena mereka tidak kecewa. Kecewa itu tetap ada. Bedanya bagaimana mengekspresikannya.
Yang pertama membawa kekecewaannya masuk ke dalam ibadah. Yang kedua meletakkannya di luar pintu.
Ujian bukan tanda ditolak
Di juz yang sama, Al-Anbiya memberi kalimat yang lebih menyeluruh.
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35)
Perhatikan urutannya. Keburukan dan kebaikan, dua-duanya ujian.
Ini yang sering luput. Kita menyangka ujian itu cuma yang susah. Padahal berangkat dengan fasilitas yang serba nyaman juga ujian – ujian apakah kita masih ingat sedang beribadah, atau sudah bergeser jadi berwisata.
Jadi yang mendapat kamar dekat masjid diuji, yang jalan kaki jauh juga diuji. Cuma ujiannya saja yang berbeda.
Cara mengeluh yang diajarkan
Al-Anbiya juga menyimpan pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita mengeluh. Dari Nabi Ayyub, orang yang ujiannya barangkali paling berat di antara para nabi.
وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
“Dan ingatlah Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.'” (Al-Anbiya: 83)
Perhatikan susunan kalimatnya doanya.
Bagian pertama: menyampaikan keadaan. Aku ditimpa kesulitan. Ayyub tidak berpura-pura baik-baik saja. Mengeluh itu boleh.
Bagian kedua: mengingat sifat Allah. Engkau Yang Maha Penyayang.
Yang tidak ada di doa itu: tuduhan, protes, pertanyaan kenapa, dan kalimat merasa paling menderita.
Padahal kalau ada orang yang punya alasan untuk protes, Ayyub orangnya.
Itu contoh cara mengeluh yang tidak merusak iman. Keadaan disampaikan apa adanya, lalu ditutup dengan mengingat kepada siapa keluhan itu disampaikan.
Yang sampai kepada Allah
Dan penutup untuk hari ini, dua ayat yang masih di Surat Al-Hajj, yang meluruskan semuanya.
ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.” (Al-Hajj: 37)
Ayat ini aslinya bicara tentang hewan kurban. Tapi maknanya jauh lebih luas dari itu.
Yang sampai kepada Allah bukan bendanya. Bukan hotelnya, bukan jarak kamarnya ke masjid, bukan kelas penerbangannya, bukan berapa yang kita bayarkan.
Yang sampai cuma takwa.
Orang yang berjalan kaki dua kilometer karena tidak ada bus, dengan hati yang tetap tenang, membawa sesuatu yang sampai. Orang yang diantar bus ber-AC sampai depan pintu masjid, tapi sepanjang perjalanan sibuk membandingkan fasilitasnya dengan rombongan lain, mungkin tidak membawa apa-apa.
Ini bukan berarti kekecewaan itu tidak sah. Hak jamaah tetap hak, dan menuntutnya lewat jalur yang benar itu wajar. Tapi ada garis yang perlu dijaga: urusan hak itu selesaikan di tempatnya, jangan dibawa masuk ke dalam thawaf.
Yang aku bawa hari ini
Panggilan Ibrahim itu masih terdengar sampai sekarang, dan orang masih berdatangan dari segala penjuru untuk menjawabnya.
Tapi menjawab panggilan bukan akhir cerita. Justru di sanalah ujiannya mulai. Dan bentuk ujiannya sering kali sepele: kamar, bus, jarak, antrean, janji yang tidak ditepati, orang yang menyerobot.
Sepele, tapi sanggup membuat orang yang berdiri di tepi jadi berbalik.
Maka doa yang perlu dibawa sejak dari rumah, jauh sebelum berangkat, bukan cuma minta dimudahkan. Tapi minta diberi hati yang cukup lapang untuk melewati hal-hal kecil yang akan terjadi di sana.
Karena yang sampai kepada Allah bukan fasilitasnya. Yang sampai cuma apa yang kita bawa di dada, yaitu takwa.










