Di Balik Tumpukan Emas Jampidsus: Saat Al-Qur’an Mengingatkan Bahaya Ketamakan

18 Juli · Juz 18

Ustaz menyampaikan taklimnya dengan membawa referensi dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, khususnya bagian Rub’ul Muhlikat (Seperempat Bagian tentang Hal-Hal yang Membinasakan Jiwa), pada bab Kitab Dzammil-Mal wal-Hirs wat-Thama’ (Kitab Tercelanya Harta, Ketamakan, dan Kerakusan). Pembahasan subuh ini soal ketamakan, dan ustaz menyinggung juga kasus yang sedang ramai, dugaan korupsi eks Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, dengan temuan 74 kilogram emas batangan di rumahnya, ditambah uang tunai ratusan miliar rupiah.

Yang bikin makin kesal, awalnya beredar klaim emas itu palsu, semacam upaya melunakkan kehebohan publik. Belakangan baru dikonfirmasi asli, 23 karat, sudah dicek Pegadaian. Uangnya juga asli, rupiah dicek BI, dolar dicek FBI dan Secret Service. Lalu muncul lagi drama baru soal kepemilikan, ada pihak yang mengaku itu bukan milik Febrie, tapi aset yayasan dakwah. Rasanya kita terus digiring dari satu narasi ke narasi lain, seolah publik ini bisa terus-menerus dibodohi dengan cerita yang berubah-ubah setiap kali fakta baru terkuak.

Sebagai rakyat biasa, jujur saja perasaan yang muncul itu curiga dan muak. Institusi penegak hukum yang seharusnya saling mengawasi malah terkesan saling melindungi atau saling menekan untuk kepentingan masing-masing, sementara nominal kekayaan yang terbongkar ini jauh di luar akal sehat untuk penghasilan seorang pejabat.

Risalah Al-Ghazali, Akar Ketamakan

Al-Ghazali menjelaskan ketamakan tidak muncul mendadak, tapi hasil operasi psikologis setan yang membidik insting bertahan hidup manusia lewat Khawf al-Faqr, teror ketakutan akan kefakiran. Ini dikunci dalam Al-Baqarah 268, “Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji.” Polanya, ketakutan itu memicu sifat pelit, lalu naik jadi ketamakan agresif menumpuk harta sebagai tameng rasa aman palsu.

Sebelum masuk ke langkah praktis, Al-Ghazali mensyaratkan dua perbaikan mental. Ilmu, memahami secara rasional bahwa makin banyak harta ditumpuk secara tamak, makin berat hisabnya. Sabar, daya tahan menahan dorongan instan dan godaan melihat pencapaian orang lain.

Lima langkah konkretnya, Iqtisad fil Ma’isyah, menyederhanakan tuntutan hidup harian. Ar-Rifqu fil Infaq, cermat dan proporsional mengeluarkan harta. Tarkut-Tana’um, meninggalkan gaya hidup berlebihan yang cuma casing. Al-Qana’ah bil-Maysur, mencukupkan diri pada rezeki yang jalurnya mudah dan halal. Tarkut-Tathallu’ wa Taqsirul Amal, berhenti silau pada milik orang lain, dan memendekkan angan-angan duniawi yang tak berujung.

Menyambungkan ke Bacaan Juz 18 Hari Ini

Karena hari ini bacaanku sampai di Juz 18, aku coba mencari benang merah antara risalah Al-Ghazali tadi dengan ayat yang sedang dibaca, dan ketemu di Al-Mu’minun ayat 55–56.

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Sebenarnya mereka tidak menyadari.”

Ayat ini menyindir keras orang yang mengira banyaknya harta adalah tanda Allah ridha padanya. Padahal bisa jadi sebaliknya, itu istidraj, dibiarkan berlarut-larut dalam kelalaian, sampai akhirnya terbongkar dengan cara yang memalukan seperti kasus Sentul ini, koper demi koper emas dan uang yang justru jadi bukti kejahatan, bukan kebanggaan.

The Maslow Pyramid dalam The Decision Book memetakan kebutuhan manusia berjenjang, dari yang paling dasar, fisiologis dan keamanan, sampai puncaknya, aktualisasi diri. Kesalahan orang-orang di ayat 55–56 persis di titik ini, mereka mengira pemenuhan kebutuhan tingkat bawah, harta sebagai rasa aman, otomatis berarti sudah sampai di puncak, diridhai dan dekat dengan Allah. Kasus ini jadi contoh paling telanjang, penumpukan aset sedemikian besar justru berujung pada kehinaan publik, bukan kemuliaan.

Ukuran Sukses yang Sebenarnya

Penutup dari risalah Al-Ghazali ada di hadis riwayat Muslim, “Sungguh beruntung orang yang berserah diri, dianugerahi rezeki yang cukup untuk kebutuhan, dan dikaruniai qana’ah oleh Allah atas apa yang diberikan-Nya.” Ukuran sukses bukan besarnya tumpukan harta, tapi kelapangan hati menerima kadar yang diberikan. Cepat atau lambat, siapapun yang terlibat kasus semacam ini akan dimintai pertanggungjawaban, entah lewat proses hukum di dunia yang kita harap tidak berhenti di tengah jalan, atau lewat hisab di akhirat yang tidak bisa direkayasa siapa pun, sekuat apa pun koneksi dan kekuasaan yang dimiliki.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News