Orang Kaya Butuh Orang Miskin, Bukan Sebaliknya: Hakikat Sedekah di Juz 28

Juz 28, 28 Februari.

Bismillah.

Hari ini kita memasuki hari ke-10 Ramadhan. Dalam banyak kajian Ramadhan, para ulama sering membagi bulan mulia ini menjadi tiga fase: sepuluh hari pertama sebagai fase rahmat, sepuluh hari kedua sebagai fase maghfirah, dan sepuluh hari terakhir sebagai fase pembebasan dari neraka. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk melalui setiap fasenya dengan iman yang terjaga.

Semoga lebih semangat, lebih kuat, dimudahkan, dan diterima oleh Allah SWT.

Tadi malam, di masjid dekat rumah tinggal, Masjid Baitul Hakim, khutbah singkat ba’da taraweh disampaikan oleh guru kami Ustadz Prof. DR. Ahmad Satori Ismail, MA, dan topik yang beliau bedah tuntas malam tadi adalah tentang infak. Dalil yang beliau angkat ternyata berada tepat di dalam Juz 28 yang jadwalnya kubaca hari ini. Pas banget, melengkapi bahasan tiga pilar amalan di Ramadhan ini: Al-Quran (di Juz 27), Shalat malam (di Juz 26), dan kini ditutup sempurna dengan Infak di Juz 28.

Sebelum lebih lanjut, juz 28 berisi kumpulan surat-surat Madaniyah, mulai dari Al-Mujadilah hingga At-Tahrim. Pembahasannya sangat lekat dengan kehidupan sosial, adab bermajelis, ujian keimanan, hingga peringatan tentang sifat kemunafikan. Dan salah satu teguran terkeras di juz ini ada pada Surat Al-Munafiqun ayat 10, yang dibahas oleh Ustadz Ahmad Satori semalam: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'”

Para ulama tafsir menyoroti firman Allah, ketika seseorang dijemput kematian, ia tidak meminta dihidupkan kembali untuk shalat tahajud atau umrah, apalagi untuk makan enak. Yang ia minta hanya satu: tambahan waktu untuk bersedekah. Kenapa? Karena saat tabir akhirat dibuka, orang tersebut melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa masif dan dahsyatnya bentuk pahala sedekah yang selama di dunia ia abaikan.

Dalam penjelasannya semalam, Ustadz Ahmad Satori memaparkan bahwa sedekah itu bukan sekadar aksi sosial, melainkan as-sadaqatu burhan. Sedekah adalah bukti mutlak keimanan. Bukti bahwa kita lebih percaya pada janji Allah daripada saldo rekening kita sendiri.

Lebih jauh lagi, Ustadz Ahmad Satori memaparkan sebuah pemikiran yang benar-benar membalik logika kita. Selama ini, kita sering terjebak pada pandangan umum bahwa ‘si miskin butuh si kaya’. Saat memberi, ada anggapan bahwa aku sedang membantu mereka.

Padahal, dalam perspektif spiritual yang lebih dalam, justru si kaya-lah yang sangat membutuhkan kehadiran si miskin sebagai ‘jembatan’ untuk membersihkan hartanya, menggugurkan dosa, dan meraih ridha Allah. Orang miskin sebenarnya rejekinya sudah dijamin oleh Allah, kita hanya jadi perantara. Kitalah yang butuh mereka sebagai sarana meraih rahmat-Nya.

Selain membersihkan harta, Ustadz Ahmad Satori juga memaparkan sebuah konsep luar biasa tentang Spiritual Agility atau kelincahan spiritual. Sedekah bukan sekadar pengeluaran, melainkan strategi jitu agar kita lincah dan ringan saat melewati pengadilan akhirat.

Beliau mengutip doa Rasulullah SAW yang terkenal: Allahummajalni miskinan, wa amitni miskinan, wahsyurni ma zumratil masakin (Ya Allah, jadikanlah aku hidup dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan tersebut, dan bangkitkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin).

Permohonan miskin di sini bukanlah doa meminta kemelaratan atau kekurangan materi, melainkan sebuah pilihan strategis. Ia adalah doa meminta tawadhu atau miskin hati di hadapan Allah, sekaligus strategi untuk memiliki aset yang ringan di dunia. Semakin sedikit harta dunia yang kita timbun, semakin mempermudah dan mempercepat proses Hisab (Perhitungan Amal) di akhirat nanti.

Lalu, bagaimana implementasi praktisnya buatku?

Yaitu dengan mengubah fungsi diriku dari sekadar “tandon penampung” menjadi “pipa saluran”. Saat rezeki dunia dititipkan di tangan, jangan biarkan ia mengendap terlalu lama menjadi beban hisab yang berat. Segera alirkan dan distribusikan kembali melalui infak dan sedekah. Dengan memperkokoh sedekah, sejatinya kita sedang meringankan beban hisab kita sendiri dan membuka pintu rida Allah secara lebih luas.

Memasuki sepuluh hari kedua Ramadhan ini, semoga tiga pilar ibadah Ramadhan kita bisa terus ku tegakan. Al-Quran terus dibaca, shalat dijaga, dan infak terus dialirkan tanpa menunggu penyesalan di ambang maut. Menyisihkan harta bukan karena dermawan, tapi karena sangat fakir akan rahmat Allah, dan kelak ingin bisa berlari lincah melewati hisab-Nya.

Wallahu alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News