10 Maret, Juz 10
Bismillah.
Hari ini puasa genap berumur 20 hari. Sore ini, insyaAllah aku akan melangkah masuk ke fase sepertiga akhir Ramadhan, gerbang menuju malam-malam ganjil. Biasanya di titik ini masjid-masjid mulai penuh oleh mereka yang berniat i’tikaf.
Aku mengacu ke penjelasan Ustadz Firanda Andirja soal apa sebenarnya hakikat i’tikaf itu.
Mengutip Ibnu Rajab, Ustadz Firanda menjelaskan hakikat i’tikaf adalah Qath’ul ‘Alaiq, memutuskan segala relasi dengan makhluk dan dunia, demi menyambung koneksi sepenuhnya hanya dengan Allah.
I’tikaf jadi latihan untuk bersendiri (berkhalwat) dengan Allah, karena kelak aku akan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di alam barzah daripada saat kumpul bersama manusia di dunia.
Realitas i’tikaf sekarang, kata Ustadz Firanda, jauh dari itu. Alih-alih melatih kesendirian, sering ada yang datang ke masjid bawa makanan, ngobrol kesana-kemari, seakan-akan “warung kopi pindah ke masjid”.
Lebih parah lagi, i’tikaf sering kehilangan keikhlasannya karena sibuk mengumumkan keberadaan. Tangan gatal pegang HP, menulis update status: “Lagi i’tikaf nih, jangan diganggu”. Alih-alih menangis dalam kesunyian dan pura-pura tidak kenal dengan orang di sebelah, malah mencari panggung validasi manusia.
Juz 10 diawali ayat yang mengatur pembagian ghonimah (rampasan perang) di Surat Al-Anfal 41. Ayat ini turun untuk menertibkan kaum muslimin tepat setelah kemenangan besar di Perang Badar. Saat itu muncul euforia, perasaan saling bangga dan merasa paling berjasa atas kemenangan. Allah seketika menekan tombol “reset” dengan menegaskan bahwa kemenangan dan harta rampasan itu mutlak milik Allah dan Rasul-Nya, bukan karena kehebatan manusia.
Penyakit hati di Perang Badar itu rupanya menular ke tenda-tenda i’tikaf. Begitu berhasil masuk ke 10 malam terakhir dan sanggup berdiam di masjid, diam-diam muncul “euforia kemenangan” di dalam dada. Merasa bangga, merasa sholeh, akhirnya pamer status di media sosial. Lupa bahwa kemampuan melangkah ke masjid malam ini semata-mata karena taufik dari Allah, bukan kehebatan pribadi.
Juz 10 mengingatkan lagi tentang tolok ukur iman yang sejati. Di Surat Al-Anfal ayat 2, Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka (wajilat qulubuhum)…”
Orang yang hatinya bergetar tidak butuh status WhatsApp. Tidak butuh pengakuan followers. Mereka cuma butuh sudut sepi di dalam masjid untuk meratapi dosanya.
Maka malam ini aku harus mengubah caraku. Matikan HP. Tutup obrolan warung kopi di teras masjid. Aku harus melatih diri untuk bahagia dalam kesendirian bersama Allah. Jangan biarkan euforia pamer ibadah merampok pahala Lailatul Qadar.
Semoga Allah mengaruniakanku hati yang wajilat qulubuhum dalam kesenyapan i’tikaf.
Wallahu a’lam.
