Tanggal 17 Januari, Juz 17
Di juz 17 terdapat lanjutan Surat Al-Anbiya dan masuk ke Surat Al-Hajj. Namun kembali saya ijin mundur sejenak ke juz 16. Karena tanggal 16 Januari kemarin bertepatan dengan hari yang ditetapkan pemerintah sebagai peringatan Isra Mi’raj.
Sebagian orang menganggap kemarin hari libur panjang heboh seperti biasa. Tapi Isra Mi’raj bukan peristiwa biasa. Itu adalah undangan langsung dari Allah kepada Nabi-Nya, di saat Nabi sedang berada pada titik paling berat sebagai manusia.
Di Juz 12 kita sudah membahas bagaimana Allah menghibur Nabi dengan Surat Yusuf. Diturunkan setelah tahun kesedihan. Setelah Khadijah wafat, Abu Thalib tiada, dakwah ditolak, dan Nabi terluka di Thaif.
Tidak cukup dengan kisah terbaik Nabi Yusuf, datanglah undangan untuk Isra Mi’raj.
Allah mengundang Nabi, memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, mempertemukan Nabi dengan para nabi sebelumnya, dan mengangkat Nabi ke tempat yang tidak pernah dijangkau manusia.
Salah satu hadiah terbesar dari peristiwa Mi’raj adalah shalat. Dan salah satu bagian dalam shalat yang diriwayatkan secara khusus oleh para sahabat adalah bacaan tahiyyat, bacaan yang diajarkan langsung kepada Nabi sebagai adab dialog di hadapan Allah.
Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat ke langit ketujuh dan sampai ke Sidratul Muntaha, beliau menyaksikan keagungan Allah yang tak terlukiskan. Di saat itulah, terjadi sebuah dialog agung yang kemudian diajarkan Allah kepada Nabi sebagai bacaan dalam shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh para sahabat dan dipahami para ulama sebagai bagian dari pengalaman Mi’raj.
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Segala penghormatan, keberkahan, shalat, dan kebaikan adalah milik Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud menceritakan asal-usul bacaan ini.
Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Ketika aku sedang shalat, datang Jibril lalu berkata,
‘Katakanlah,
AT-TAHIYYAATU LILLAAHI WAS-SHALAWAATU WAT-THAYYIBAATU.’”
Kemudian Allah SWT berfirman,
“AS-SALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH.”
Maka Nabi pun menjawab,
“AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN.”
Ibnu Mas‘ud berkata, “Jika kalian mengucapkan salam tersebut, maka salam itu akan sampai kepada setiap hamba Allah yang shaleh di langit dan di bumi.”
Kemudian Nabi melanjutkan,
“ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH.”
Para ulama menjelaskan runtutan dialog ini sebagai berikut.
Pertama, dari Jibril atas perintah Allah.
“At-tahiyyaatu lillaahi…”
Ini adalah pengajaran dari langit, bagaimana memulai dialog dengan Allah. Semua bentuk pemuliaan, ibadah, dan kebaikan dikembalikan hanya kepada Allah. Ini adalah tauhid murni.
Kedua, sambutan langsung dari Allah SWT.
“As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu…”
Ini adalah salam, rahmat, dan keberkahan dari Allah kepada Nabi-Nya. Sebuah pemuliaan tertinggi kepada hamba pilihan-Nya.
Ketiga, jawaban Nabi Muhammad SAW.
“As-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiin.”
Nabi tidak membalas salam hanya untuk dirinya. Beliau mengajak serta seluruh hamba Allah yang shaleh di langit dan di bumi. Sebuah sikap tawadhu dan keumatan.
Keempat, kesaksian tauhid dan kenabian.
“Asyhadu an laa ilaaha illallaah…”
Setelah menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah, Nabi mengikrarkan kesaksian dengan keyakinan penuh yang mencapai tingkat ‘ainul yaqin atas kebenaran risalah.
Dan yang paling istimewa, bacaan ini diajarkan Nabi sebagai bacaan tasyahud dalam shalat. Maka setiap kali kita duduk tasyahud, sebenarnya kita sedang:
– mengulang adab dialog langit yang diajarkan kepada Nabi,
– berdialog dengan Allah dengan tata cara yang Allah sendiri tetapkan,
– mendapatkan limpahan salam yang mencakup para hamba Allah yang shaleh,
– dan memperbarui kesaksian tauhid serta kenabian Muhammad SAW.
Dan tentu saja, bacaan tasyahud bukan satu-satunya keistimewaan shalat. Masih banyak rahasia dan kedalaman shalat yang bisa kita dalami, insyaAllah lain waktu kita bahas.
Sebagai penutup, Isra dan Mi’raj membawa hadiah terbesar bagi umat Nabi Muhammad, yaitu shalat. Bukan sebagai beban, tapi sebagai penguat jiwa.
Wallahu a’lam.

