Hari keempat belas, 28 September, Juz 28
Bismillah
Kemarin aku menulis tentang hati yang mengeras karena terlalu lama terbiasa. Hari ini juznya memberi contoh yang paling dekat dengan hidupku sehari-hari.
Tangga kewajiban
Coba perhatikan bagaimana syariat mengatur frekuensi.
Haji diwajibkan sekali seumur hidup, itu pun bagi yang mampu. Umrah hukumnya sunnah, boleh berkali-kali, boleh tidak sama sekali. Shalat lima waktu wajib setiap hari, ketat sekali waktunya.
Dan di antara keduanya ada satu kewajiban yang frekuensinya mingguan: berkumpul di hari Jumat, mendengarkan nasihat dan hikmah.
Lima puluh dua kali setahun. Sepanjang hidup, jumlahnya ribuan.
Secara hitungan, itu kesempatan belajar yang jauh lebih banyak daripada haji dan umrah digabung sekalipun.
Pengakuan
Dan di sinilah aku harus jujur.
Karena sudah jadi kebiasaan, aku kadang mengantuk waktu khutbah.
Datang, duduk, dengar beberapa kalimat pembuka, lalu entah bagaimana mata mulai berat. Kadang sadar lagi ketika khatib sudah duduk di antara dua khutbah. Kadang bangun ketika iqamah.
Seharusnya setiap minggu aku pulang membawa ilmu, membawa hikmah, membawa tenaga baru untuk lebih bertakwa. Nyatanya banyak Jumat yang lewat tanpa meninggalkan apa-apa.
Juz ini bicara persis tentang itu
Surat Al-Jumu’ah menyebut perintahnya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Al-Jumu’ah: 9)
Perhatikan kata fas’au, bersegeralah. Akar katanya sama dengan sa’i, kata yang sudah berkali-kali muncul dalam catatan seratus hari ini.
Jadi berangkat ke masjid di hari Jumat itu disebut dengan kata yang sama dengan berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah. Bukan sekadar hadir. Ada unsur bergegas di dalamnya.
Lalu di penutup surat ada teguran yang terkenal:
وَاِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا ِۨانْفَضُّوْٓا اِلَيْهَا وَتَرَكُوْكَ قَاۤىِٕمًا
“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan meninggalkan engkau sedang berdiri.” (Al-Jumu’ah: 11)
Riwayatnya, saat itu datang rombongan dagang dari Syam. Sebagian jamaah keluar meninggalkan Nabi yang sedang berkhutbah.
Dan di sini aku biasanya merasa aman. Alhamdulillah aku tidak begitu. Aku tidak keluar. Aku tetap duduk sampai selesai.
Tapi duduk saja belum tentu selamat
Inilah yang perlu aku luruskan untuk diriku sendiri.
Jangan buru-buru merasa cukup hanya karena sudah hadir. Jangan merasa lebih baik dari mereka yang ditegur karena mementingkan perdagangan.
Karena orang yang meninggalkan khutbah dan orang yang tidur saat khutbah sama-sama tidak mendengar apa-apa. Yang satu badannya pergi, yang satu pikirannya pergi.
Bedanya cuma pada apa yang terlihat orang.
Dan ternyata Al-Qur’an sudah menyiapkan perumpamaan untuk yang hadir tapi tidak menyerap. Masih di surat yang sama, beberapa ayat sebelumnya:
كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا
“Seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (Al-Jumu’ah: 5)
Keledai yang punggungnya memikul kitab. Bebannya terasa, jaraknya ditempuh, tapi isi kitab itu tidak masuk ke dalam dirinya sama sekali.
Perumpamaan ini aslinya ditujukan kepada mereka yang diberi Taurat lalu tidak mengamalkannya. Tapi aku tidak berani merasa kebal darinya. Orang yang setiap Jumat datang, duduk, dan pulang tanpa membawa apa-apa sedang melakukan hal yang mirip.
Kalau ada madrasah haji, mestinya ada madrasah Jumat
Seratus hari ini aku sebut madrasah haji dan umrah. Tujuannya supaya nanti, ketika berdiri di sana, aku tahu apa yang sedang aku hadapi.
Tapi ada madrasah lain yang jauh lebih sering jadwalnya, dan selama ini aku perlakukan sebagai formalitas.
Shalat Jumat seharusnya juga madrasah. Dan madrasah itu mestinya ada hasilnya.
Kalau sebuah sekolah berjalan puluhan tahun dan muridnya tidak naik kelas sama sekali, yang bermasalah bukan sekolahnya saja. Muridnya juga perlu diperiksa.
Itu masalah yang harus aku perbaiki. Bukan dengan menyalahkan khatib yang membosankan, bukan dengan menyalahkan AC yang terlalu dingin atau karpet yang terlalu nyaman.
Beberapa hal sederhana yang terpikir olehku: datang lebih awal supaya tidak terburu-buru dan tidak kehabisan napas, tidak begadang di malam Jumat, duduk di tempat yang membuat aku harus memperhatikan, dan membawa niat belajar, bukan niat menggugurkan kewajiban.
Dan yang paling menentukan: mencatat satu hal saja dari setiap khutbah. Satu kalimat. Kalau dalam setahun aku bisa membawa pulang lima puluh dua kalimat, itu sudah jadi bekal yang tidak sedikit.
Yang melalaikan biasanya bukan yang haram
Surat berikutnya di juz ini memberi peringatan yang lebih luas:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Yang disebut sebagai pelalai bukan maksiat. Tapi harta dan anak. Dua hal yang kita kejar siang malam justru dengan alasan yang terdengar mulia.
Begitu juga dengan khutbah. Yang membuat pikiranku melayang biasanya bukan hal yang buruk. Biasanya pekerjaan yang belum selesai, rencana akhir pekan, urusan yang menunggu di kantor.
Semuanya halal. Semuanya penting. Dan semuanya tetap membuat aku pulang dengan tangan kosong.
Dan ada janji untuk yang mau memperbaiki
Juz ini tidak menutup dengan teguran saja. Ada janji yang sangat menenangkan:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2–3)
Aku sudah merasakan sendiri bagian min haitsu la yahtasib itu. Umrah pertama datang lewat hadiah doorprize adikku. Haji datang lewat satu telepon yang tidak kami duga.
Dan kalau rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka, mungkin perbaikan hati pun begitu. Bisa jadi datang lewat satu khutbah Jumat yang biasa saja, di masjid dekat rumah, dari khatib yang namanya tidak aku kenal, pada hari ketika aku kebetulan tidak mengantuk.
Jumat besok
Seratus hari ini akan melewati kira-kira empat belas kali shalat Jumat sebelum keberangkatan.
Empat belas kesempatan. Empat belas khutbah.
Kalau aku tidak bisa khusyuk mendengarkan khutbah di masjid dekat rumah yang sejuk dan tenang, apa dasarnya aku berharap bisa khusyuk di tengah ribuan orang yang berdesakan di mataf?
Latihan itu tempatnya di sini, bukan di sana.
Jumat besok aku akan mencoba datang lebih awal, duduk lebih depan, dan pulang membawa satu kalimat.







