29 Desember, Juz 29
Di awal Juz 29 ada surat Al-Mulk (Kerajaan/Kekuasaan). Surat ini adalah hafalan anak-anakku di sekolah. Aku yakin anak-anak lain juga berlomba menghafalnya. Karena sering muroja’ah, aku pun ikut menghafalkan. Rasulullah menyebutkan banyak hikmah surat ini, seperti memberi syafaat, melindungi dari siksa kubur. Tapi semakin ke sini, aku merasa pesan terbesarnya justru sangat membumi. Yuk kita baca setiap malam.
Ahad kemarin, setelah tadabbur di Kota Lama Semarang, kami lanjut ke arah Yogya. Aku kembali bercerita ke anak-anak: Kota Lama adalah bukti kekuasaan Belanda. Bangunan, sistem, dan pengaruhnya pernah begitu kuat. Tapi semua itu tidak abadi. Kekuasaan selalu ada masanya.
Momen terbaik justru bukan di Kota Lama, tapi di dalam mobil, sepanjang jalan bersama anak-anak. Dari cerita Diponegoro yang sering dikecilkan hanya jadi “perang karena tanah digusur”, sampai kisah bangsa-bangsa besar di Anatolia. Lalu obrolan itu beralih ke sekolah, personal improvement, dan cita-cita mereka. Disusul masukan untuk ayah bundanya. Salah satunya sederhana, tapi menohok: ayah jangan gampang marah.
Di situ aku terdiam. Bismillah, insyaAllah bisa jadi ayah yang lebih baik lagi.
Kala tadabbur Juz 29 ini aku jadi ingat relevansi hafalan mereka, Al-Mulk. Surat ini tidak sedang bicara siapa yang paling kuat atau paling besar. Tapi siapa yang paling baik amalnya.
Allah berfirman:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
(QS Al-Mulk: 2)
Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.
Akan aku sampaikan ke anak-anakku; Nak, ilmu kalian adalah titipan. Harta, jabatan, dan apa pun yang ayah bundamu miliki adalah ujian. Tapi yang benar-benar dinilai bukan itu semua. Yang dinilai adalah amal.
Dan amal itu tidak tumbuh dari hal-hal besar. Ia tumbuh dari niat yang diluruskan berulang kali.
Dari cara kita bersikap saat capek. Dari cara kita merespons orang yang tidak menyenangkan. Dari kemampuan menahan ego ketika merasa benar. Dari empati kepada orang-orang di sekitar kita. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, bahkan saat tidak ada yang melihat.
Kita harus selalu ingat, semua perbuatan kita niatkan bismillah, hanya untuk Allah, dengan harapan menjadi tambahan catatan amal dan barokah dari Nya.
Sekali lagi, bukan soal besar atau kecilnya peran kita. Tapi soal amal.
Dengan segala keterbatasan ayah bundamu, ayah bunda akan selalu memberikan semangat dan inspirasi dalam beramal. Kita mulai dari hal kecil disekitar kita dan kita obrolkan terus-menerus untuk saling belajar. Sekali lagi, bismillah.
