9 Juli · Juz 9
Ayat 27 membuka dengan peringatan tegas, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” Lalu ayat 28 menyambung, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Yang menarik, dua ayat ini ditempatkan berdampingan, seolah menjelaskan sebab-akibat. Amanah dikhianati bukan karena manusia lupa bahwa itu penting, tetapi karena ada dua hal lain yang terus menarik perhatian sehari-hari: harta dan anak, dua hal yang justru paling wajar dicintai siapa saja.
The Eisenhower Matrix dalam The Decision Book dipakai untuk memisahkan pekerjaan berdasarkan dua sumbu: mendesak dan penting. Kuadran yang paling berbahaya bukan yang mendesak dan penting, atau yang tidak mendesak dan tidak penting, tetapi kuadran mendesak tetapi tidak penting, karena kuadran inilah yang paling mudah mencuri waktu dan perhatian dari kuadran penting tetapi tidak mendesak, yang justru sering menentukan arah hidup jangka panjang.
Amanah, dalam pengertian ayat ini, umumnya jatuh di kuadran penting tetapi tidak mendesak. Tidak ada bel yang berbunyi mengingatkan, “Amanahmu sedang diuji hari ini.” Ia diam, tidak menagih perhatian, tetapi menentukan nasib besar seseorang, di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, urusan harta dan anak sering hadir dalam bentuk yang sangat mendesak: tagihan yang harus dibayar hari ini, permintaan anak yang harus dipenuhi sekarang.
Penting digarisbawahi, bukan berarti mengurus anak itu sendiri melalaikan. Justru mengurus anak dengan baik adalah bagian dari amanah itu sendiri. Yang menjadi fitnah adalah ketika tuntutan anak yang sifatnya mendesak—permintaan mainan, gawai, tuntutan gaya hidup sebaya—diam-diam menggeser waktu dan energi dari amanah yang justru lebih penting dalam pengasuhan itu sendiri: mendidik akhlak, mendengarkan cerita mereka, menanamkan nilai agama, atau sekadar hadir penuh saat bersama mereka. Seorang ayah bisa saja sangat sibuk memenuhi kebutuhan finansial anak—sekolah bagus, gawai terbaru, les tambahan—semuanya terasa mendesak dan konkret, tetapi justru kehilangan waktu untuk menanyakan kabar hatinya hari itu, atau menemaninya shalat berjamaah.
Yang membuat ayat ini lebih dalam daripada sekadar prinsip manajemen waktu, pengkhianatan amanah di sini tidak digambarkan sebagai keputusan besar yang disengaja. Ia digambarkan sebagai proses bertahap, hari demi hari kalah oleh yang mendesak, sampai pada suatu titik amanah itu sudah terkikis tanpa pernah ada momen yang jelas, “Aku memutuskan mengkhianati.”
Ayat 28 menutup dengan pengingat, harta dan anak bukan larangan untuk dicintai, tetapi fitnah—ujian—semacam pengecoh yang sengaja hadir mendesak setiap hari untuk melihat siapa yang tetap mengalokasikan ruang bagi amanah, dan siapa yang membiarkan amanah itu terus tergeser ke ujung antrean.
Menulis ini jadi bahan muhasabah yang jujur. Rasanya diri ini belum maksimal mendidik anak-anak. Masih banyak momen yang kalah oleh hal-hal yang mendesak dibanding yang benar-benar penting. Tapi ayat ini juga menutup dengan pengingat yang menenangkan, di sisi Allah-lah pahala yang besar. Bukan syarat harus sudah sempurna dulu baru dinilai, tetapi selama usaha itu terus diperbarui dengan jujur, seperti yang sedang diupayakan sekarang.
Semoga usaha yang belum maksimal ini terus diperbaiki. Semoga Allah menganugerahkan yang terbaik, anak-anak yang saleh dan salehah, bukan karena orang tuanya sudah sempurna, tetapi karena rahmat-Nya yang melampaui segala kekurangan ikhtiar manusia.
Wallahu a’lam.
