Dulu Aku Kira Cuma Belajar Jualan Emas, Ternyata Bapak Mengajariku Kejujuran

15 Maret, Juz 15

Bismillah.

Pagi tadi ketika melangkah berangkat ke masjid, tiba-tiba ingatanku melayang ke masa SMA, ke memori bersama bapakku rahimahullah.

Momen 10 hari terakhir bulan Ramadhan di keluargaku selalu punya dua sisi kebersamaan yang khas. Malam harinya momen kebersamaan untuk qiyamullail, siang harinya momen prepegan. Bagi orang Jawa, prepegan adalah masa sibuk di hari-hari akhir Ramadhan di mana pasar tumpah ruah oleh pengunjung yang berbelanja baju baru, makanan, sampai perhiasan untuk Lebaran.

Di masa itu, kami, tiga atau empat anak dari total 10 bersaudara, selalu didaulat turun ke pasar, membantu bapak dan ibu menjaga toko emas melayani pembeli.

Di sanalah aku melatih keberanianku melayani para langganan, kebanyakan ibu-ibu, yang super sibuk memilah dan memilih model perhiasan. Seingatku, kala itu harga emas masih di kisaran 23 ribu rupiah per gram, sekitar tahun 1992-an. Jauh sekali dibandingkan harga sekarang yang sudah menyentuh 3 juta per gram!

Ilmu melayani dan berhitungku benar-benar diuji. Aku harus memutar otak merangkai bahasa kromo inggil untuk melayani ibu-ibu yang sangat detail membanding-bandingkan model kalung, cincin, gelang atau liontin. Belum lagi urusan menghitung cepat. Misalnya ada kalung seberat 5,75 gram, aku harus secepat kilat mengalikan 23.000 x 5,75 gram. Pakai kalkulator? Wah, itu namanya cemen, walau akhirnya harus. Tapi beda dengan ibuku yang sudah seperti kalkulator berjalan.

Alhasil, aku sering diketawain karena salah ucap bahasa kromo, lama menghitung, atau gagap melakukan closing padahal antrean pembeli sudah mengular.

Sore hari disibukkan menata kembali etalase, menghitung stok, dan menata uang. Dulu tidak ada kartu debet, apalagi qris.

Lelah rasanya, tapi momen kebersamaan 10 hari terakhir bersama bapak dan ibu rahimahumallah itu kini jadi kepingan kenangan yang sangat istimewa.

Semoga Allah mengampuni dosa kami dan dosa bapak ibu, dan semoga Allah menyayangi mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Doa yang baru saja kuucapkan tadi ternyata bisa ditemukan di Juz 15, tepatnya di pertengahan Surah Al-Isra. Di sinilah letak ayat-ayat agung tentang berbakti kepada orang tua, yang kalau dibaca berurutan (ayat 23-35), membentuk apa yang ulama sebut sebagai “Rujukan Moral Keluarga Qur’ani”.

Al-Qur’an ternyata membangun kurikulum rumah tangga lewat delapan anak tangga yang kokoh.

  1. Tauhid sebagai fondasi (ayat 23). “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…” Keluarga yang benar selalu dimulai dari tauhid, dan langsung disandingkan dengan birrul walidain.

  2. Standar adab tertinggi (ayat 23). “…janganlah engkau mengatakan kepada mereka perkataan ‘uff’ (ah) dan jangan membentak mereka.” Bahkan kata keluhan terkecil pun dilarang keras.

  3. Kerendahan hati dan doa (ayat 24). “Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'” Inilah doa terindah yang memotret kenangan masa kecilku bersama orang tua.

  4. Tanggung jawab kepada kerabat (ayat 26). “Berikanlah kepada kerabat haknya, juga kepada orang miskin dan musafir…” Keluarga bukan cuma ayah, ibu, dan anak, tapi peduli pada keluarga besar dan sesama.

  5. Larangan boros (ayat 27). “Sesungguhnya para pemboros adalah saudara-saudara setan.” Ini manajemen keuangan keluarga, mengatur mana kebutuhan dan keinginan.

  6. Melindungi masa depan anak (ayat 31). “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin…” Di zaman modern, menelantarkan pendidikan dan kasih sayang anak adalah bentuk “pembunuhan” masa depan mereka.

  7. Menjaga kehormatan (ayat 32). “Janganlah kalian mendekati zina…” Karena perbuatan ini bom waktu yang akan menghancurkan struktur dan nasab keluarga.

  8. Integritas dan keadilan ekonomi (ayat 35). “Sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar…”

Dulu aku hanya sibuk menghitung gram emas. Hari ini aku baru sadar, mungkin bapak sedang mengajariku sesuatu yang jauh lebih berharga: kejujuran.

Kejujuran ekonomi orang tua insyaAllah jadi rezeki halal yang mengalir menjadi daging anak-anaknya.

Merenungi Juz 15 hari ini mengingatkanku kalau inti keluarga Qur’ani bukan sekadar tumpukan aturan hidup, melainkan kehangatan hubungan, kejujuran, dan kasih sayang yang membekas sampai anak-anak itu menua. Seperti kenangan prepegan di toko emas itu.

Aku kangen Bapak-Ibuku.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News