Hari #34, 18 Oktober – Juz 18
Bismillah
Beberapa hari lalu aku cerita ke anak bungsuku, bahwa di Makkah nanti bukan cuma ada Masjidil Haram. Di sekitarnya banyak mal, tempat kuliner, dan tempat belanja.
Dia tertarik, dan aku memang sengaja menyebut itu.
Tapi setelah bercerita, aku jadi memikirkan hal lain. Semua tempat itu letaknya dekat masjid, dan waktunya bertabrakan dengan waktu shalat.
Kapan waktu terbaik untuk jalan-jalan
Dari pengalaman, ini perhitunganku.
Yang paling dihindari itu setelah Magrib. Jarak Magrib ke Isya pendek sekali, dan rugi kalau dipakai untuk keluar.
Setelah Asar juga sebaiknya tidak. Biasanya kita ingin mandi dulu sebelum Magrib, karena rencananya menetap di masjid sampai Isya.
Setelah Zuhur masih bisa, sekalian makan siang. Tapi harus siap, begitu mendekat Asar langsung dari mal ke masjid.
Jadi pilihan terbaikku setelah sarapan dan istirahat sebentar, sekitar jam sepuluh pagi, pas mal baru buka. Waktunya lapang, tidak terburu-buru, dan masih jauh dari Zuhur.
Kalau cuma sekadar ngopi, itu jauh lebih fleksibel. Di sana ada jaringan kopi yang orang Indonesia menyebutnya Juju. Sebenarnya namanya Barn’s, jaringan kopi Saudi yang sudah ada sejak tahun 1992. Dalam tulisan Arabnya, huruf ra dan za melengkung mirip huruf J, jadi dibaca Juju. Dan ternyata bukan cuma orang Indonesia yang salah baca.
Dua kali aku kehilangan
Pernah aku naik taksi ke Kakiyah selesai makan siang. Akibatnya Asar terlambat, dan tidak sempat berjamaah di masjid.
Sayang sekali.
Dan di umrah terakhir, aku memilih tidak ikut tur ke Thaif. Alasannya sederhana. Kalau ikut, seharian itu Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya semuanya tidak di Haram.
Buat sebagian orang mungkin keputusan itu berlebihan. Tapi kalau dihitung, satu kali shalat di sana nilainya seratus ribu kali. Empat waktu berarti empat ratus ribu. Dan kesempatan ke sana belum tentu datang lagi.
Pemandangan di lantai atas mal
Ada satu kejadian yang masih aku ingat.
Waktu itu azan Zuhur atau Asar, aku lupa persisnya, dan aku masih berada di lantai atas sebuah mal. Dari atas aku melihat ke bawah, dan di lantai bawah itu para pedagang dan pengunjung menggelar sajadah lalu shalat di situ.
Duh, payah nih.
Aku cuma bisa melihat, karena tidak siap ikut. Entah wudunya, entah pakaiannya.
Itu yang membuat aku mengerti satu hal. Alert dengan waktu shalat itu tidak cukup. Harus siap juga bajunya, dan siap wudunya.
Dan juz ini punya ayatnya
An-Nur menggambarkan orang-orang yang memakmurkan rumah Allah, lalu menyebut ciri mereka.
رِجَالٌ ۙ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ
“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.” (An-Nur: 37)
Perhatikan, yang disebut bukan orang yang tidak berdagang. Mereka tetap berdagang dan tetap berjual beli.
Yang dipuji adalah bahwa semua itu tidak melalaikan mereka.
Jadi ayat ini bukan melarang kita masuk mal, bukan melarang ngopi, dan bukan melarang jalan-jalan. Yang diatur bukan kegiatannya, melainkan apa yang kita lakukan ketika waktu shalat tiba di tengah kegiatan itu.
Dan para pedagang yang aku lihat menggelar sajadah di lantai mal itu kurang lebih gambaran nyatanya. Toko tetap dibuka, dagangan tetap dijual, tapi begitu azan terdengar semuanya berhenti.
Latihannya dari kantor
Jadi yang perlu aku latih sekarang jelas.
Di kantor, kalau bisa, jadwal rapat diatur supaya tidak menabrak waktu shalat. Kalau terpaksa menabrak, sudah tahu sejak awal bagaimana cara keluarnya.
Di mal atau di jalan, tahu di mana musala terdekat, dan tidak menunda sampai waktunya hampir habis.
Dan yang paling sering aku lupakan, siap wudunya dan siap pakaiannya. Bukan baru mencari tempat wudu setelah iqamah terdengar.
Semua itu kedengarannya sepele. Tapi kejadian di lantai atas mal tadi membuktikan bahwa kalau tidak dibiasakan, kita cuma bisa melihat orang lain shalat sementara kita berdiri menonton.
Dan nanti di sana
Kalau di Jakarta saja masih sering kalah oleh urusan, di sana akan lebih sulit lagi, karena yang menggoda bukan cuma pekerjaan melainkan juga mal, kuliner, dan tempat belanja yang letaknya persis di sebelah masjid.
Jadi jadwal jalan-jalan yang aku susun tadi itu sebenarnya bukan soal mengatur wisata. Itu cara supaya kesenangan dan ibadah tidak saling mengambil jatah.
Juz ini dibuka dengan ciri orang beriman yang beruntung, dan yang pertama disebut khusyuk dalam shalatnya. Lalu daftarnya ditutup dengan satu ciri lagi, yaitu mereka yang memelihara shalatnya.
Dibuka dengan shalat, ditutup dengan shalat. Dan di antara keduanya ada semua urusan hidup yang lain.
Wallahu a’lam bi showab.






