Hari #35, 19 Oktober – Juz 19
Bismillah
Entah kebiasaan atau apa, bertahun-tahun aku kurang disiplin membaca Al-Qur’an, dan polanya itu-itu saja. Kalau ada semangat baru rutin lagi. Biasanya berawal dari pikiran, masa sih setahun tidak khatam. Lalu dikejar sampai selesai, dan setelah itu berhenti.
Ramadan hampir selalu jadi titik mulainya. Menjelang Ramadan aku kejar sampai khatam, lanjut khatam sekali lagi di bulannya, dan begitu bulan itu lewat, kendor lagi seperti semula.
Yoyo. Begitu terus bertahun-tahun.
Padahal caranya sudah bermacam-macam dicoba
Kalau diingat-ingat, sebenarnya sudah banyak cara yang aku coba.
Pernah ikut ODOJ, one day one juz, ramai-ramai di grup. Pernah pakai target sehari selembar saja supaya ringan. Pernah rutin setiap malam. Pernah juga mencoba menghafal. Dan pernah mencari berbagai cara lain supaya bisa tadabur, bukan sekadar membaca.
Semuanya jalan sebentar, lalu berhenti.
Yang sekarang malah dimulai dari menulis
Kalau tidak salah ingat, awalnya waktu liburan akhir tahun bersama keluarga ke Semarang dan Surabaya.
Tanggal 26 Desember aku mulai menulis, dan yang aku tulis kebetulan juz 26, mengikuti tanggalnya. Waktu itu benar-benar cuma menulis, tidak ada rencana apa-apa.
Tapi menulis tanpa membaca rasanya kurang afdal, jadi sekitar tanggal satu aku mulai membacanya juga. Sejak itu dua-duanya jalan bareng.
Kenapa harus dua-duanya? Aku terinspirasi oleh sebuah IG yang ngomong gini: “Apa ya yang bisa aku lakukan terus menerus setiap hari dan bermanfaat?” jawaban dia bikin postingan IG.
Boleh juga. Maka seketika, aku jadikan baca dan tulis ini hal yang sama. Rutin, setiap hari. Berat sih, tapi kalau tidak keras sedikit sama diri sendiri, pasti nanti yoyo lagi seperti tahun-tahun kemarin. Jadi anggap saja ini latihan disiplin, sekalian berharap manfaatnya.
InsyaAllah bukan cuma baca tulis, semoga mendapatkan juga keberkahan, ketakwaan, dan kebaikan buat kami sekeluarga.
Dan ternyata jalannya nyambung sendiri
Ini yang tidak aku duga. Dari dua kebiasaan sederhana itu muncul rangkaian yang terus menyambung, dan tiap tahapnya seperti menyetrum tahap berikutnya.
Awalnya cuma menulis. Lalu karena harus tahu konteks bacaan hari itu, mau tidak mau aku mengeksplorasi lebih dalam.
Buka buku tafsir, baca penjelasan ulama, cari ceramahnya di YouTube lalu disimak sambil mengerjakan hal lain. Dan ilmunya bertambah pelan-pelan, padahal tidak pernah aku rencanakan sebagai program belajar.
Mungkin ini yang disebut tadabbur. Dulu aku mencari-cari caranya, ikut ini ikut itu, dan ternyata datangnya justru lewat pintu yang tidak aku sangka, yaitu karena harus menulis.
Setrumnya tidak berhenti di situ. Karena yang dibaca itu isinya perintah dan contoh, lama-lama terasa janggal kalau cuma berhenti di kepala. Belakangan aku mulai mengamalkan lagi hal-hal yang aku baca. Hal-hal yang biasanya cuma rutin di Ramadan, seperti shalat malam, shalat sunnah, dan infak, misalnya, aku praktikkan juga lebih sering dan rutin.
Kalau ditarik dari awal, urutannya begini. Menulis mendorong membaca, membaca memunculkan penasaran, penasaran membawa ke ilmu, dan ilmu menuntut praktik. Satu tahap dikerjakan, tahap berikutnya datang hampir dengan sendirinya.
Dan aku yakin ini bukan karena tiba-tiba aku jadi bisa. Ini kebaikan Allah yang memberi dorongan dan tenaga, dan aku cuma kebagian menjalaninya. Selalu terbetik dalam hati, Ya Allah, terimalah amal ibadah kami.
Juz ini memuat keluhan Rasulullah
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
“Dan Rasul berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.” (Al-Furqan: 30)
Kata kuncinya mahjura, yang ditinggalkan atau diabaikan.
Yang diadukan dalam ayat itu sebenarnya kaum Quraisy yang menolak Al-Qur’an, bahkan sengaja ribut supaya bacaannya tidak terdengar. Tapi para ulama mengingatkan, penyakit menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjura itu bisa menimpa siapa saja, termasuk yang mengaku beriman kepadanya.
Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qur’an itu bertingkat-tingkat. Tidak mau mendengarkan dan mengimaninya, tidak mengamalkannya, tidak menjadikannya rujukan hukum, tidak mentadaburi dan memahaminya, sampai tidak menjadikannya sebagai obat.
Jadi urusannya bukan cuma membaca atau tidak membaca. Dan kalau dilihat begitu, rangkaian yang aku ceritakan tadi sebenarnya cuma naik satu tingkat ke tingkat berikutnya, dan masih jauh dari ujungnya.
Lalu apa gunanya baca dan tulis setiap hari
Pertanyaan itu sempat muncul juga di kepalaku.
Jawaban yang aku pegang sederhana. Yang penting rutin dan terus-menerus, hasilnya aku serahkan kepada Allah, karena perhitungan itu memang bukan milikku. Aku cuma mau tunduk menjalankan amalan dan berharap diterima.
Haji dan umrah itu diharapkan membuat orang lebih baik sesudahnya, dan itu yang disebut mabrur. Kalau sepulang dari sana tidak ada yang berubah, berarti tujuan utamanya belum tercapai.
Maka kebiasaan harian ini pun semestinya diukur dengan cara yang sama. Ukurannya bukan sudah berapa juz dibaca atau berapa tulisan selesai, tapi apakah yang dibaca itu mengubah cara aku bersikap. Ke istri, ke anak-anak, ke orang kantor, dan ke orang yang tidak aku kenal di jalan.
Satu ilmu, dipakai di banyak tempat
Setelah dijalani beberapa bulan, kelihatan bahwa semuanya pakai ilmu yang sama persis.
Madrasah seratus hari ini, latihan shalat di awal waktu, persiapan fisik untuk keberangkatan nanti, bahkan olahraga, semuanya bergantung pada satu hal yang itu-itu juga. Yang menentukan bukan beratnya latihan dalam satu hari, tapi apakah besok dikerjakan lagi.
Dan di ujung Al-Furqan, setelah menyebut ciri-ciri Ibadurrahman, ada doa yang pas untuk menutup.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)
Yang diminta pertama keluarga yang menyejukkan mata, lalu yang kedua dijadikan teladan bagi orang bertakwa.
Dan untuk yang kedua itu tidak ada jalan pintasnya. Orang tidak jadi teladan karena pandai bicara atau rajin menulis, tapi karena dilihat mengerjakan sesuatu terus-menerus, termasuk di hari-hari ketika sebenarnya dia sedang malas.
Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an.
Wallahu a’lam bi showab.





