Saling Menasehati: Sifat Asli Keluar di Perjalanan, Jadi Latihannya Harus dari Rumah

Hari #30, 14 Oktober – Juz 14

Bismillah

Insya Allah, kalau nanti diberi kesempatan berangkat sekeluarga, yang perlu disiapkan bukan cuma koper dan biaya, tapi juga kesiapan masing-masing orang di dalamnya. Dan menyiapkan orang lain itu berarti mengajak, memberi tahu, dan sesekali menegur.

Saling menasihati memang hal biasa dalam keluarga, dan berlaku juga di lingkaran yang lebih luas, mulai dari keluarga besar, pertemanan, tim kerja, sampai urusan kantor. Tapi memberi nasihat itu sama sekali tidak mudah. Menyeru ke jalan Allah, yang pada dasarnya juga memberi nasihat, sering berakhir jauh dari tujuan awalnya, bahkan kadang hasilnya justru kebalikan dari yang diharapkan.

Menasihati istri butuh caranya sendiri, dan begitu juga menasihati anak-anak. Mengandalkan posisi sebagai kepala keluarga rasanya sudah kuno dan tidak bisa diharapkan hasilnya. Yang jauh lebih menentukan justru kedekatan personal.

Dan kedekatan itu tidak datang begitu saja. Orang yang tinggal satu rumah, bahkan satu kamar, belum tentu dekat secara personal.

Apalagi kalau sudah sampai pada bab berdebat.

Dan dalam perjalanan, sifat asli keluar sendiri

Ada pepatah yang bilang orang akan keluar sifat aslinya dalam perjalanan. Ternyata itu bukan sekadar pepatah.

Umar bin Khattab pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu bertanya, apakah kamu pernah bepergian bersamanya. Dijawab tidak. Apakah kamu pernah berurusan harta dengannya. Tidak. Apakah kamu pernah jadi tetangganya pagi dan petang. Tidak juga. Kata Umar, kalau begitu kamu tidak mengenalnya. Riwayat ini ada dalam Muwatha Malik.

Jadi bepergian bersama itu dijadikan salah satu alat uji untuk mengenal seseorang.

Alasannya disebut dalam hadis lain. Nabi bersabda bahwa safar itu sepotong dari azab, karena menghalangi seseorang dari makan, minum, dan tidurnya, lalu bila urusannya sudah selesai hendaklah segera kembali kepada keluarganya. Hadisnya dalam Bukhari dan Muslim.

Perjalanan ibadah seperti umrah dan haji itu persis begitu. Meninggalkan kenyamanan, dan di dalamnya pasti ada tantangan, rintangan, bahkan ujian. Lapar di waktu yang tidak biasa, kurang tidur, kepanasan, antre, menunggu bus yang tidak datang-datang.

Dan itu berlaku juga ketika perjalanannya bersama keluarga. Di rumah kita punya ruang masing-masing. Di sana, satu kamar, satu bus, satu jadwal, sepanjang hari.

Itu sebabnya urusan cara menasihati ini bukan soal sepele.

Juz ini memberi tiga cara

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Ayat ini turun dalam konteks dakwah kepada manusia secara umum. Tapi para ulama kemudian menurunkannya jadi prinsip penyampaian yang berlaku luas, termasuk dalam pendidikan dan dalam rumah tangga.

Hikmah, oleh Ibnu Katsir dimaknai dengan Al-Qur’an dan hadis. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar memaknainya lebih luas, yaitu cara yang bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, dan hati yang bersih.

Mau’izhah hasanah, kata Sayyid Quthb, adalah nasihat baik yang menembus hati dengan lembut dan diserap hati nurani dengan halus.

Jidal, atau berdebat dengan cara terbaik, oleh Ibnu Katsir dimaknai diskusi dengan wajah ramah dan perkataan yang baik. Buya Hamka memberi catatan penting, bahwa cara ini hanya dipakai ketika keadaan betul-betul terpaksa. At-Thabari bahkan menafsirkannya dengan memaafkan tindakan mereka, dan Mujahid dengan tidak menghiraukan tindakan yang menyakiti.

Sebagian ulama membaginya berdasarkan lawan bicara. Hikmah untuk mereka yang berilmu dan sedang mencari kebenaran, mau’izhah untuk orang awam, dan mujadalah untuk yang keras kepala.

Quraish Shihab menunjukkan satu hal yang mudah terlewat. Mau’izhah diikuti sifat hasanah, baik. Jidal diikuti sifat ahsan, terbaik. Sementara hikmah tidak diikuti sifat apa pun. Artinya nasihat itu ada yang baik dan ada yang tidak baik, dan perdebatan ada tiga macam: yang baik, yang terbaik, dan yang buruk.

Jadi memberi nasihat saja tidak cukup. Nasihat yang salah caranya justru masuk kategori yang tidak baik.

Bagaimana dengan caraku?

Selama ini ada dua hal yang aku pegang, yaitu memberi contoh dan membangun kedekatan personal sebagai ayah. Keduanya aku coba review dengan apa yang diajarkan para ulama.

Memberi contoh. Ini sejalan dengan apa yang disebut para ahli dakwah sebagai uswatun hasanah dan lisanul hal, yaitu dakwah lewat keadaan diri, bukan lewat ucapan. Dasarnya Al-Ahzab 21, bahwa pada diri Rasulullah ada teladan yang baik. Teguran kerasnya ada di surat Ash-Shaff, bahwa besar kemurkaan di sisi Allah bagi orang yang mengatakan apa yang tidak dia kerjakan.

Dalam urusan persiapan keberangkatan ini yang paling kelihatan. Mengingatkan anak supaya nanti di Haram disiplin shalat tidak ada artinya kalau Subuhku sendiri masih mepet.

Memahami apa yang mereka sukai. Maksudku bukan supaya ikut-ikutan, tapi supaya ada bahan obrolan yang isinya bukan nasihat melulu. Dan ternyata ini dicontohkan langsung. Ada hadis dalam Bukhari dan Muslim tentang Nabi yang bercanda dengan seorang anak kecil, menanyakan kabar burung peliharaannya. Tidak ada nasihat di situ, tidak ada pelajaran, cuma masuk ke dunia si anak.

Ali bin Abi Thalib juga punya kalimat yang diriwayatkan Bukhari, bahwa kita menyampaikan kepada manusia apa yang mereka pahami.

Itu sebabnya waktu bercerita soal perjalanan nanti, yang aku sebut bukan cuma masjidnya, tapi juga tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi di sana.

Menuruti kemauan mereka sebagai trade off. Ada hal-hal yang buat kita tidak penting tapi buat mereka besar artinya, dan kalau bisa dituruti sebaiknya dituruti.

Yang satu ini justru paling sulit dicarikan padanannya dalam istilah para ulama. Yang paling dekat mungkin prinsip rifq, kelembutan, yang kata Nabi tidak ada pada sesuatu kecuali menghiasinya.

Tapi aku harus hati-hati. Kalau ti, trade off bisa berubah jadi transaksi, dan anak jadi menurut karena ada imbalannya, bukan karena paham. Untuk urusan ibadah ini berbahaya. Yang perlu dijaga bukan tukar-menukarnya, melainkan pesan bahwa hubungan ini dua arah dan ayahnya juga mau mendengar.

Mengikuti gaya mereka, asal inti nasihatnya tetap sampai. Kalau yang mereka mau obrolan santai sambil makan, ya begitu caranya. Kalau yang nyambung perumpamaan dari dunia mereka, pakai itu. Yang dipertahankan isinya, bukan bentuk penyampaiannya.

Ini persis yang dimaksud dengan membedakan metode berdasarkan lawan bicara tadi. Dan dalam literatur dakwah, hikmah dijabarkan dalam beberapa bentuk, antara lain mengenal keadaan orang yang diajak bicara, memilih kata yang tepat, mencari titik temu, serta tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Dua yang terakhir itu yang belum masuk daftarku, padahal justru sering jadi masalah. Banyak nasihat gagal bukan karena isinya keliru, tapi karena waktunya tidak tepat. Dan dalam perjalanan, waktu yang tidak tepat itu banyak sekali, biasanya ketika semua orang sedang lelah.

Selalu mendoakan mereka. Yang satu ini paling kuat dasarnya, dan contohnya ada di sebuah kisah yang sering dibicarakan.

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Abu Umamah, seorang pemuda datang kepada Nabi dan meminta izin untuk berzina. Para sahabat yang mendengar langsung menghardiknya. Nabi justru berkata, mendekatlah. Pemuda itu mendekat lalu duduk.

Beliau kemudian bertanya satu per satu, relakah kalau hal itu menimpa ibumu, putrimu, saudarimu, bibimu. Setiap kali pemuda itu menjawab tidak, Nabi menimpali bahwa orang lain pun tidak rela.

Di akhir, beliau meletakkan tangannya di dada pemuda itu sambil berdoa agar Allah mengampuni dosanya, menyucikan hatinya, dan menjaga kehormatannya.

Urutannya menarik sekali. Didekatkan dulu, didudukkan, diajak berpikir lewat orang-orang yang dia sayangi, baru didoakan. Tidak ada bentakan sama sekali, padahal permintaannya jelas keterlaluan.

Ini yang perlu aku improve

Dari perbandingan tadi, ada satu hal yang hilang dari caraku.

Menasihati dalam keadaan berdua saja. Imam Syafi’i punya bait yang terkenal, yang intinya meminta agar nasihat disampaikan ketika sedang sendirian, karena nasihat di depan orang banyak itu sama saja dengan mempermalukan.

Di rumah, ini yang sering terlanggar. Menegur anak di depan saudaranya, atau membahas sesuatu dengan istri di depan anak-anak. Isinya mungkin benar, tapi caranya sudah membuat orang menutup diri sebelum isinya sampai.

Dan di sana nanti, ketika semuanya berbagi satu kamar, ruang untuk bicara berdua saja justru jadi barang langka.

Ayat sesudahnya langsung bicara soal sabar

Yang menarik, setelah memberi tiga cara tadi, surat ini tidak berhenti. Ayat-ayat berikutnya justru mengatur apa yang harus dilakukan ketika hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Disebutkan bahwa kalau membalas, balaslah setimpal dengan apa yang ditimpakan, tapi kalau bersabar, itu lebih baik bagi orang yang sabar. Lalu datang perintahnya.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

“Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah. Janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan jangan pula bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (An-Nahl: 127)

Lalu ditutup dengan penegasan bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

Jadi susunannya lengkap. Diberi cara menyampaikan, lalu diberi tahu bahwa kesabaran itu sendiri pun datangnya dari pertolongan Allah, bukan dari kekuatan kita.

Dua larangan di ayat itu yang paling mengena buatku. Jangan bersedih, dan jangan sempit dada. Dua-duanya yang biasanya muncul ketika nasihat sudah disampaikan berkali-kali tapi belum kelihatan hasilnya.

Yang paling melegakan ada di ujung ayat

Ayat 125 tadi ditutup dengan penegasan bahwa Allah yang lebih tahu siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk.

Jadi tugas kita menyampaikan dengan cara yang benar, dan hasilnya bukan urusan kita.

Itu melegakan sekaligus memberi batas. Melegakan karena kita tidak perlu memaksakan hasil. Memberi batas karena kalau hasilnya belum kelihatan, yang perlu diperiksa lebih dulu caranya sendiri, bukan langsung menyalahkan yang dinasihati.

Dan soal bab berdebat tadi, catatan Buya Hamka yang perlu aku pegang. Jidal itu pilihan terakhir, bukan yang pertama. Di rumah, yang dibutuhkan biasanya bukan argumen yang menang, melainkan obrolan yang tidak membuat orang menutup pintu.

Kalau benar perjalanan itu mengeluarkan sifat asli, berarti yang akan keluar di sana adalah yang sudah ada di rumah sekarang. Jadi latihannya memang dari sini.

Wallahu a’lam bi showab.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *