Aku Bilang ke Anakku, Shalat Itu Seperti HP yang Sedang Mencari Sinyal

Hari #29, 13 Oktober – Juz 13

Bismillah

Umrah nanti, insyaAllah kalau ada kesempatan berangkat bersama, jangan sampai jadi urusanku sendiri. Hikmah dan keutamaannya harus bisa aku tularkan ke anak-anak.

Kalau dilihat sekarang, masing-masing sedang di titik yang berbeda.

Yang pertama insyaAllah wisuda tahun ini dan sudah mulai berburu pekerjaan. Qadarullah dia sampai di tahap offering dari tempat yang memang diharapkan. Yang kedua di tahun terakhir SMA, sedang memantapkan pilihan kampusnya. Yang ketiga masih kelas dua SMP, sedang semangat-semangatnya dengan kegiatan tambahan, dan kemarin lolos seleksi matematika.

Waktu mereka ditanya mau minta apa

Yang kedua paling jelas. Dia ingin sekali ikut, karena ingin berdoa di sana meminta kampusnya. Ujiannya memang masih jauh dan pilihannya belum final, tapi niat berdoanya sudah ada dari sekarang.

Yang pertama, waktu diingatkan bahwa nanti di Haram harus disiplin shalat, jawabannya, “iya Ayah, kan lagi di sana, pasti akan lebih berusaha.”

Yang ketiga ini yang paling lucu. Ditanya mau minta doa apa kalau di Haram, jawabannya masih bingung. Ditanya apa mau sekolah yang dia idolakan, jawabannya nanti dipikirkan. Ditanya lagi, jawabannya tidak tahu.

Perumpamaan yang aku pakai ke yang ketiga

Ke dia aku coba jelaskan dengan bahasa yang dekat dengan dunianya.

Shalat itu seperti HP kamu yang sedang mencari koneksi internet. Begitu koneksinya dapat, kamu bisa terhubung. Dan ini koneksinya dengan Allah yang Maha Kaya.

Dia bilang iya iya.

Perumpamaan ini aku pakai supaya dia menangkap maksudnya dulu. Tapi ada yang perlu aku lengkapi nanti, supaya tidak salah tangkap.

Shalat itu bukan alat untuk mendapatkan sesuatu. Shalat itu kewajiban, dan yang utama di dalamnya penghambaan, bukan permintaan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang yang sedang shalat itu sedang bermunajat dengan Rabbnya, dan bahwa keadaan hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika sujud.

Dan doa pun tidak selalu dijawab dalam bentuk yang kita minta. Ada riwayat yang menyebut tiga kemungkinan: dikabulkan sesuai permintaan, disimpan untuk akhirat, atau dipakai menolak keburukan yang kita sendiri tidak tahu. Jadi tidak seperti server yang otomatis merespons.

Aku juga ceritakan gambaran di sana nanti. Bukan cuma ke masjid, tapi ada banyak tempat yang bisa dikunjungi, termasuk kuliner dan mal. Supaya dia tertarik dulu, baru masuk yang lain-lainnya.

Soal shalat mereka sekarang, relatif sudah rutin. Tapi untuk Subuh masih harus dibangunkan. Dan kalau aku ke masjid, anak-anak berjamaah di rumah bersama bundanya. Belum seperti yang diharapkan, tapi juga bukan dari nol.

Doa Ibrahim yang alasannya cuma satu

Surat Ibrahim di juz ini memuat doa beliau ketika menempatkan keluarganya di lembah Makkah.

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman, di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat.” (Ibrahim: 37)

Alasan yang beliau sebut cuma satu, agar mereka mendirikan shalat. Bukan agar selamat, bukan agar berkecukupan. Padahal tempatnya lembah tanpa tanaman, dan yang ditinggalkan di sana istri dan bayinya.

Permintaan rezeki dan hati manusia yang condong kepada mereka memang ada, tapi disebut sesudahnya.

Lalu beberapa ayat kemudian doanya diulang dalam bentuk lain.

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (Ibrahim: 40)

Dirinya dulu, baru keturunannya. Urutannya sama dengan ayat Hud kemarin.

Kenapa shalat yang diminta, bukan yang lain

Mereka bertiga sedang mengejar hal yang berbeda. Pekerjaan, kampus, dan kegiatan di sekolah. Semuanya butuh usaha dan semuanya belum pasti hasilnya.

Kalau Ibrahim boleh meminta apa saja untuk keturunannya, di tempat yang secara hitungan paling tidak menjanjikan, dan yang beliau minta justru shalat, berarti itu yang paling menentukan. Bukan karena shalat menjamin permintaan kita turun, tapi karena orang yang shalatnya terjaga punya hubungan yang terjaga juga.

Jawaban anak pertamaku tadi, “kan lagi di sana, pasti akan lebih berusaha”, itu benar sekaligus perlu dilengkapi. Tempatnya memang membantu. Tapi yang akan terpakai di sana adalah yang sudah dilatih di rumah.

Masih di juz ini ada ayat yang melengkapi.

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

Anak yang sedang memilih jurusan, yang sedang menunggu kepastian kerja, atau yang belum tahu mau jadi apa, sama-sama butuh ketenangan itu. Dan latihannya ada di shalat.

Yang ditanam sekarang, berbuahnya nanti

Masih di surat yang sama ada perumpamaan yang pas.

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِ ۙ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍۢ بِاِذْنِ رَبِّهَا

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya.” (Ibrahim: 24-25)

Yang disebut pertama akarnya, bukan buahnya. Dan buahnya datang setiap waktu, bukan sekali.

Jadi yang ketiga yang masih bilang nanti dipikirkan itu tidak apa-apa. Dia belum tahu mau minta apa, dan itu wajar untuk anak seusianya. Yang penting akarnya ditanam sekarang, supaya nanti ketika dia tahu apa yang dia inginkan, dia sudah tahu cara memintanya.

Untuk yang pertama, yang terus kami ingatkan adalah bahwa privilege yang dia punya sekarang itu nikmat yang harus disyukuri, supaya barakah dan berlanjut. Untuk mencapai cita-citanya yang menantang, keahlian mendekat kepada Yang Kuasa sama pentingnya dengan keahlian teknis.

Caranya pelan-pelan

Sampai hari ini aku masih berpikir, cara terbaik mengajarkan ini ke mereka adalah dengan memberi contoh, memberi wawasan, dan mendorong pelan-pelan selama periode ini.

Bukan dengan ceramah panjang, dan bukan dengan target yang dipasang mendadak. Termasuk urusan Subuh yang masih harus dibangunkan itu, yang di sana nanti bangunnya bukan jam lima melainkan jam tiga.

Menantang, tapi terus kami ikhtiarkan. Lewat kebersamaan, dan lewat doa.

Seperti doa Nabi Ibrahim tadi. Dirinya dulu, baru anak cucunya.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *