Hari #32, 16 Oktober – Juz 16

Bismillah

Khusyuk dalam shalat itu tidak mudah, dan aku sendiri masih jauh dari sana. Jadi pertanyaan berikutnya tambah berat, bagaimana caranya mengajarkan hal itu kepada anak-anakku.

Kalau aku perhatikan, shalat mereka sekarang kira-kira seperti shalatku di waktu-waktu kecil atau remaja dulu. Gerakan dijalankan, bacaan dilafalkan, waktunya dipenuhi, tapi buru-buru, kelihatan seadanya.

Tapi aku yakin ini bagian dari proses.

Dan ternyata memang bertingkat

Yang menguatkan dugaan itu, Ibnul Qayyim dalam kitab al-Wabil ash-Shayyib membagi orang yang shalat ke dalam lima tingkatan.

Pertama, orang yang menzalimi dirinya sendiri, yaitu yang tidak menyempurnakan wudu, waktu, batasan, dan rukun shalatnya.

Kedua, orang yang sudah menjaga waktu, rukun, dan wudunya secara lahir, tapi belum bersungguh-sungguh melawan bisikan dan lintasan pikiran, sehingga pikirannya terbang ke mana-mana.

Ketiga, orang yang menjaga semua itu sekaligus berjuang melawan bisikan tadi, sehingga dia berada dalam shalat dan dalam perjuangan sekaligus.

Keempat, orang yang menyempurnakan seluruh hak dan rukun shalatnya, dengan hati yang larut menjaganya agar tidak ada yang terlewat.

Kelima, orang yang melakukan semua itu lalu meletakkan hatinya di hadapan Tuhannya.

Ibnul Qayyim menyebut akibatnya berbeda untuk masing-masing. Yang pertama mendapat hukuman, yang kedua dihisab, yang ketiga dihapus dosanya, yang keempat diberi pahala, dan yang kelima didekatkan kepada Rabbnya.

Jadi dugaanku tadi benar. Khusyuk itu bukan tombol yang menyala atau mati, melainkan tingkatan yang dinaiki satu per satu.

Segala sesuatu bisa diajarkan

Aku percaya segala sesuatu bisa diajarkan, dan pengalamanku menyusun pelatihan di korporasi semestinya bisa dipakai juga untuk urusan ini.

Prinsipnya sama. Kalau mau menaikkan kemampuan orang, kita tidak bisa langsung menargetkan tingkat tertinggi. Yang dilakukan menetapkan posisi sekarang, menentukan tingkat berikutnya yang masuk akal, lalu merancang latihan untuk pindah ke sana.

Lima tingkatan tadi persis itu bentuknya.

Kalau anak-anak sekarang ada di tingkat kedua, yaitu tertib secara lahir tapi pikirannya ke mana-mana, maka targetnya bukan langsung tingkat kelima, melainkan tingkat ketiga. Yaitu mulai sadar bahwa pikiran yang melayang itu bisa dan perlu dilawan.

Dan untuk itu mereka perlu tahu dulu bahwa hal itu memang bisa dilawan, karena banyak orang tidak pernah diberi tahu.

Yang diajarkan para ulama

Hadis yang paling sering dirujuk adalah riwayat Amr bin Syu’aib dalam Sunan Abu Dawud, bahwa Nabi memerintahkan kita menyuruh anak shalat ketika berumur tujuh tahun. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa usia itu awal kesadaran atau tamyiz.

Yang menarik, para ulama memahami kata memerintahkan di situ bukan sekadar menyuruh, melainkan juga mengajarkan. Dalam Aunul Ma’bud disebutkan bahwa perintah itu mencakup mengajarkan syarat, rukun, dan tata caranya. Jadi yang dibebankan kepada orang tua bukan cuma mengingatkan, tapi memberi ilmunya.

Al-Mawardi memberi nasihat teknis yang bagus sekali. Latihlah anak menghafal bacaan shalat sedikit demi sedikit, jangan sekaligus, supaya tidak memberatkan dan tidak membuat bosan. Prinsipnya sama dengan membagi materi pelatihan menjadi sesi-sesi pendek.

Dan Al-Ghazali menyebut kalimat yang paling mengena, bahwa anak-anak akan tumbuh sesuai kebiasaan yang mereka lihat di rumahnya.

Anak-anakku sudah lewat dari usia tujuh dan sepuluh tahun. Jadi tahapan yang berlaku sekarang bukan lagi soal mengajarkan gerakan, melainkan soal menaikkan kualitasnya. Dan di tahap ini yang paling berpengaruh tinggal dua, yaitu contoh dan dorongan.

Ayat yang paling pas ada di juz ini

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

Setelah perintah shalat, maka perintah berikutnya: bersabarlah.

Yang diminta bersabar bukan keluarga yang diperintah, melainkan yang memerintahkan. Jadi sejak awal sudah diberi tahu bahwa ini urusan panjang yang tidak akan langsung jadi.

Di juz ini juga ada ayat yang paling dasar soal kenapa shalat itu ada.

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

“Dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaha: 14)

Kalau tujuannya mengingat, berarti ukuran keberhasilannya memang ada di hati, bukan di jumlah rakaat. Dan itu yang perlu sampai ke anak-anak, bahwa shalat dengan pikiran melayang itu tetap sah, tapi belum sampai ke tujuannya.

Umrah sebagai milestone

Jadi, apabila diizinkan Allah, rencana perjalanan umrah bisa jadi milestone.

Setiap program latihan butuh titik ukur, sesuatu yang dituju dan punya tanggal. Dan rencana umrah ini bisa jadi titik itu, sekaligus bagian dari latihan untuk shalat yang lebih baik.

Bukan dalam arti nanti di sana shalatnya otomatis jadi bagus. Justru sebaliknya, yang mau aku sampaikan ke anak-anak adalah bahwa di sana kita akan shalat lima waktu berjamaah di tempat paling mulia, berdesakan dengan ribuan orang, dalam keadaan lelah dan kurang tidur. Kalau sekarang saja pikiran masih ke mana-mana di rumah yang tenang, di sana akan lebih sulit lagi.

Jadi waktu yang tersisa ini masa latihannya. Ada targetnya, ada tanggalnya, dan ada alasan yang bisa mereka pahami.

Dan yang pertama harus naik tingkat itu aku

Kalimat Al-Ghazali tadi yang paling tidak bisa aku hindari. Anak tumbuh mengikuti kebiasaan yang dia lihat di rumah.

Jadi kalau targetnya menaikkan mereka dari tingkat kedua ke tingkat ketiga, yang harus pindah lebih dulu memang ayahnya.

Dan caranya sama saja. Bukan dengan tiba-tiba menuntut diri khusyuk sempurna, melainkan dengan satu hal kecil yang bisa dikerjakan mulai hari ini. Misalnya memperhatikan arti dari apa yang dibaca, satu bacaan dulu.

Ya Allah, jadikan aku dan anak cucuku orang yang mendirikan shalat.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *