Juz 15 dibuka dengan Surat Al-Isra’. Dan ayat pertamanya bicara tentang perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam satu malam.
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Isra’: 1)
Perhatikan satu kata: diperjalankan.
Bukan “beliau pergi”. Bukan “beliau berangkat”. Tapi diperjalankan. Yang melakukan adalah Allah, dan Nabi adalah yang dibawa.
Apa maksudnya?
Kalau seseorang pergi, berarti dia yang memutuskan, dia yang menyiapkan, dia yang menentukan kapan berangkat. Kalau seseorang diperjalankan, berarti ada yang membawanya, dan waktunya bukan dia yang tentukan.
Perjalanan paling luar biasa dalam sejarah manusia ternyata tidak dimulai dari keputusan manusia.
Kita sering menyebutnya “dipanggil”
Di masyarakat kita, kalimat itu sudah biasa terdengar. Belum dipanggil, jadi belum bisa haji. Belum dipanggil, jadi umrahnya tertunda terus.
Kadang kalimat itu terdengar seperti alasan. Tapi kalau dibaca dari ayat tadi, sebenarnya kalimat itu tepat sekali.
Aku punya cerita sendiri.
Tahun 2016, aku sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan baru, setelah sebelumnya jatuh bangun. Waktu itu aku belum daftar haji. Umrah sama sekali tidak terpikir. Kepingin, tentu saja. Tapi tabungan tidak kunjung cukup, selalu saja ada yang harus ditutup lebih dulu. Aku dan istri sama-sama diam soal itu, masih sibuk dengan urusan masing-masing.
Lalu qadarullah, masuk pesan dari adikku, Dini, di grup keluarga. Dia menawarkan satu jatah umrah kepada kakak dan adik-adiknya — hadiah doorprize dari sebuah pernikahan. Jatahnya tidak bisa dia pakai sendiri karena cuma satu tiket, sedangkan dia ingin berangkat bersama suaminya, Hendrik.
Tanpa pikir panjang, aku ambil.
Dan akhirnya aku berangkat umrah. Sesuatu yang beberapa bulan sebelumnya tidak ada sama sekali di kepalaku.
Apakah itu panggilan?
Aku tidak berani memastikan. Tapi ada beberapa hal yang aku tahu pasti.
Aku tahu pasti itu bukan karena tabunganku cukup, karena memang tidak cukup. Bukan karena aku sudah merencanakannya, karena sama sekali tidak ada rencananya. Bukan karena aku sedang lebih rajin beribadah daripada orang lain, karena waktu itu justru aku sedang paling sibuk dengan dunia.
Jalannya datang dari arah yang tidak pernah aku perhitungkan. Lewat adik perempuanku. Lewat sebuah pernikahan yang bahkan bukan acaraku. Lewat doorprize.
Kalau ada satu hal yang aku ambil dari kejadian itu, ini: aku tidak pergi ke sana. Aku diberangkatkan ke sana.
Dan itu persis kata yang dipakai di ayat pertama juz ini.
Tiga hal kecil di ayat itu
Ada beberapa hal di Al-Isra’ ayat 1 yang gampang terlewat kalau dibaca cepat.
Ayatnya dibuka dengan memuji Allah, bukan langsung bercerita. “Mahasuci Dia” dulu, baru kisahnya. Seperti diberi tahu di awal: peristiwa ini di luar jangkauan akal, jadi jangan habiskan waktu bertanya bagaimana caranya.
Nabi disebut “hamba-Nya”, bukan namanya, bukan gelar kenabiannya. Di saat paling dimuliakan, justru sebutan paling sederhana yang dipakai. Ini pelajaran untuk siapa saja yang pernah diberi kesempatan yang orang lain belum dapat: makin tinggi diangkat, makin harus ingat kita ini siapa.
Yang diperlihatkan cuma sebagian. Bukan semuanya. Perjalanan sehebat itu pun tidak memperlihatkan segalanya. Jadi jangan berharap satu perjalanan akan menjelaskan seluruh hidup kita.
Lalu apa bagian kita?
Kalau semuanya sudah diatur, apa yang jadi tugas kita? Masih di surat yang sama, ada jawabannya.
وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا
“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Al-Isra’: 19)
Kata “berusaha” di ayat ini, dalam bahasa aslinya, satu akar dengan kata sa’i — lari-lari kecil antara Safa dan Marwah.
Ada tiga syarat, urutannya tidak bisa dibalik. Ada yang diinginkan. Ada usaha ke arah itu. Ada iman di belakangnya. Kalau cuma ingin tanpa usaha, itu berangan-angan. Kalau usaha tanpa iman, capeknya ada tapi tidak dicatat.
Dan ujung ayatnya bukan “usahanya berhasil”, melainkan “usahanya diterima dengan baik”.
Ini yang melegakan. Hasil memang bukan wewenang kita. Bunda Hajar lari tujuh kali bolak-balik dan tidak menemukan apa pun di kedua bukit itu. Airnya justru keluar di tempat yang tidak dia datangi. Usahanya tetap dicatat, bahkan diulang jutaan orang sampai hari ini.
Jadi bagian kita bukan memastikan berangkat. Bagian kita adalah berusaha ke arah itu — menabung, mendaftar, belajar ilmunya, membereskan urusan yang perlu dibereskan — lalu menyerahkan keputusannya kepada Yang Memanggil.
Minta dimudahkan masuk, minta dijaga waktu keluar
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'” (Al-Isra’: 80)
Yang diminta bukan sekadar dimasukkan dan dikeluarkan, tapi caranya.
Kita biasanya cuma berdoa untuk yang pertama. Semoga dimudahkan berangkat, semoga dibukakan jalan. Jarang sekali kita berdoa supaya dijaga waktu pulang.
Padahal di situ banyak yang tergelincir. Masuk dengan niat bersih, pulang membawa hal yang tidak diniatkan di awal: merasa lebih baik dari orang lain, merasa punya cerita untuk diceritakan, merasa sudah selesai.
Untuk madrasah seratus hari ini pun doanya sama. Semoga aku masuk hari ini dengan niat belajar, dan keluar di hari keseratus dengan niat yang masih sama — bukan berubah jadi bangga karena berhasil menyelesaikannya.
Dan besok bukan milik kita
وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا ۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi,’ kecuali dengan mengatakan, ‘InsyaAllah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila kamu lupa.” (Al-Kahf: 23–24)
Ayat ini masih di juz yang sama, letaknya di tengah kisah Ashabul Kahfi — pemuda-pemuda yang tertidur ratusan tahun di gua lalu mengira baru tidur sehari. Kisah tentang waktu yang sepenuhnya di luar kendali manusia.
Teguran ini turun kepada Nabi sendiri. Beliau pernah ditanya sesuatu dan menjawab akan dijawab besok, tanpa mengucap insyaAllah, lalu wahyunya tertahan beberapa hari.
Kalau untuk urusan sepenting itu saja perlu insyaAllah, apalagi rencana kita.
Tapi jangan lewatkan kalimat berikutnya: ingatlah Tuhanmu apabila kamu lupa. Ada jalan pulang bagi yang lalai. Teguran di kalimat sebelumnya langsung diikuti kelonggaran.
Yang aku bawa di hari pertama
Juz 15 menyusun tiga hal berurutan. Ada yang memberangkatkan, dan itu bukan kita. Tugas kita cuma di tengah — punya tujuan, berusaha sepantasnya, menjaga imannya. Sisanya, termasuk hasil dan hari esok, bukan urusan kita.
Tahun 2016 aku tidak punya rencana, tidak punya tabungan, dan tidak punya bayangan sama sekali. Yang aku punya cuma keinginan yang dipendam. Lalu jalannya datang lewat pintu yang tidak pernah aku lihat.
Hari pertama dari seratus, dan yang aku bawa cuma satu kalimat: bukan aku yang pergi, aku diperjalankan.










