11 Februari, Juz 11

Hari ini masuk Juz 11 (Surat Yunus). Di dalamnya ada perintah penting kepada Nabi Musa dan Harun: قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَٱسْتَقِيمَا “Allah berfirman: Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus (istiqamah)…” (QS. Yunus: 89)

Ayat ini mengajarkan bahwa istiqamah bukan sekadar “menunggu hasil”, tapi menjaga kualitas diri dalam proses panjang tersebut. Istiqamah bukan pula repetisi yang itu-itu saja, tapi pengulangan yang disertai peningkatan kualitas.

Ayat di atas adalah tentang doa Nabi Musa agar Allah memberi hukuman kepada Fir’aun. Para ahli tafsir menyebutkan ada rentang waktu panjang antara doa itu dan kehancuran Fir’aun. Sebagian riwayat menyebut hingga puluhan tahun.

Menariknya, Allah berfirman, “Doa kalian sudah dikabulkan,” lalu dilanjutkan dengan perintah, “Maka tetaplah istiqamah.” Seakan-akan Allah mengajarkan kalau pun dikabulkan bukan berarti selesai. Justru setelah dikabulkan, kamu harus tetap lurus. Jawaban doa bukan akhir perjuangan. Ia bisa jadi awal fase yang lebih berat dan lebih panjang.

Kembali ke topik konsistensi, aku jadi merenung mengingat perjalanan hobiku. Sekilas terlihat berubah-ubah. Mulai dari sepeda santai, sepeda lipat, MTB, lalu road bike (sampai gila-gilaan tembus Audax 400km!). Lalu pindah ke lari, dari nol sampai bisa berkali-kali half marathon, dengan izin Allah. Dan sekarang, aku rutin angkat beban.

Buatku, konsistensi adalah evolusi, bukan stagnasi. Aku ingin memastikan konsistensiku berbuah pengembangan diri.

Saat gila-gilaan di sepeda dan lari (endurance), aku sadar ada risiko besar. Dulu angka dan medali yang aku kejar. Berapa KM, event di mana, dan foto-foto yang selalu kepikiran. Tapi tubuh mulai memberi sinyal. Ada bagian yang terasa tidak seimbang. Ada potensi cedera jika terus memaksakan pola yang sama.

Apa yang harus diperbaiki? Aku menyimpulkan, prioritas utamaku adalah menjaga seluruh bagian tubuh tetap terlatih. Bukan hanya kardio, bukan hanya lower body, tapi semua otot. Supaya tetap perform, tidak menyusut karena usia, dan tidak mengundang cedera.

Latihan beban bagiku adalah soal keseimbangan dan detail. Melatih tubuh agar kuat menopang aktivitas, supaya “kendaraan ibadah” ini tetap awet dan nyaman dipakai sampai tua nanti, insyaAllah.

Inilah yang kusebut konsistensi yang menambah kualitas.

Pola ini persis seperti kehidupanku sebagai Muslim. Aku sudah dididik disiplin shalat 5 waktu sejak kecil. Puluhan tahun sujud. Secara kuantitas, aku konsisten, minimal 17 rakaat perhari. Jam terbangku tinggi.

Tapi pertanyaannya, apakah shalatku semakin membaik dari waktu ke waktu? Atau tubuhku yang bergerak, sementara hatiku belum benar-benar hadir?

Seperti hobi tadi, ibadah pun butuh evolusi. Jangan sampai aku hanya konsisten shalat sekadar menggugurkan kewajiban, tapi tidak ada peningkatan rasa takut dan harap kepada Allah.

Istiqamah bukan jalan di tempat. Istiqamah adalah bergerak naik menuju ihsan. Hal yang sama berlaku untuk puasa, infak, dan ibadah lainnya.

Ramadhan nanti adalah ujian konsistensi sekaligus kualitas. Puasa bukan cuma soal konsisten menahan lapar. Tapi bagaimana kualitas puasa itu meningkat, yaitu lisan lebih terjaga, hati lebih bersih, pikiran lebih jernih.

Di Juz 11 ini, mari upgrade definisi istiqamah. Dari sekadar rutin mengerjakan, menjadi rutin menyempurnakan. Supaya nanti saat finish Ramadhan, tidak hanya membawa lelah, tapi membawa versi diri yang lebih matang.

Ya Allah, aku memang belum finish full marathon, belum juga in-shape, masih jauh dari baik kualitas shalatku, namun dengan ikhtiar yang konsisten, berusaha naik kelas, semoga Engkau jadikan aku lebih sehat, lebih shaleh dan lebih berkualitas, Amiin.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News