3 April, Juz 3
Bismillah.
Menonton genosida dari layar HD, lengkap dengan barisan pihak yang mendukungnya, membuatku bertanya-tanya sampai sekarang. Bagaimana manusia modern bisa merampas tanah, membunuh, dan menembaki relawan kemanusiaan sedingin itu, tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan sambil disorot kamera?
Untuk menjawabnya aku merasa perlu mundur jauh ke belakang. Dan Al-Qur’an memang tidak menceritakan sejarah sebagai daftar peristiwa. Yang direkam justru bagaimana sebuah penyakit tumbuh, berpindah generasi, lalu berubah bentuk.
Kalau ditarik dari awal, perjalanannya kira-kira begini.
Fondasinya kokoh di era Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tauhidnya jelas, integritasnya terjaga. Lewat Yusuf mereka bahkan mendapat posisi strategis di Mesir. Tapi bibitnya sudah kelihatan sejak di rumah, waktu saudara-saudara Yusuf tidak tahan melihat adiknya lebih disayang.
Masuk era Musa, mereka dibebaskan dari Fir’aun. Fisiknya merdeka, mentalnya belum. Yang muncul justru mental budak. Keras kepala, gemar mempersulit perintah yang sudah jelas seperti dalam kisah sapi betina, banyak menuntut, dan pengecut saat disuruh maju.
Di era Talut dan Dawud mereka naik kelas jadi kerajaan, dan penyakitnya ikut naik kelas menjadi krisis komitmen. Vokal menuntut pemimpin, mundur waktu disuruh berkorban. Ujian sungai memperlihatkan betapa rapuhnya pengendalian diri mereka.
Puncaknya di era Sulaiman. Ilmu, teknologi, dan kekuasaan berpadu dengan tauhid. Ini fase paling ideal, ketika kekuatan dunia betul-betul tunduk kepada Allah.
Lalu turun lagi. Nilai-nilai ditinggalkan, moral rusak, kerajaan pecah, dan berujung kehancuran serta pengasingan ke Babilonia.
Setelah kembali ke Palestina, mereka hidup di bawah kekuasaan bangsa lain sampai era Romawi dan Madinah. Di fase inilah penyakitnya paling rumit. Bukan lagi soal membangkang, tapi sudah masuk ke wilayah distorsi agama, elitisme, dan manipulasi syariat yang tersusun rapi. Dan Juz 3 membedah persis bagian ini.
Yang pertama dibongkar adalah standar moral ganda. Ayat 75 merekam keyakinan mereka bahwa tidak ada dosa kalau berbuat curang kepada orang di luar kelompok mereka. Psikologi menyebutnya moral disengagement, yaitu mematikan nurani supaya kejahatan terasa halal. Bedanya, di sini nuraninya tidak sekadar mati, tapi dimatikan dengan dalil. Ada bangunan teologis yang disusun untuk membenarkan penipuan, perampasan, bahkan pembunuhan. Dan Allah menutup ayat itu dengan kalimat yang menohok, mereka berdusta atas nama Allah sementara mereka tahu persis kebenarannya.
Setelah nurani, giliran teksnya yang diutak-atik. Ayat 78 menggambarkan sekelompok orang yang memutar-mutar lidah saat membaca kitab supaya orang mengira itu berasal dari Allah, padahal bukan. Ayat 93 menyinggung soal makanan yang mereka haramkan dan mereka klaim sebagai aturan langit, padahal itu berawal dari pilihan pribadi Ya’qub atas dirinya sendiri, jauh sebelum Taurat turun. Agama diubah fungsinya. Dari jalan menuju Allah menjadi alat kontrol dan legitimasi kekuasaan.
Sampai di titik ini aku sudah membayangkan solusinya bakal berupa gerakan besar. Sistemnya dirombak, elitnya diganti, kekuasaannya direbut.
Ternyata bukan itu jawaban Al-Qur’an.
Di tengah pembahasan tentang elit agama yang rusak, Allah justru menampilkan sebuah keluarga. Keluarga Imran. Semuanya bermula dari seorang ibu yang menazarkan kandungannya untuk mengabdi kepada Allah, padahal ia sendiri belum tahu bayinya akan lahir seperti apa. Yang lahir Maryam, dan Maryam dititipkan dalam asuhan Zakariya, orang yang doanya tidak pernah putus. Dari perempuan yang tumbuh dalam rumah semacam itulah kelak lahir Nabi Isa.
Peradaban yang bobrok tidak diperbaiki dari puncaknya, tapi dari unit paling kecil yang sering kita anggap remeh. Rumah.
Dan bagian ini yang membuatku diam agak lama. Karena kalau perbaikan memang dimulai dari rumah, maka semua daftar penyakit tadi jadi urusanku sendiri, bukan urusan orang di seberang layar.
Moral disengagement itu ternyata tidak perlu skala genosida untuk muncul. Cukup aku merasa wajar bersikap tidak adil kepada orang yang tidak aku sukai. Obatnya kasih sayang yang tidak pilih-pilih, dan keadilan yang tetap berlaku walaupun pihak yang dirugikan bukan kelompokku.
Mental budak juga sama. Bentuknya bukan rantai, tapi kebiasaan mengeluh panjang lebar tanpa mau bergerak. Yang perlu aku latih adalah memindahkan fokus ke hal-hal yang masih ada dalam kendaliku, bukan sibuk menyalahkan keadaan.
Yang paling halus justru manipulasi kebenaran. Ilmu dipakai untuk memenangkan perdebatan, bukan untuk menemukan yang benar. Penawarnya cuma satu, keberanian mengucap “aku salah” tanpa syarat, dan menempatkan ilmu sebagai alat melayani, bukan sebagai perhiasan.
Sisanya soal pengendalian diri, dan ini paling sering aku kalah. Emosi, makanan, kenyamanan. Ujiannya kecil-kecil, tidak ada yang menonton, dan justru di situ hasilnya paling jujur.
Kebenaran memang tidak pernah jadi milik kelompok mana pun. Ia hanya menempel pada ketaatan yang jujur dan dijalankan terus-menerus.
Wallahu a’lam.
