Hari ketiga belas, 27 September, Juz 27
Bismillah
Kemarin aku menulis tentang rombongan yang tidak diizinkan masuk Masjidil Haram, padahal sudah berihram dan sudah sampai. Hati mereka sampai, meski kaki mereka tidak.
Hari ini juznya membahas kebalikannya. Orang yang kakinya sampai, tapi hatinya tidak.
Obrolan di jalan menuju Masjid Sultan
Beberapa waktu lalu aku mengobrol dengan seorang kawan muslim di Singapura. Dia karyawan baru di grup perusahaan kami.
Aku selalu senang bertemu sesama muslim di negeri orang. Ada rasa dekat yang muncul begitu saja, padahal baru kenal.
Kami berjalan menuju Masjid Sultan, dan sepanjang jalan melewati banyak sekali restoran yang dikelola orang Turki. Bangsa yang ulet berdagang. Restoran mereka ada di mana-mana, hampir di semua penjuru dunia.
Aku sempat bercerita kepadanya. Dulu, sekitar tahun 2016, jarang sekali aku bertemu orang Turki di tanah haram. Sekarang mereka ramai sekali menjalankan umrah.
Lalu aku bertanya, apakah dia sudah pernah umrah.
Belum, katanya. Masih ada di daftar keinginan.
Jawaban itu sederhana sekali. Tapi aku kepikiran juga setelah obrolan itu selesai.
Yang masih antre, dan yang sudah terbiasa
Di dunia ini ada ratusan juta muslim yang menyimpan keinginan yang sama dengan kawanku itu. Masih di daftar, belum kesampaian.
Dan di saat yang sama ada orang-orang yang sudah berkali-kali ke sana, sampai suasananya terasa biasa saja.
Aku sendiri pernah di tahap awal itu. Ingin, tapi tabungan tidak kunjung cukup. Lalu alhamdulillah diberi kesempatan, beberapa kali, lewat jalan-jalan yang tidak pernah aku rencanakan.
Kalau sudah seperti itu, maka aku harus lebih memahami konsekuensinya atau kewajibannya.
Teguran untuk orang yang sudah lama beriman
Juz 27 memuat satu ayat yang terasa seperti ditujukan kepada orang seperti aku.
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras?” (Al-Hadid: 16)
Perhatikan kepada siapa ayat ini ditujukan. Bukan kepada orang kafir. Bukan kepada orang yang baru belajar. Tapi kepada orang-orang yang sudah beriman.
Dan penyebab kerasnya hati disebutkan dengan jelas: fathala ‘alaihimul amad, mereka melalui masa yang panjang.
Jadi yang mengeraskan hati bukan dosa besar. Bukan musibah. Tapi waktu. Terlalu lama terbiasa, terlalu sering diberi, sampai yang luar biasa berubah jadi rutinitas.
Kawanku di Singapura itu belum pernah ke sana. Kalau dia diberi kesempatan tahun depan, aku yakin dia akan menangis saat pertama kali melihat Ka’bah.
Pertanyaannya untuk diriku sendiri: apakah aku masih bisa menangis seperti itu di tawaf yang kesekian?
Jumlah bukan ukuran
Ini yang perlu aku jaga.
Orang bisa pulang membawa cerita bahwa dia sudah umrah lima kali, sepuluh kali, dan itu tidak dengan sendirinya berarti apa-apa. Al-Hadid tadi justru memperingatkan bahwa masa yang panjang bisa berakhir dengan hati yang mengeras.
Sementara ada orang yang baru sekali seumur hidup, menabung bertahun-tahun, lalu pulang dengan hati yang benar-benar berubah.
Surat Ar-Rahman di juz yang sama menyebutkan siapa yang dijanjikan balasan:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِ
“Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya, ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46)
Bukan bagi yang paling sering datang. Bukan bagi yang paling banyak hitungannya. Tapi bagi yang takut saat menghadap Tuhannya.
Rasa itu yang tidak boleh hilang. Dan rasa itu justru yang paling mudah terkikis oleh pengulangan.
Apa yang harus dilakukan orang yang sudah diundang
Aku sangat bersyukur diberi kesempatan diundang dan diberangkatkan. Dan aku tahu betul kesempatan ini tidak dimiliki semua orang.
Tapi syukur itu tidak berhenti pada perasaan.
Kalau aku yang kebetulan diundang, maka yang harus aku pastikan adalah memanfaatkan undangan itu sebaik-baiknya. Termasuk menjadikannya pendorong untuk menjadi orang yang lebih baik, bukan sekadar koleksi pengalaman.
Ada ayat di juz ini yang menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰى
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)
Undangan itu pemberian. Tapi apa yang kita bawa pulang darinya, itu usaha kita sendiri.
Orang yang diundang lalu tidak berubah apa-apa, sebenarnya sedang menyia-nyiakan giliran yang diinginkan banyak orang. Termasuk kawanku di Singapura itu, dan jutaan orang lain yang namanya tidak kita kenal.
Semua akan binasa
Dan Ar-Rahman menutup semua perhitungan kita dengan satu kalimat:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۙ وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (Ar-Rahman: 26–27)
Restoran-restoran di sepanjang jalan itu akan binasa. Menara-menara di sekeliling Masjidil Haram akan binasa. Hitungan berapa kali kita umrah pun akan binasa bersama catatan perjalanan kita.
Yang tersisa cuma apa yang terjadi di dada kita saat berdiri di sana.
Catatan untuk tawaf berikutnya
Kawanku bilang umrah masih ada di daftar keinginannya. Semoga Allah segerakan.
Dan untukku sendiri, catatannya justru lebih berat. Karena aku sudah pernah ke sana, dan justru itu yang membuat ayat tadi terasa menunjuk ke arahku.
Semoga nanti, kalau diberi kesempatan lagi, aku tidak datang sebagai orang yang sudah hafal jalannya. Semoga aku datang seperti orang yang belum pernah melihat Ka’bah seumur hidupnya. Orang yang kangen dan rindu.
InsyaAllah.
Bagaimana dengan kamu?






