Kawan di Gym Itu Mengajak Kedua Orang Tuanya Umrah, dan Dulu Kok Aku Tidak Pernah Kepikiran Ya?

Hari #31, 15 Oktober – Juz 15

Bismillah

Tempo hari di gym, seorang kawan bercerita baru pulang umrah mandiri. Dia mengajak keluarganya sekaligus kedua orang tuanya.

MasyaAllah.

Dan jujur saja, hal seperti itu tidak pernah terlintas di pikiranku dulu, waktu kedua orang tuaku masih sehat. Mungkin karena waktu itu terasa di luar jangkauan, apalagi dengan posisiku sebagai ASN kala itu, dan mulai meniti karir di swasta.

Qadarullah, sekarang mereka berdua sudah dipanggil Allah.

Membayangkan beratnya

Sekarang saja, menyiapkan rencana perjalanan dengan anak-anak, perjuangannya sudah terbayang. Membangunkan mereka sebelum Subuh, berburu tempat shalat, berdesakan keluar masuk masjid, menjalani umrahnya sendiri, dan banyak hal lain.

Bagaimana kalau yang kita ajak justru orang tua kita, yang secara teori tidak sekuat anak-anak?

Jadi aku makin menghargai apa yang dikerjakan kawanku itu.

Juz ini memuat ayatnya

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا ۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Al-Isra: 23)

Lalu ayat berikutnya memberi doanya.

وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا

“Dan ucapkanlah, Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isra: 24)

Perintah berbuat baik kepada orang tua itu diletakkan langsung setelah perintah tauhid, tanpa jeda. Dan yang dilarang pertama bukan perbuatan besar, melainkan satu kata pendek, “ah”.

Lalu apa yang masih bisa aku lakukan

Pertanyaan itu yang aku cari jawabannya. Ternyata masih banyak, dan sebagiannya justru tidak butuh keberangkatan ke mana-mana.

Mendoakan mereka. Nabi bersabda bahwa ketika seseorang meninggal, terputus amalnya kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Yang disebut bukan anak yang berhasil, bukan anak yang mapan, melainkan anak yang mendoakan.

Dan doanya sudah diajarkan di ayat tadi, rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira.

Memintakan ampunan untuk mereka. Bisa setiap hari, tanpa biaya apa pun.

Bersedekah atas nama mereka. Ada hadis tentang seseorang yang ibunya meninggal mendadak, lalu bertanya apakah bermanfaat kalau dia bersedekah atas namanya, dan Nabi menjawab ya. Riwayat Bukhari dan Muslim. Yang jariyah lebih baik lagi, karena mengalir terus selama masih dipakai orang.

Menunaikan kewajiban yang tertinggal, seperti utang, utang puasa, dan nazar.

Menyambung hubungan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Ini yang paling sering terlupa. Nabi bersabda bahwa di antara bakti yang paling baik adalah menyambung hubungan dengan keluarga sahabat ayahnya (HR. Muslim). Jadi menanyakan kabar kawan lama bapak, atau menjenguk saudara-saudaranya, itu terhitung bakti.

Soal menghadiahkan bacaan Al-Qur’an, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkan, sebagian berpendapat yang jelas dalilnya adalah doa dan sedekah. Yang disepakati sudah cukup banyak, jadi aku pegang itu dulu.

Dan yang bisa dilakukan di sana

Ini yang harus aku persiapkan, dan insya Allah jalannya dimudahkan.

Badal umrah untuk orang yang sudah meninggal dibolehkan menurut mayoritas ulama dari empat mazhab, dan hukumnya disamakan dengan badal haji.

Syaratnya, pelakunya harus sudah menunaikan untuk dirinya sendiri lebih dulu. Dasarnya hadis tentang Syubrumah. Nabi mendengar seseorang bertalbiyah atas nama Syubrumah, lalu bertanya siapa Syubrumah, dijawab saudara atau kerabatnya. Nabi bertanya lagi apakah dia sudah berhaji untuk dirinya sendiri, dijawab belum. Maka Nabi bersabda, berhajilah untuk dirimu dulu, baru untuk Syubrumah. Riwayat Abu Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi.

Alhamdulillah syarat itu sudah terpenuhi.

Teknisnya, satu umrah untuk satu orang. Jadi untuk bapak dan ibu perlu dua kali umrah, dengan dua kali ihram dari miqat. Syekh Bin Baz menjelaskan, kalau umrah pertama sudah selesai, umrah berikutnya bisa diambil dengan berihram dari tanah halal terdekat, misalnya Tan’im.

Artinya kalau nanti diberi kesempatan, perjalanannya bisa diatur. Umrah pertama untuk diri sendiri, lalu untuk bapak, lalu untuk ibu.

Ditambah mendoakan mereka di sana, dan bersedekah atas nama mereka.

Yang paling berat dari semuanya

Kalau anak saleh yang mendoakan itu termasuk satu dari tiga yang tidak terputus, berarti bakti terbesar untuk orang tua justru menjaga diri sendiri tetap saleh.

Dan supaya rantainya tidak putus, anak-anakku juga perlu tumbuh begitu. Karena nanti merekalah yang akan mendoakan aku.

Jadi yang aku tulis beberapa hari terakhir soal mendidik anak itu ternyata bukan urusan yang terpisah. Itu juga bagian dari bakti kepada orang tuaku.

Dan satu pesan untuk yang masih punya kesempatan

Kalau kedua orang tuamu masih ada, dan kamu masih punya jalan untuk mengajak mereka, jangan terlalu lama menimbang-nimbang.

Aku dulu merasa itu di luar jangkauan, dan ternyata yang lewat bukan cuma kesempatannya, tapi juga waktunya.

Ya Allah, sayangilah bapak dan ibuku sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil.

Wallahu a’lam bi showab.

 
 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *